Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 172 - Dia Wanitaku


__ADS_3

Rayn membawa Lusia ke salah satu gedung apartemen mewah yang ada di pusat kota. Tepatnya unit Apartemen Penthouse yang merupakan hunian mewah berada dibagian lantai paling atas Gedung apartemen tersebut. Lusia sendiri tidak pernah tahu ataupun menyangka jika Rayn membawa dirinya ke sana.



Lusia tampak takjup pada hunian yang tidak hanya memiliki kemewahan tetapi juga memiliki fasilitas pribadi meliputi gimnasium, kolam renang, teras bahkan lift pribadi. Sebuah hunian yang bahkan tidak mampu dimimpikan oleh seorang Lusia. Bagi dirinya yang memiliki latar belakang keluarga yang sedang berada pada titik serba kekurangan, bisa tinggal ditempat yang ia tinggali bersama ibunya di kampung nelayan sudah melebih dari rasa syukurnya.


Diantara kemewahan di depannya, mata Lusia lalu tertuju pada meja kecil yang ada disudut. Disana ada dua  bingkai foto. Foto dua anak pria saling merangkul berpose ke arah kamera. Tepat disebelahnya terdapat foto salah satu dari anak itu, sebuh gambar yang diambil dari sudut belakang anak kecil yang tampak sedang serius melukis.


Lusia meraih foto anak yang sedang melukis itu. Potret seorang yang tengah menggoreskan kuas yang sudah dibasahi cat warna pada kanvas diatas easel.



Anak laki-laki itu sedang melukis bunga lotus. Meskipun dasar namun itu adalah karya yang luar biasa untuk anak seusianya.


Jemari Lusia meraba bingkai foto ditangannya seolah terhanyut akan sosok anak yang ada dalam foto itu. "Bukankah ini dirimu?" tanya Lusia.


"Saat itu, dia adalah calon suamimu" sahut Rayn.


Lusia sontak menatap Rayn serasa mengurai senyum. "Kau benar, jika aku tahu anak ini akan menjadi suamiku, seharusnya akut tidak perlu merasa khawatir saat menantikan kehadiran seseorang yang akan menggenggam tanganku" balas Lusia.

__ADS_1


Lusia kembali menatap ke sekeliling, melihat foto itu ada disana, sepertinya Rayn tidak hanya menyewa unit Penthouse itu. "Melihat foto ini sudah ada disini, apa kau sudah lama atau pernah tinggal disini?" tanya Lusia.


Rayn mengangguk, ia membernarkan dugaan Lusia jika dulu dia pernah tinggal disini. Tidak hanya itu, unit Penthouse tempat mereka berada saat ini adalah miliknya. "Ini adalah tempat tinggalku waktu pertama kali aku kembali ke Negara ini, tepatnya bukan kembali tapi datang ke Negara ini" jawab Rayn.


Lusia tercengang mengetahui jika unit Penthouse yang mewah itu adalah milik Rayn. Ia sungguh tidak pernah tahu jika ternyata Rayn memiliki tempat tinggal lain selain Villa tempat merela tinggal. Ia baru sadar, jika undangan Lotus saat itu seharusnya juga menggunakan alamat ini.


Rayn mengatakan jika Penthouse itu dibeli ayahnya untuk dirinya tinggal. Namun saat itu Rayn sangat membenci tempat itu. Rayn merasa setiap kali dirinya berdiri di depan kaca dan menatap ka arah bawa sana, itu membuatnya merasa seperti anak malang yang dikurung dalam kastil mewah.


Tidak ada seorang pun yang tinggal bersamanya karena saat itu Rayn takut pada semua orang yang datang meskipun mereka adalah para koki atau petugas yang akan membersihkan apartemen. Hanya Mickey satu-satu nya orang yang bisa ia terima namun tetap tidak bisa menyentuhnya. Mickey yang juga datang bersama dengan Rayn dari Kanada, tinggal di Unit Suit yang ada dilantai bawah.


"Aku sangat membenci tempat ini, tempat yang tinggi ini membuatku seperti dipenjara. Entah bagaimana tiba-tiba Mickey menemukan Villa itu untuk ku. Aku menyukai tempat itu, lalu ia menunjukkan kepada ayahku dan mengatakan jika kami ingin tinggal disana. Sejak saat itu aku meninggalkan tempat ini."


"Dan kini, aku telah memiliki dirimu disisiku. Aku berharap jika tempat ini benar-benar akan menjadi rumah bagiku bersamamu. Aku tidak akan memaksamu, kau memutuskannya dan aku akan mengikuti keputusanmu." lanjut ucap Rayn.


Rayn meminta Lusia untuk tidak perlu khawatir, karena pada lemari pakaian yang ada didalam salah satu ruangan,  semua pakaian, sepatu, tas, makeup, parfum, jam tangan dan yang lain, semua sudah ada disana. Lusia memeriksanya dan Rayn benar, semuanya benar ada disana dan masih baru. Lemari-lemari sungguh penuh dengan pakaian mewah dengan merk terkenal.


"Kau, sungguh tidak menyimpan wanita lain disini kan?" canda Lusia mengerutkan kening seraya menunjukkan beberapa pakaian dalam wanita dan pria yang tersusun rapi ditempatnya.


"Aaa,, apa kau tidak menyukainya? Jika ternyata aku memiliki wanita itu disini. Dia ada disana" ucap Rayn seraya menunjuk arah kamar.

__ADS_1


Lusia pun pergi ke kamar itu, ia sungguh terkejut memilihat sesuatu yang ada didalam sana. Lusia menoleh ke arah Rayn yang sedang bersandar pada tangga kaca dengan tangan yang menyilang. "Kau..." ucap Lusia tersenyum haru bercampur bahagia.


Di dalam kamar yang luas dan mewah itu tergantung bingkai foto pernikahan mereka dalam ukuran yang besar. Melihat ekspresi Lusia, Rayn pun berjalan menghampirinya. Lusia menghindar melangkah ke ruang utama saat langkah Rayn mulai semakin dekat. Lusia berdiri menatap indahnya pemandangan luar dari balik dinding kaca.


"Sepertinya kau sangat mencintai wanita itu" goda Lusia menoleh ke arah Rayn.


"Aku tidak hanya mencintainya, tapi dia segalanya bagiku" sahut Rayn seraya melangkahkan kaki mendekati Lusia.


"Dia adalah wanita yang memberiku nafas disaat aku merasa seperti tercekik" lanjut ucap Rayn sembari mengambil langkah demi langkah.


"Dia... dia wanita yang memberiku cahaya dalam duniaku gelap" ucap Rayn dengan langkah yang dekat.


Rayn kini berdiri tepat didepan Lusia. "Dia, dia wanita yang menyelamatkaku saat aku berada ditepi tebing. Dia menggenggam tanganku dengan perkataannya yang membuatku berpikir jika dia wanita bodoh saat itu. Dia wanita yang membuatku jatuh pada tatapannya, tatapannya seperti ini" ucap Rayn semakin lekat menatap kedua manik mata Lusia yang juga sedang menatapnya.


"Dia, adalah satu-satunya wanitaku. Dia adalah dirimu, istriku" ucap Rayn seraya mendekap pipi Lusia dengan kedua tangannya yang hangat. Rayn mengecup ranum bibir Lusia dengan sentuhan bibirnya yang terasa manis.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2