
Sepanjang perjalanan pulang, Rayn dan Lusia tidak melepaskan genggaman tangan keduanya, meskipun hal ini membuat Rayn harus mengemudi dengan satu tangan. Lusia menyandarkan kepalanya di bahu Rayn yang sedang mengemudi.
"Sangat nyaman" ucapnya tersenyum lalu memejamkan matanya merasakan kenyamanan itu dari Rayn.
Belum sampai di Villa utama, Rayn sudah menghentikan mobilnya tepat di depan jalan setapak menuju Dervilia. Lusia menatap Rayn dengan wajah penuh tanya, kenapa dia harus menghentikan kendaraanya. Rayn hanya menjawab dengan senyum lalu berkata jika ada sesuatu yang ingin dirinya tunjukkan kepada Lusia di Dervilia.
Rayn lebih dahulu turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil Lusia. Bahkan ia juga membantu Lusia yang menunggunya dengan manja untuk melepas seatbelt . Rayn pun lalu menggandeng tangan Lusia turun dari mobil.
"Sesuatu yang ingin kau tunjukkan kepadaku? Malam-malam begini?" tanya Lusia penasaran tetapi ia tetap terus mengikuti langkah Rayn yang menggandengnya memasuki kawasan Dervilia.
Mata Lusia seketika tercengang, ia dibuat takjub setelah melihat lampu-lampu LED yang menghiasi setiap pohon dengan indah dan juga penerangan yang lebih terang dari sebelumnya. Sungguh sangat berbeda dari terakhir kali dirinya datang ke Dervilia. Jika sebelumnya Lusia selalu harus dibuat merinding akan suasana horor untuk datang ke Dervilia dimalam hari, namun kini keindahan yang ada di depan matanya pastinya juga mampu membuat siapapun betah dan jatuh cinta berada di sana.
"Waahh... Apa kau ingin menyulap tempat ini menjadi negeri dongeng?" tanya Lusia masih sembari berjalan mengikuti langkah Rayn dan menikmati pemandangan yang ia lewati.
Entah sejak kapan Rayn mulai menyulap tempat ini menjadi lebih indah. Keduanya terus berjalan melewati pepohonan hingga akhirnya hampir sampai di halaman utama Darvilia. Dari kejauhan sudah terlihat Villa pribadi yang juga menjadi tempat privasi Rayn, yaitu Dervilia. Sebuah Villa mewah ditengah hutan yang Rayn bangun khusus untuk menyimpan dan mengenang semua karya lukis ibunda tercintanya.
Mereka telah sampai di Dervilia, Rayn membawa Lusia ke ruang utama yang selalu dipenuhi dengan deretan karya lukisan peninggalan mendiang Ny. Angelina yang tersusun rapi. Namun, diantara lukisan yang ada di sana ada satu lukisan yang masih tertutup kain putih.
__ADS_1
Rayn meminta Lusia untuk membukanya, Lusia terkejut dan terharu melihat sebuah maha karya Rayn yang luar biasa. Sebuah lukisan seorang wanita berparas cantik dengan senyum yang begitu anggun dan menawan. Wanita itu tidak lain adalah dirinya. Rayn telah menyelesaikan lukisan dirinya yang sebelumnya belum terselesaikan.
Tanpa Lusia ketahui jika lukisan itu adalah karya pertama Rayn dimana dia menggunakan objek manusia dalam goresan mahakaryanya. Bahkan hingga saat ini Lusia masih belum tahu jika Rayn adalah pelukis dengan nama pena Loutus yang sangat ia kagumi.
Lusia pun terdiam, memandang takjub lukisan Rayn. "Kau menyukainya?" tanya Rayn sembari memeluk Lusia dari belakang. Ia mendaratkan dagunya pada bahu Lusia dengan manja.
"Ini sungguh indah dan sangat cantik Rayn" jawab Lusia masih tidak melepaskan tatapannya pada lukisan.
Lusia lalu berbalik memandang Rayn yang kini berdiri tepat dihadapannya. "Aku sangat menyukainya, sungguh saaangggggat menyukainya. Terima kasih Rayn" ucap Lusia mengurai senyum lalu mendaratkan sebuah kecupan dibibir Rayn.
Rayn membulatkan matanya ketika sebuah kecupan manis bibir Lusia menyentuhnya. Rayn tersenyum, ia sangat bahagia melihat Lusia sangat menyukai karya yang secara khusus dirinya buat untuk sang istri. Ryan meraih tengku dagu Lusia lalu membalas ciuman singkat dari istrinya dengan ciuman yang penuh dengan ketulusan. Sebuah ciuman yang tidak Rayn lepaskan dan terus berlangsung hingga membawa keduanya masuk ke dalam kamar utama Dervilia.
Keduanya saling menatap, menatap wajah yang saling dirindukan. Rayn merasakan jantungnya berdebar begitu kencang mendengar ungkapan cinta dari istrinya.
"Ini bukan ungkapan cinta yang pertama ku dengar darimu, tapi kenapa aku masih selalu saja merasa gugup dan berdebar mendengarnya" ucap Rayn lirih.
"Me too, aku juga mencintaimu Lusia. Sangat mencintaimu dan aku pastikan jika cinta yang kumiliki melebihi rasa cintamu kepadaku" lanjut ucap Rayn lalu memagut bibir ranum Lusia.
__ADS_1
Rayn kembali memagut bibir Lusia, melepaskan kerinduan dan hassratnya yang tertahan dalam waktu yang begitu lama. Rayn semakin menguatkan pelukannya, terus menyapu bibir manis Lusia hingga merasuk rongga mulut sang istri.
Perlahan Rayn menjatuhkan Lusia ditempat yang akan mengantarkan keduanya ke nirwana. Rayn kembali memandang lekat wajah istrinya yang begitu cantik dan mempesona.
"Malam ini, akan aku tunjukkan padamu tulusnya cintaku. Ketulusanku yang akan mengantarmu pada bukti dimana aku sangat menginginkanmu menjadi satu-satunya wanita yang akan menemaniku seumur hidupku" ucap Rayn dengan suara yang terdengar begitu menghanyutkan hati Lusia.
Wajah Rayn yang begitu dekat, tatapan yang begitu meneduhkan disertai hembusan nafas yang begitu hangat, membuat Lusia tidak melepaskan sorot matanya dari wajah tampan suaminya yang kini mengukuhnya. Lusia mendekap wajah Rayn lalu mengusapnya dengan lembut.
"Lakukan lah Rayn..." ucap Lusia mengurai senyum.
Rayn tersenyum, seperti mendapat lampu hijau dari sang istri dan ia kembali menghujani Lusia dengan ciuman. Lusia merangkulkan kedua tangannya pada jenjang leher Rayn dan menerima setiap ciuman Rayn yang begitu manis.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1