
Leona pergi menemui Mickey yang saat ini berada di apartemen tinggal Mickey. Leona melihat Mickey berdiri menatap ke arah luar dari balik kaca dengan tatapan kosong. "Tentang phobia Rayn, Dr. Sein mengatakan jika Rayn...." belum sampai Leona menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh pertanyaan Mickey.
Dari nada suaranya, Mickey tampak sangat marah besar kepada Dr. Leona. "Apa kau tahu jika Lusia hamil?" tanyanya tanpa memandang ke arah Leona yang berdiri tepat di belakangnya.
Leona menarik nafas dalam lalu menghelanya perlahan. Terlihat Leona menahan perasaan sesak yang ia rasakan akan sikap dingin Mickey kepadanya saat ini. "Ya, aku memang mengetahuinya, tapi setelah dia mendapat pemeriksaan paska kecelakaan. Dokter melihat adanya pendarahan hebat dan setelah pemeriksaan, itu karena Lusia mengalami keguguran" jelas Leona.
"Kenapa kau tidak melaporkannya kepadaku?" tanya Mickey. Kali ini Mickey berbalik memandang ke arah Leona.
Seketika Leona merasakan sesuatu yang menyakitkan dalam hatinya melihat sorot mata Mickey yang menatapnya dengan raut wajah menahan amarah. Bibir Leona seolah terkunci rapat sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"WHY ?????" lanjut tanya Mickey dengan berteriak.
Teriakan Mickey tentu saja sangat mengejutkan Leona, namun Leona berusaha menahan air mata yang hampir saja lolos dari matanya saat melihat kemarahan Mickey. Leona menunduk sejenak menghela nafas panjang lalu kembali memandang Mickey. "Apa ada yang bisa kau lakukan setelah mengetahuinya?" tanya Leona.
Mickey tersenyum singkat dengan sinis kepada Leona. "Apa kau sungguh menyebut dirimu seorang Dokter Psikolog? Apa kau benar-benar tidak bisa mengerti atau sengaja menutup mata dan hati nuranimu?" tanya Mickey.
"Kau..." sahut Leona.
Leona tidak menyangka akan mendengar pertanyaan kasar itu dari Mickey. Namun seketika Leona sadar, ya memang seperti itulah Mickey. Mickey tidak akan pernah mau memahami atau mencoba untuk mengerti apapun jika itu sudah tentang Rayn. Bahkan Mickey tidak akan peduli siapapun yang ada dihadapannya, meskipun orang itu adalah Leona.
Mickey seperti sudah menyerahkan dan hidup hanya untuk Rayn serta kebahagian Rayn. Ia tidak akan peduli meskipun apa yang telah ia ucapkan sudah sangat keterlaluan dan akan menyakiti perasaan Leona. Satu hal yang menjadi alasan dan akan tetap Mickey pegang teguh janjinya hingga kapapun untuk Rayn. Bagi Mickey jika bukan karena Rayn, dirinya yang saat ini berdiri di depan Leona pasti sudah mati belasan tahun lalu ditangan ayah kandungnya.
Leona tidak pernah berharap besar Mickey akan bisa memahami dirinya. Bahkan Leona sangat sadar jika hanya kecil harapan baginya mendapatkan tempat dalam hidup Mickey. Akan tetapi, Leona ingin Mickey tahu kenapa dia melakukan semua ini.
Dengan jujur Leona kepada Mickey jika dirinya memang telah mengabaikan hati nuraninya. Hal itu ia lakukan hanya demi Mickey. Dan saat itu dia akan menjadi dirinya sendiri, bukan sebagai dokter Rayn ataupun dokter Mickey.
"Kau benar aku telah mengabaikan hati nuraniku, dan perlu kau tahu jika itu adalah diriki, saat dimana aku menjadi diriku, Leona. Bukan diriku sebagai seorang dokter. Aku juga memiliki hal pribadi yang juga ingin aku lindungi, seseorang yang ingin aku pertahankan, yaitu dirimu, itu adalah kebahagiaanmu. Apa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Leona.
Leona hanya tidak ingin Mickey semakin dalam jatuh dalam penderitaan. Meskipun semua yang terjadi dengan Lusia bukan sepenuhnya salah Mickey, tapi Mickey pasti akan sangat menyalahkan dirinya. Sudah cukup Mickey menderita dan menahan semuanya seorang diri hanya demi Rayn. Ada kalanya Mickey bisa istirahat sejenak dan memikirkan dirinya sendiri. Inilah yang Leona harapkan dari pria yang dia sayangi.
Leona sangat tahu jika apa yang dia inginkan itu adalah salah dan sudah mengingkari janjinya sebagai seorang dokter, dimana dirinya melibatkan perasaanya sehingga bertindak tidak prosfesional. Akan tetapi ia sangat tidak ingin melihat Mickey lebih dalam menderita.
Kenapa mereka semua harus menanggung beban dan juga luka yang diakibatkan sikap para orang dewasa dimasa lalu. Leona sangat ingin semuanya cepat berlallu dan berakhir bahagia untuk semuanya. Luka itu tidak hanya ada pada Mickey, tetapi juga Rayn dan Lusia.
"Jika bisa, aku ingin kalian menutup mata dan melupakan semuanya. Aku yang akan menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab. Jika aku tahu, akupun tidak akan membiarkan Lusia melakukannya" jelas Leona seraya meneteskan air matanya.
"Menutup mata? Melupakan semuanya? Lalu, apa kau sungguh sudah sangat lelah hingga berpikir seperti itu? Sepertinya aku salah berharap saat memintamu untuk menungguku" sahut Mickey.
__ADS_1
Leona pun akhirnya tidak bisa menahan tangisnya didepan Mickey. Sungguh sebuah lingkaran yang sangat ironis. Tentang semua yang terjadi, Lusia akan menyalahkan dirinya sendiri karena keputusan yang ia pilih. Rayn juga akan menyalahkan dirinya karena semua terjadi demi dirinya. Begitu juga dengan Mickey, yang menyalahkan dirinya karena semua rencana itu atas persetujuannya. Dan Leona yang memilih melakukannya demi melepas beban Mickey.
.
.
.
Di Rumah Sakit, Rayn telah sadar dan membuka matanya. Obat yang diberikan membuat Rayn merasakan berat pada kepalanya. Namun Rayn berusaha untuk bangun karena ia ingin segera melihat kondisi Lusia. Rayn melepas jarum infus ditangannya begitu saja dan beranjak turun dari ranjang. Arka yang sedang berjaga di luar mendengar suara aneh dari dalam dan langsung masuk.
Arka terkejut ketika dirinya hendak membuka pintu, tetapi pintu terbuka dari dalam dan rayn sudah berdiri dibalik pintu. "Tuan Muda, anda sudah sadar" tanya Arka mendekat.
Melihat Rayn yang bediri tanpa tiang infus membuat Arka langsung panik. Arka meminta Rayn untuk kembali karena ia akan memangil dokter. "Jika anda butuh sesuatu, anda bisa meminta kepada saya, saya akan..." ucap Arka tertahan karena dorongan Rayn.
Rayn mengabaikan Arka, ia mendorong bahu Arka yang menghalangi jalanya. Rayn meminta pengawal lain menyingkir dari pandangannya. "Menyingkir kalian semua" perintah Rayn memandang para pengawal berdiri tepat menghadangnya.
Arka membulatkan mata lalu menahan lengan Rayn . "Tuan Muda, anda baik-baik saja?" tanya Arka yang juga terkejut melihat Rayn tidak bereaksi akan sentuhannya.
"Kau berani menyentuhku?" tanya Rayn menatap bagaimana Arka menahan dirinya.
Arka melepaskan tanganya, ia membiarkan Rayn pergi namun dirinya tetap mengikuti degan berjalan dibelakang Rayn. Sesekali Rayn tampak limbung tidak bisa menahan tubuhnya, Arka berusaha membantu namun Rayn selalu menghempas tangan Arka yang berusaha membantunya. Meskipun langkahnya lemah, Rayn tetap berusaha untuk bisa sampai di kamar Lusia. Sampai di depan kamar inap Lusia, Arka meminta para pengawal yang berjaga didepan kamar Lusia untuk membiarkan Rayn masuk.
Arka memutuskan untuk menjaga privasi Rayn dengan berdiri menunggu dan berjaga di depan pintu. Arka menghubungi Mickey memberitahunya tentang kondisi Rayn saat ini. Mikcey meminta Arka untuk membiarkan Rayn. Mickey juga menegaskan kepada Arka untuk menjaga Rayn dan Lusia dengan ketat.
Meskipun situasi saat ini masih belum aman dari ancaman Mike, namun Mikcey juga tidak ingin membuat Rayn merasa tidak nyaman. Mickey meminta Arka menjaga keduanya sampai dirinya nanti tiba di Rumah sakit bersama dengan Tuan Charles. Tuan Charles akan memindahkan keduanya untuk menjalankan perawatan di kediaman Anderson oleh para dokter pribadi keluarga Anderson.
Arka melihat seorang perawat wanita berjalan ke arahnya. Perawat memita izin untuk melakukan pemeriksaan terhadap Lusia. Arka pun masuk untuk mendapatkan izin dari Rayn terlebih dahulu. Usai mendapat izin dari Rayn, Arka mempersilahkan perawat itu untuk masuk, sementara dirinya kembali berjaga diluar.
Sudah cukup lama perawat berada didalam, Arka menatap jam ditangannya lalu hendak mengetuk pintu untuk masuk. Tiba-tiba pintu terbuka, perawat wanita itu keluar lalu menutup pintu kembali dan menunduk pamit pada Arka.
Arka menoleh menatap ke arah dalam kamar yang terhalang pintu. Arka meresa ada sesuatu yang menjanggal dihatinya. Arka masih tidak percaya apakah mungkin Rayn benar-benar telah sembuh. Tidak terjadi sesuatu selama perawat itu berada didalam artinya Tuan Muda nya sungguh telah sembuh dari phobia yang diderita.
Arka kembali menatap ke arah perawat yang sudah berjalan jauh. Arka mengerutkan kening, menatap jejak yang ditinggalkan sepatu perawat pada lantai. Sebuah cairan berwarna merah membekas dilantai dari sepatu yang dikenakan.
"Darah?"
"Kalian semua, tangkap perawat tadi!!!" teriak Arka lalu membuka pintu untuk masuk dengan tergesa.
__ADS_1
"Tuan muda Rayn?"
Arka terkejut saat tidak melihat Rayn keberadaan Rayn di dalam, sementara Lusia masih tetap terbaring diatas ranjang. Arka melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dengan lampu yang menyala. Perlahan Arka berjalan mendekat ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu berpikir jika Rayn berada didalam.
"Tuan, apa anda berada didalam?" tanya Arka namun tidak mendapat jawaban apapun dari dalam kamar mandi.
"Saya akan membukanya" lanjut ucap Arka seraya memegang gagang pintu hendak membukanya perlahan.
Arka membuka pintu dan ia terkejut melihat tubuh Rayn yang tidak berdaya dengan bersimbah darah akibat luka tusukan senjata tajam dibagian perutnya. Tubuhnya terduduk dilantai bersandar pada dinding kamar mandi. Rayn yang sempat tidak sadarkan diri membuka matanya tatkala mendengar panggilan Arka.
"Tuan, Tuan Muda... "
Arka terus berteriak seraya menahan darah yang terus mengalir dengan kedua tangannya. "Tuan Muda, apa yang terjadi? Tuan Muda, bertahanlah" ucap Arka melepas jas yang ia kenakan lalu menutup luka Rayn agar darah tidak terus mengalir keluar.
"Kalian yang diluar, panggil dokter sekarang....!!!!" teriak Arka.
Rayn berusaha menggapai tangan Arka. "Lu..si...a" ucap Rayn terbata sambil menatap ke arah luar.
"Tuan bertahanlah" pinta Arka meraih tangan Rayn untuk menahan kain jas yang menutupi lukanya.
Arka segera bangkit untuk memastikan keadaan Lusia. Arka membuka selimut yang menutupi tubuh Lusia memastikan apakah dia juga terluka. Melihat monitor medis yang menunjukkan kondisi Lusia baik-baik saja, Arka bergegas kembali pada Rayn.
"Tuan Muda..."
Panggil Arka melihat Rayn yang sudah tidak sadar. "Tuan Muda.." panggil Arka kembali.
Arka berusaha memeriksa nadi Rayn. "Tuan Muda.." ucap Arka lemas saat tidak merasakan denyut nadi Rayn. Dengan suara bergetar Arka terus memanggil nama Rayn berusaha membangunkannya. Tubuh Arka pun lansung menjadi lemas.
"Tuan Muda Rayn....."
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1