Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 71 - Derita Mickey Kecil


__ADS_3

#Flashback


Di sebuah sekolah dasar tempat dimana Rayn mengenyam pendidikan pertamanya. Hari itu, menjadi hari pertama Rayn bertemu dengan Mickey. Seorang guru memasuki kelasnya bersama seorang anak laki-laki yang terlihat murung dan pendiam.


“Ayo anak-anak, semua kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Hari ini kita punya teman baru. Mickey, kau bisa perkenalkan dirimu kepada mereka yang akan menjadi teman barumu mulai hari ini” ucap seorang guru.


Karena suatu alasan, Mickey yang usianya 1 tahun lebih tua dari mereka menjadi murid pindahan di sekolah Rayn.


“Namaku Mickey, senang bertemu kalian” ucapnya singkat dengan suara kecil. Ia membungkukan badannya lalu pergi duduk di bangku tepat dibelakang Rayn sesuai dengan arahan sang guru.


Sebagai anak yang periang dan mudah bergaul, Rayn menyapa Mickey dengan senyum, ia mengulurkan tangannya sembari menyebut namanya.


“Namaku Rayn…, mulai hari ini kita menjadi teman satu kelas” ucap Rayn.


Mickey hanya membalas dengan senyum yang terlihat dipaksakannya. “Mickey” ucapnya tanpa membalas jabatan tangan Rayn.


Meskipun sikap Mickey terlihat tidak senang dengan upaya Rayn yang ingin berteman dengannya, Rayn tetap selalu menawarkan diri mengajak Mickey bermain bersama. Namun Mickey selalu saja enggan dan memilih untuk sendiri. Bahkan disaat jam makan siang, ketika semua anak tampak riang mengantri makan siang mereka, Mickey memilih hanya duduk di dalam kelas.


“Kenapa kau tidak pergi makan siang?” tanya Rayn yang juga berada dalam kelas.


“Aku tidak lapar” jawab Mickey dengan suara lirih.


Rayn sendiri tidak pernah ikut makan siang bersama dengan teman yang lain di kantin sekolah. Ia selalu menyantap bekal yang dibawakan ibunya di kelas. Hal itu karena Rayn tidak terlalu menyukai kerumunan atau sesuatu yang bising karena suara ricuh dari para teman-temannya.


Rayn biasa hanya sendirian di dalam kelas setiap jam makan siang, tapi kini ia bersama Mickey. Itulah kenapa Rayn lebih banyak waktu memperhatikan Mickey. Hingga akhirnya Rayn meminta ibunya untuk membawakan 2 bekal untuknya. Dimana satu bekal itu akan ia berikan kepada Mickey. Rayn tahu jika Mickey bukan tidak lapar, tapi dia yang sangat pendiam enggan berada diantara teman-teman yang lain.


Rayn akhirnya menjadi satu-satunya anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mickey. Meskipun Mickey lebih sering mengabaikan atau menolak ajakannya, hal itu tidak membuat Rayn pantang menyerah untuk membuat Mickey bisa berbaur dengan dirinya atau yang lain.


Suatu ketika disaat mereka sedang melaksanakan olahraga bermain bola di luar kelas, seorang anak tidak sengaja melempar bola hingga menghantam punggung Mickey. Mickey pun terjatuh, Rayn sontak berlari membantunya bangun. Namun disaat Rayn meraih tangannya untuk membantu, Mickey merintih kesakitan.


"Apa itu sangat sakit? Apa bola itu melukaimu dengan sangat keras?” tanya Rayn cemas.


“Aku baik-baik saja” jawab Mickey dengan menyingkirkan tangan Rayn.


“Jika sakit kau harus bilang sakit, jangan menahannya” ucap Rayn dengan menarik baju belakang Mickey secara paksa, ia membukanya untuk melihat apa Mickey memiliki luka serius karena bola itu.


Sungguh mengejutkan apa yang dilihat Rayn pada tubuh Mickey. Tubuh Mickey tidak hanya penuh dengan luka lebam dan memar, tapi banyak bekas luka dari hantaman benda tumpul dan juga luka bakar ringan.


“A... apa yang.... terjadi dengan tubuhmu?” tanya Rayn terkejut, bahkan ia sampai tidak lancar mengucapkan pertanyaan itu.


“Sudah aku katakan, aku baik-baik saja” jawab Mickey menurunkan baju dan melangkah menjauh.

__ADS_1


“Kita harus pergi ke dokter” ajak Rayn menarik tangan Mickey.


Mickey menolak, ia justru berjalan pergi meninggalkan Rayn menuju kelasnya. Rayn mengejar Mickey. “Itu luka yang mengerikan” ucap Rayn meminta Mickey berhenti.


“Aku orang yang memiliki tubuh yang terluka ini, aku yang tahu dan aku yang bisa merasakan apa aku baik-baik saja atau tidak. Jangan pedulikan aku, dan aku tidak pernah ingin punya teman. Berhenti mengikutiku atau mengajakku bermain” jawab Mickey melanjutkan langkahnya meninggalkan Rayn. Rayn terdiam menatap Mickey yang meninggalkannya.


Sampai di rumah pun Rayn masih merasa tidak tenang, ia terus memikirkan apa kiranya yang menyebabkan Mickey memiliki luka mengerikan itu ditubuhnya. Rayn ingin menceritakan hal ini kepada ibunya, namun ia ragu. Rayn takut jika ibunya cemas dan justru melarangnya untuk ikut campur, apalagi jika ayahnya tahu.


Satu minggu berlalu dan hari itu sudah menjadi hari ke 4 Mickey tidak masuk sekolah. Rayn menanyakan kabar Mickey kepada gurunya. Guru mengatakan jika orang tua Mickey meminta izin libur karena harus pergi ke luar kota karena ada urusan yang mendesak.


Rayn semakin khawatir, ia meminta alamat tinggal Mickey. Rayn meminta supir pribadinya mengantar pergi ke alamat itu sebelum kembali pulang ke rumah.


Rayn telah sampai dan berdiri tepat di depan rumah Mickey, ia tampak ragu untuk membunyikan bel rumahnya. Seorang pengawal yang ditugaskan ayah Rayn untuk menjaganya mendekat menghampiri Rayn. “Apa Tuan Muda yakin ingin berkunjung?” tanyanya.


Rayn menjawab dengan mengangguk, lalu pengawal tersebut membantunya membunyikan bel. Bel sudah dibunyikan 4 kali, sampai akhirnya terdengar seseorang membuka pintu dari dalam.


“Siapa kalian dan untuk apa kalian kemari?” tanya seorang pria usai membuka pintu. Ia terlihat tidak senang dengan kedatangan Rayn dan pengawalnya.


Pria itu bertubuh besar dan kekar, bahkan tercium bau alkohol dari mulutnya saat berbicara. Menyadari jika pria di hadapan sedang mabuk, pengawal langsung meraih tangan Rayn dan menggandengnya. Ia menggeser tubuh Rayn untuk berada dibelakangnya.


“Dia ingin mengunjungi temannya, dan dari alamat yang kami dapat rumah ini….” ucap pengawal.


“Tidak ada anak seusianya tinggal disini, cepat pergi!” perintah pria itu memotong perkataan pengawal Rayn yang belum selesai bicara.


“Ibu….!!! Ibu bangun” teriak seorang anak dengan isakan dari dalam rumah itu.


Rayn yang mengenali jika itu adalah suara Mickey, tubuh kecilnya langsung berlari menerobos masuk melewati pria besar itu. Pria itu kesal dengan ulah Ryan, ia sontak lari mengejar Rayn masuk dan meraih tas yang ada di punggung Rayn.


Pengawal langsung ikut lari masuk setelah berteriak memanggil supirnya yang berdiri disamping mobil menunggu mereka “Mr. Louis… “ teriaknya sambil lari masuk.


“Dasar anak kurang ajar, mau kemana kau” ucap pria besar itu dengan mempelanting tubuh Rayn ke lantai saat berhasil meraih tas Rayn.


Rayn pun terlempar dan jatuh tersungkur tepat disebelah tubuh seorang wanita yang tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah dikepalanya.


Rayn yang kesakitan karena luka dikepalanya langsung membisu melihat apa yang dia lihat. Tangannya yang gemertar mencoba meraih tubuh wanita itu. Pria itu kembali mendekati Rayn untuk melanjutkan aksinya, namun pengawal langsung menyelamatkan Rayn dengan menendang punggung pria itu hingga jatuh tersungkur. Mr.Louis, supir mereka langsung lari masuk melihat apa yang sedang terjadi.


Pengawal segera meraih tubuh Rayn dan melindunginya. Supir Rayn mengambil gambar pria itu dan segera menghubungi kepolisian dan melakukan darurat medis. Pria itu meraih kursi roda di dekatnya dan melemparkannya kepada Mr. Louis yang berdiri di depan pintu menghalangi jalannya untuk kabur.


Mr.Louis menghidari lemparan kursi roda yang dilayangkan kepadanya, sehingga hal itu menjadi kesempatan bagi pria itu untuk keluar rumah dan melarikan diri.


“Tuan Muda, anda baik -baik saja?” tanya pengawal dengan memangku tubuh Rayn. “Cepat siapkan mobil dan buhungi Tuan Charles jika kita akan membawanya kerumah sakit sekarang” perintahnya kepada supir.

__ADS_1


“Tunggu…” ucap Rayn.


Rayn memaksakan diri untuk berdiri. Rayn tidak peduli dengan luka dikepalanya yang juga mengucurkan darah. “Aku baik-baik saja” ucap Rayn kepada pengawal. Ia berjalan menghampiri Mickey.


“Ibu… bangun, ibu aku mohon buka matamu ibu. Ibu jangan tinggalkan aku ibu” tangis Mickey dengan terisak. Ia terus menangis memanggil ibunya yang tidak sadarkan diri.


Dengan kaki yang gemetar, Rayn berjalan mendekati Mickey. “Tolong selamatkan ibuku” ucap Mickey dengan meraih kedua kaki Rayn dan memohon. Ia bahkan bersujut dan terus memohon kepada Rayn.


"Aku mohon tolong selamatkan ibuku" ucap Mickey memohon dengan menangis.


“Cepat panggil bantuan, kita harus membawa ibunya ke rumah sakit” perintah Rayn dengan beteriak kepada pengawal dan supirnya.


Rayn meraih tubuh Mickey dan merangkulnya. “Mereka akan menyelamatkan ibumu, jangan menangis. Lihatlah kau juga terluka” ucap Ryan melihat Mickey juga memiliki beberapa luka baru di wajahnya.


Sebuah pemandangan yang sangat miris dan menyahat hati. Ibu Mickey yang sudah tidak sadar terbaring di lantai dengan luka dikepala dan sekujur tubuhnya. Sementara putranya Mickey, hanya bisa menangis memanggil ibunya dan terus mencoba untuk membangunkannya.


Mickey seolah sama sekali tidak merasakan sakit pada tubunya yang semakin penuh dengan luka. Ia hanya terus menangis dan memohon ibunya diselamatkan.


Ini semua ulah dari pria itu, pria yang baru saja kabur melarikan diri itu adalah ayah kandung Mickey. Ayah Mickey adalah seorang pemabuk berat dan seorang penjudi akut. Setiap kali kalah judi, ia selalu melampiaskan kemarahannya kepada Mickey dan ibunya. Ia selalu berteriak jika mereka yang membawa kesialan sehingga selalu kalah dalam berjudi.


Selain kejam, ayah Mickey juga memiliki banyak hutang akibat kalah judi. Bahkan ia juga sudah menjual satu-satunya rumah yang mereka miliki. Karena jeratan hutang yang sangat besar, itu sebabnya ayahnya membawa mereka pindah untuk lari dari jerat hutang itu.


Mickey dan ibunya kerap dipukuli dan disiksa oleh ayahnya. Ibu Mickey tidak berdaya, ia tidak bisa melarikan diri dari jerat suaminya karena kakinya lumpuh akibat kecelakaan. Hal itu membuat ibu Mickey hanya bisa duduk dikursi roda.


Seperti manusia tidak beradap, ayahnya dengan sangat sadis menyiksa Mickey. Meskipun Mickey selalu memohon meminta ampun dengan kesakitan, ayahnya justru semakin menjadi-jadi memukulnya tanpa ampun dengan benda yang asal ia raih didekatnya. Tak jarang ayahnya mengurung Mickey di kamar mandi tanpa memberi Mickey makan.


Mickey harus menahan sakit dari pukulan ayahnya dan juga menahan lapar. Ibu Mickey yang berusaha menolong putranya justru tidak luput dari kekejaman suaminya. Untuk seorang anak kecil yang tidak berdaya seperti Mickey, ia hanya bisa menerima siksaan dari ayahnya.


Mickey selalu takut menceritakan kekejaman ayahnya kepada orang lain. Karena ayahnya selalu mengancam akan membunuh dirinya dan ibunya jika dia berani mengadu kepada orang lain.


Mickey hanya bisa menangis di rumah yang sudah seperti neraka baginya. Meski begitu, ia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri penderitaan itu dengan bunuh diri. Semua demi ibunya, ia yakin suatu saat nanti ayahnya akan mendapatkan karma dan dirinya bisa membawa ibunya pergi. Yang bisa Mickey kecil lakukan selama ini hanya bertahan.


~ Aku tidak boleh mati, aku tidak boleh membiarkan ibuku menjadi sendirian bersama orang sepertinya. Aku harus tetap hidup demi menyelamatkan ibu~


.


.


***To Be Continued***


Bagaimana nasib Mickey dan ibunya setelahnya ?

__ADS_1


Nantikan BAB Selanjutnya .... ^^


__ADS_2