
Lusia dan Rayn menikmati kegiatan romantis pagi mereka dengan bersepeda. Mereka sudah dalam arah putar balik kembali ke Villa. Terlihat mobil Dr. Leona yang melewati keduanya. Dr. Leona menghentikan mobilnya dan kembali mundur menyapa Rayn dan Lusia yang baru saja ia lewati begitu saja.
“Hai, aku merasa ada yang salah dengan penglihatanku?” tanya Dr. Leona melihat kedekatan Rayn dan Lusia. Ia merasa ada hubungan yang tidak biasa telah terjadi diantara keduanya.
Seorang bos membonceng stafnya bukanlah hal umum jika mereka tidak memiliki hubungan spesial alias sepasang kekasih.
Lusia sontak turun dari sepedanya dan menyapa Dr. Leona. Lusia menjadi gugup, ia masih belum terbiasa di depan orang lain soal hubungannya.
“Haha, lanjutkan saja. Aku akan menunggu kalian di Villa” ucap Dr. Leona lalu kembali menjalankan mobilnya.
“Kau tidak perlu panik, aku akan membuatmu terbiasa dengan hubungan kita” sahut Rayn meminta Lusia naik kembali dan lanjut kembali ke Villa.
"Hubungan kita?" tanya Lusia malu dalam hati.
Mereka telah kembali ke Villa, Dr. Leona ditemani Mickey berbincang di ruang tamu. Lusia menyuguhkan minuman untuk keduanya, sementara Rayn masih membersihkan diri.
Tidak lama terlihat Rayn menuruni tangga menghampiri mereka. “Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” tanya Rayn kepada Dr. Leona. “Terakhir kali aku tidak menyapamu dengan benar” lanjut ucap Rayn mengingat pertemuan mereka terakhir kali saat ia berdebat dengan ayahnya.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan pertemuan terakhir kita” sahut Dr. Leona tersenyum.
Dr. Leona tidak ingin basa-basi, ia mengatakan langsung maksud dan tujuannya ke Villa mencari Rayn. Ia ingin Rayn melanjutkan pengobatan hipnoterapi dengannya. Ia juga ingin mendengar tentang reaksi trauma yang baru saja di alami Rayn. Dr. Leona yakin, jika Rayn mendapatkan sebagian potongan ingatannya lagi.
“Aku tidak tahu seberapa mengerikannya ingatan itu, tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Hipnoterapi masih lebih aman daripada reaksi langsung” ucap Dr. Leona.
“Ingatan?” potong Mickey. “Apa kau mulai mendapatkan ingatanmu kembali?” lanjut tanya Mickey kepada Rayn.
“Ingatan itu… seperti mimpi buruk” sahut Rayn dengan wajah serius.
Rayn sadar jika saat ini Mickey sangat ingin tahu dan ingin mendengarnya. Namun, ia masih belum mau menceritakan apa yang sudah diingatnya. Baginya, sebelum ia memastikan semuanya, maka apa yang ia ingat bukan saatnya menjadi konsumsi Mickey.
Lusia menghampiri Rayn, ia berusaha membuat Rayn untuk bisa lebih relax. “Kau baik-baik saja?” tanya Lusia.
“Rayn, aku tahu tapi…” ucap Dr. Leona. Ia ingin mencoba membujuk Rayn. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya Rayn sudah memotongnya perkataannya.
“Aku akan melakukannya” sahut Rayn mengejutkan semuanya, termasuk Lusia yang langsung menoleh menatap Rayn.
Rayn meraih tangan Lusia yang berdiri disampingnya. Perlahan ia menggenggam tangan Lusia dengan kuat. “Hipnoterapi itu, aku akan melakukannya” lanjut ucap Rayn.
Lusia menatap tangan Rayn yang menggenggamnya. Ia tahu, saat ini Rayn juga sangat membutuhkan dukungannya.
“Dan aku akan selalu mendukungmu, apapun itu” ucap Lusia dalam hati, ia lalu tersenyum kepada Rayn dan membalas semakin erat menggenggam tangan Rayn.
__ADS_1
“Apa kau yakin?” tanya Mickey.
“Berhenti menanyakan hal yang bisa membuatku ragu dan menarik kembali keputusanku” jawab Rayn.
“Bagus, Rayn. Kau mengambil keputusan yang benar” sahut Dr. Leona yang berusaha memisahkan pembicaraan Rayn dan Mickey. “Kau bisa percaya kepadaku” lanjut Dr. Leona.
“Aku tidak ingin percaya pada siapapun, aku hanya akan percaya pada diriku sendiri” ucap Rayn tegas.
“Kau benar” sahut Mickey.
“Terlepas dari alasan hipnoterapi untuk kesembuhanku, aku akan lebih fokus pada mencari fakta dibalik misteri kecelakaan itu dan siapa pembunuh ibu” ucap Rayn dalam hati dengan menatap Mickey.
“Pengobatan itu, aku ingin melakukannya disini dan kau bisa mengirim jadwal untukku. Aku akan melihatnya, apa aku akan setuju atau tidak” perintah Rayn kepada Dr. Leona.
“Baiklah, aku akan mengaturnya dan menghubungimu” ucap Dr. Lusia.
Dr. Leona lalu pamit untuk kembali karena ada yang harus ia lakukan. Begitu juga dengan Mickey yang juga pamit karena ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah ditinggalkannya. Mickey meminta Arka untuk lebih ekstra lagi menjaga Lusia dan Rayn.
“Aku titip dia padamu” ucap Mickey kepada Lusia yang mengantarnya keluar Villa.
“Jangan khawatir” sahut Lusia.
Rayn tidak ada dikamarnya, Lusia meletakan sarapan Rayn di kamarnya. Ia lalu pergi mengetuk pintu ruang melukis Rayn untuk memberitahunya.
Rayn menjawab ketukan Lusia dengan mengatakan sandi pintu ruangannya ‘158742’ yang artinya ia memberi kebebasan akses untuk Lusia. Lusia tersenyum lalu mencoba memasukan sandi dan masuk.
“Aku sudah menyiapkan sarapanmu di kamarmu” ucap Lusia menghampiri Rayn.
Lusia terdiam saat melihat Rayn duduk di depan papan easel dengan serius namun ternyata ia tidak melakukan apapun, bahkan ia sama sekali tidak menyentuh peralatan melukis yang masih tertata rapi di tempatnya.
Lusia menyentuh bahu Rayn, Rayn pun menoleh menatapnya. “Kau melarang Mickey menanyakannya, tapi aku ingin tahu untuk memastikan apa kau baik-baik saja dengan itu. Apa kau yakin akan melakukannya?” tanya Lusia soal keputusan Rayn menjalani pengobatan dengan hipnoterapi.
Rayn terdiam, ia tampak berpikir sejenak. Ia ragu, apa dirinya harus mengatakan kepada Lusia tentang kamatian ibunya dan tentang Mickey. Rayn bukan tidak percaya dengan Lusia, namun ia tidak ingin membuat Lusia khawatir dengan dirinya.
Seakan ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Rayn, Lusia meminta Rayn untuk selalu terbuka dan jujur terhadapnya.
“Aku tahu, kau mungkin ragu mengatakan semua dengan alasan yang kau pikir itu demi kebaikanku. Tapi kau perlu tahu, aku yang bisa menilai apa yang aku rasakan. Jadi, apa yang menurutmu baik untukku tidak akan selalu benar dan baik untukku. Aku ingin kau bisa selalu jujur kepadaku soal perasaanmu dan apapun itu. Meskipun itu akan menyakitkan sekalipun bagiku, kau harus mengatakannya. Aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu, karena aku tidak ingin menyesalinya nanti. Meski baik untukku saat ini, tapi bisa akan menjadi penyesalan yang menyiksaku nanti. Jadi, jangan menilai dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku” ucap Lusia.
Rayn menatap sendu Lusia. “Kau tau, aku semakin takut pada diriku sendiri saat bersamamu” jawab Rayn.
“Apa yang kau takutkan?” tanya Lusia.
__ADS_1
“Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku” jawab Rayn tersenyum lalu berdiri meraih peralatan melukisnya.
"Ada apa dengannya? Disaat aku berbicara serius, dasar mesum” gerutu Lusia akan reaksi Rayn.
Rayn kembali duduk dan meraih pinggul Lusia, ia mendekatkan tubuh Lusia pada dirinya. Rayn menatap Lusia dengan tatapan manis. “Apa kau tidak takut jika aku menyerangmu?” tanya Rayn yang masih merangkul pinggul Lusia dan menatapnya.
“Tidak, aku lebih takut jika aku akan membalas seranganmu itu!” jawab Lusia yang mengikuti permainan Rayn. Rayn terdiam lalu melepaskan rangkulannya. Ia terkejut dengan jawaban Lusia yang mulai berani.
“Kenapa? Sepertinya kau yang ketakukan sekarang” sahut Lusia melihat Rayn melepas rangkulan dipinggulnya. “Aku serius dengan ucapanku tadi, apa kau pikir aku tidak tahu kau mengalihkan pembicaraan kita dengan menggodaku?” tanya Lusia kembali serius.
Rayn yang sudah dalam posisi siap menggores lukisannya menghentikan gerakan tangannya. Ia lalu mengambil nafas dan menghelanya.
“Kau benar, aku memang akan melakukan apapun yang menurutku itu terbaik untukmu. Tanpa bertanya dan tanpa negoisasi denganmu. Kau mungkin akan mengatakan jika aku adalah pria jahat atau bahkan kau mungkin akan membenciku karena hal itu. Tapi aku akan tetap melakukannya, meskipun aku yang akan menjadi orang yang menyesalinya nanti. Aku akan tetap memilih menjadi egois dengan menutup mata dan telinga dari semua komplainanmu tentang kenapa aku tidak jujur atau tidak memberitahumu" ucap Rayn.
Rayn memposisikan duduknya menghadap Lusia yang berdiri didepannya. Ia menjadi semakin serius melanjutkan perkataannya.
"Itulah diriku, yang akan selalu sesuka hati dengan keputusanku. Itulah diriku yang selalu bodoh memilih untuk terluka dan memendam semuanya seorang diri. Itulah diriku yang memilih menanggung semua penderitaan itu karena tidak ingin orang yang aku sayangi menderita. Dan itulah diriku yang kadang menjadi pengecut. Meskipun aku orang yang seperti itu, apa kau….” lanjut ucap Rayn yang terhenti karena reaksi Lusia.
Mendengar semua perkataan Rayn, tanpa kata Lusia langsung mendekat dan merangkulnya. Pelukan Lusia sejenak membungkam Rayn yang belum selesai berbicara dan masih akan bertanya kepadanya. Lusia semakin erat memeluk dan menenggelamkan kepala Rayn di bahunya.
“Apa kau akan tetap memihakku dengan tetap berada disisihku?” lanjut tanya Rayn dengan suara lirih dalam pelukan Lusia.
“Akupun orang yang akan selalu sesuka hati dengan keputusanku. Dan keputusanku adalah tetap selalu ada disisihmu. Kau mungkin memang akan menjadi egois dan bertindak sesuka hatimu. Tapi, aku tahu kau melakukan bukan untuk menyakiti tapi demi kebahagian orang-orang yang kau sayangi” jawab Lusia.
“Aku mengerti dan aku tidak akan bertanya lagi. Karena itu… ayo kita lakukan. Hipnoterapi itu, ayo kita lakukan bersama” lanjut ucap Lusia.
Lusia masih belum tahu jika ibu Rayn meninggal dalam kecelakaan karena dibunuh oleh seseorang yang masih menjadi misteri. Namun, ia tahu jika Rayn selama ini sudah banyak menderita. Rayn harus bertahan hidup seorang diri dengan phobia yang sudah ia alami bertahun-tahun. Ia sangat merindukan kasih sayang keluarga layaknya kehidupan normal diluar sana. Namun, ia tidak ingin mengemis hal itu kepada ayahnya.
Lusia adalah gadis pertama yang mampu membuatnya membuka hati. Rayn tidak pernah bermimpi akan memilki seseorang yang mampu mengisi kekosongannya. Ia selama ini hanya berteman dengan minuman keras.
Kehadiran Lusia seperti anugerah untuknya disaat ia mendapat pukulan keras tentang fakta kematian ibunya. Dan sebuah fakta jika Mickey menyimpan sesuatu darinya. Fakta jika seseorang yang selalu ia andalkan, seseorang yang ia percaya, sesorang yang sudah tumbuh besar bersamanya dengan kasih sayang ibunya, terlibat dalam kasus itu.
“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Tanpamu, mungkin saat ini aku sudah lari dan menyerah. Mungkin aku sudah kalah dan memilih jalan mengakhiri hidupku untuk mengakiri semuanya.”
Itulah ungkapan dalam hati Rayn saat ia membalas pelukan Lusia. Ia memutuskan untuk tidak lagi menyerah dan akan membuka ingatan yang menyakitkan itu bersama Lusia. Ia akan tetep menggenggam tangan Lusia untuk selalu bersamanya.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1