
Lusia kembali ke apartemen Reisa ditemani oleh Rayn. Sesampai di apartemen, Reisa menatap Rayn dengan tatapan kesal dan marah. Lusia merasa tidak nyaman dengan hal itu, ia meminta Reisa untuk menyudahi tatapan tajamnya kepada Rayn.
"Jika bukan karena phobia yang dia miliki, mungkin kemarin aku sudah membuatnya jadi bubur" keluh Reisa dengan kesal masih menatap Rayn yang berada didalam mobil.
Lusia terkejut akan pernyataan Reisa, dia tidak tahu jika ternyata Reisa berhasil tahu kemana dirinya pergi membawa mobilnya. Reisa datang ke Villa dan bertemu dengan Rayn, bahkan ia meluapkan semua kekesalannya di sana. Rayn menerima begitu banyak makian dibandingkan serangan fisik mengingat phobia yang dimiliki Rayn.
"Aku tahu kau marah, tapi" ucap Lusia tertahan.
"Jangan khawatir, aku masih sudah memaafkannya" sahut Reisa lalu mempersilahkan Lusia untuk masuk.
Lusia segera masuk dan menanyakan apa yang membuat Reisa begitu mudahnya memaafkan Ryan. Reisa hanya menghela nafas. Ia menjelaskan jika mungkin apa yang dikatakan David kepadanya soal Rayn benar.
Tidak akan mudah berada diposisi Rayn yang harus memilih pilihan yang sulit. Reisa bisa semakin memahaminya setelah melihat bagaimana Lusia tetap bertahan dengan perasaannya dan memperjuangkan hubungan mereka untuk bisa kembali bersama.
Lusia sangat terharu mendengar hal itu, ia pun langsung memeluk Reisa. "Terima kasih Reisa" ucapnya.
Reisa membantu Lusia mengemasi beberapa barang yang akan di bawa ke Villa, dengan penuh kesedihan ia harus berpisah lagi dengan Lusia. Padahal selama ini Reisa sudah sangat bahagia saat Lusia kembali tinggal bersamanya. Reisa mengantar Lusia hingga sampai pada mobil Rayn.
"Jika kau menyakitinya lagi, akan aku pastikan kau tidak akan memiliki kesempatan untuk kedua kalinya" ancam Reisa kepada Rayn.
"Reisa..." bisik Lusia meminta Reisa menghentikan gertakannya.
"Aku senang, dengan ancaman itu artinya dia sangat sayang dan peduli denganmu" sahut Rayn kepada Lusia.
"Aku akan mengingatnya" lanjut ucap Rayn kepada Reisa.
Sesampai di Villa, mereka melihat Mickey yang keluar dari Villa dengan terburu-buru. Rayn lekas turun dari mobil untuk menanyakan apa yang terjadi. Mickey yang baru hendak membuka pintu mobilnya pun menoleh dan berjalan menghampiri Rayn.
"Aku menemukan dimana Paman Louis" ucap Mickey.
Rayn mengerutkan keningnya akan kabar itu, mendengar nama itu seperti membuka kembali luka akan kenangan malam paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Apa kau yakin tidak ingin meminta bantuan ayahku?" tanya Rayn.
"Aku akan meminta bantuan Tuan Charles setelah memastikan jika dia orang yang harus bertanggung jawab atas semua insiden yang terjadi" sahut Mickey.
"Jadi kau akan langsung kembali ke Canada?" tanya Rayn.
Mickey mengangguk. "Eemm... tapi aku akan kembali tanpa Arka, lebih baik Arka tetap disini bersamamu" ucapnya.
__ADS_1
Rayn menolak. "Kau lebih membutuhkan dia daripada aku, lagi pula bukankah kau sudah mendatangkan pengawal baru" sahutnya.
"Justru karena masih baru aku menjadi tidak tenang, aku lebih bisa tenang jika Arka yang menjaga kalian. Jangan khawatir, jika terdesak aku pasti akan mencari ayahmu meminta bantuan" ucap Mickey lalu pamit pergi.
Mickey masuk ke dalam mobil, setelah cukup lama berdiam di dalam mobil, ia lalu menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan Villa. Lusia menghampiri Rayn dan menggandeng tangannya.
Bersamaan dengan Mickey pergi Lusia mendapat pesan dari Mickey, ia pun lalu menatap kendaran Mickey yang kemudian menghilang dari pandangan mereka.
[Kau kembali diwaktu yang tepat, besok adalah hari ulang tahunya. Tadinya aku sangat khawatir dia akan kesepian, tapi kini sudah ada dirimu, Terima kasih]
"Dia tahu besok ulang tahunnya tapi malah pergi" gerutu Lusia berbicara sendiri lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
Lusia menghela napas dalam-dalam dan menghembusnya dengan perlahan, ia lalu melemparkan seulas senyum menenangkan ke arah Rayn. Ia berharap semua akan segera selesai dan berkahir dengan indah. Lusia tidak ingin lagi melihat Rayn terus dihantui semua kenangan pahit yang selalu membuatnya menderita.
Lusia kini disibukkan merapikan kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Anehnya kamar itu tetap rapi dan bersih, bahkan seperti tidak pernah kosong. Rayn sepertinya telah menjaga kamarnya dan memastikan kamar itu untuk selalu bersih, hal kecil yang membuatnya tersenyum bahagia.
Usai membereskan beberapa barang yang baru ia bawa, Lusia pergi menemui Rayn yang saat ini sibuk di ruang melukis. Lusia masuk dan berjalan mendekati Rayn yang duduk didepan papan aesel miliknya. Rayn menoleh dan melempar senyum singkat menyapa kedatangan Lusia lalu kembali memandang karya yang belum ia selesaikan.
Lusia pun tersenyum lega karena sepertinya Rayn sudah kembali untuk melukis. Lusia mendekat menyandarkan tangannya dibahu Rayn, ia melihat gerak tangan Rayn yang tampak ragu untuk melanjutkan melukis. Sepertinya kabar yang ia terima dari Mickey mempengaruhi mood nya saat ini.
"Apa kau ingin pergi jalan-jalan sejenak menghirup udara segar di luar?" tanya Lusia.
Sebenarnya Rayn bukan orang yang sulit mengendalikan moodnya saat melukis, selama memiliki inspirasi ia akan dengan mudah dan lihainya menggoreskan kuas di atas kertas. Makna dari hasil lukisannya lah yang dapat memperlihatkan isi hatinya saat melukis.
Rayn memutuskan untuk pergi bersama Lusia jalan-jalan menikmati aroma pepohonan hingga mereka sampai pada Dervilia. Lusia berhenti melangkah dan menatap Villa bertingkat di depannya. Rayn mendekatkan langkahnya dan menggandeng tangan Lusia mengajaknya untuk masuk.
"Ayo..." ucap Rayn.
Lusia tersenyum lalu mengikuti langkah Rayn untuk masuk ke dalam Dervilia. Sesampai didalam, Rayn sibuk di dapur untuk menyeduhkan teh chamomile untuk Lusia.
"Seharusnya aku yang memanjakan dirimu untuk bisa lebih relax, tapi kini justru kau yang melakukannya" ucap Lusia sembari meraih gelas bersisi teh chamomile hangat dari tangan Rayn.
Keduanya kini duduk di balkon Villa, bercengkerama menikmati hembusan udara segar dari pepohonan yang mengelilingi Villa Dervilia.
"Apa kau ingin bertemu dengan ibuku?" celetuk Rayn tiba-tiba.
Lusia seketika menoleh memandang wajah pria yang terlihat serius menanyakannya. "Ibumu?" tanya Lusia seolah ingin meyakinkan apa yang ia dengar.
"Setiap tahun, tepat di hari ulang tahunnya aku selalu pergi ke Canada untuk mengunjungi makamnya. Tahun ini..." ucap Rayn tertahan sembari memainkan jemari Lusia dengan manja.
__ADS_1
"Tahun ini aku ingin aku ingin memperkenalkan dirimu kepadanya." lanjutnya menoleh menatap teduh Lusia.
Tanpa bertanya dan berpikir panjang, Lusia mengangguk dan tersenyum. Lusia terharu akan keseriusan Rayn yang ingin memperkenalkan dirinya kepada wanita yang memiliki kedudukan paling tinggi di hati Rayn.
Lusia menyandarkan kepalanya di bahu Rayn. "Apa dia akan menyukaiku? Apa menurutmu aku akan memenuhi standartnya?" tanya Lusia.
"Dia tidak pernah mengatakan tidak setuju dengan apa yang aku putuskan. Ibuku selalu setuju dengan apapun yang telah aku pilih. Tapi terlepas dari semua itu, jika saja dia masih hidup, aku yakin dia tidak akan mengeluh dan justru akan langsung jatuh hati kepadamu" ujar Rayn menggambarkan hangat hati sang ibu yang ia cintai.
"Lalu apa kau akan memperkenalkanku sebagai kekasihmu?" tanya Lusia tanpa memandang Rayn. Ia masih memandang hamparan taman bunga yang begitu indah di depan Villa.
"Apa kau akan setuju jika lebih dari itu?" tanya balik Rayn.
Pertanyaan mengejutkan yang membuat hati bergetar tentunya. Lebih dari kekasih? pikir Lusia seketika ragu, ia menyingkirkan pemikiran berlebihan itu mengingat Ryan suka membuly dirinya.
Lusia menarik sandarannya dan memandang Rayn dengan raut wajah penuh tanya. "Le...bih... dari itu?" tanya Lusia ragu dan hati-hati.
Rayn tersenyum, ia menatap lekat kedua manik mata Lusia yang juga sedang menatapnya. "Eemmm...." sahut Rayn dengan gumaman membenarkan.
Rayn mengulurkan tangannya meraih daun kecil yang ada pada rambut Lusia. "Lebih dari kekasihku..." ucapnya dengan tenang sembari membuang daun kecil itu. Ia lalu menyibak rambut Lusia yang menutupi kening karena deru angin. "memperkenalkanmu sebagai istriku" lanjutnya.
"Rayn...." panggil Lusia memandang Rayn.
Rayn pun menatap nanar mata Lusia yang terharu. "Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini untuk menjagamu hingga sah bagiku menyentuhmu" ucap Rayn lirih lalu memeluk Lusia.
"The day will come when you’ll be mine. I’ll wait till that time. If I have to wait forever, that’s what I’ll do. Cause I can’t live my life without you" lanjut ucap Rayn dalam hati.
.
.
.
*** To Be Continued***
Apa itu artinya dia melamarnya?
Ya, pertanyaan itu yang tidak hanya berputar-putar dipikiran kita (pembaca) tapi juga di pikiran Lusia.
Kita tunggu saja lamaran resminya yah ....
__ADS_1