Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 150 - Undanga Reuni


__ADS_3

Beruntung setelah kejadian kemarin, hari ini adalah hari libur Lusia, sehingga dia bisa menghindari bertemu dengan rekan kerjanya. Lusia mengirim pesan chat kepada Dave, ia meminta Dave untuk memberitahunya semua tentang gosip yang terjadi di Cafe akibat ulah drama romantis yang dilakukan Rayn.


Dave meminta Lusia untuk tidak terlalu khawatir karena dia akan membantu Lusia membereskan rekan-rekannya yang sedang haus informasi. "Kak Lusia jangan khwatir banyak cara yang bisa kulakukan untuk mematahkan jiwa kepo mereka" ucap Dave dalam panggilan telepon dengan Lusia.


Lusia sangat berterima kasih dan memuji Dave jika dia sangat bisa diandalkan di setiap momen yang tepat. Lusia akan mentraktir Dave lain waktu sebagai ucapan Terima kasihnya. Tidak menolak, Dave meminta Lusia untuk menepatinya.


Rayn menatap Lusia yang tampak sibuk dalam panggilan telepon, bahkan dia senyum-senyum bahagia. Lusia mengakhiri panggilan dengan Dave lalu menyapa Rayn yang berjalan ke arahnya.


"Apa yang membuatmu begitu sangat senang?" tanya Rayn lalu duduk disamping Lusia. Keduanya saat ini sedang duduk bersama diruang baca Rayn.


Lusia menolak memberitahu Rayn. Rayn tampak kecewa tapi dia juga tidak ingin memaksa. Rayn akan selalu memberi waktu untuk Lusia dengan dunianya dan juga privasinya. Rayn lalu pamit kembali ke ruang melukis untuk melanjutkan pekerjaan lukis yang harus segera ia selesaikan.


Rayn sibuk di ruang kerja lukisnya sementara Lusia menyibukkan diri memesan beberapa bibit tanaman dan buah secara online. Di hari liburnya minggu depan, Lusia ingin menghabiskan setiap waktu yang berharga bersama Rayn. Saat ini tidak ada yang bisa Lusia lakukan, sementara dia tidak ingin menggangu Rayn yang sudah sibuk sedari pagi diruang melukis.


Lusia hanya menyibukan diri membaca buku-buku dongeng koleksi Rayn. Lusia menatap barisan rak buku yang terisi penuh dengan buku dongeng koleksi Rayn yang tersusun rapi. Ia masih sulit percaya jika semua buku-buku ini dalah milik suaminya yang begitu sangat menyukai cerita dongeng.


Disaat Lusia sudah menentukan buku mana yang akan ia baca, tiba-tiba Reisa menghubunginya. Reisa memberitahu Lusia jika teman sekolahnya akan mengadakan reuni dan kali ini mereka mengharapkan Lusia untuk hadir.


Reisa tahu, mungkin kali ini Lusia juga akan menolak lagi seperti tahun sebelum-sebelumnya. Dari dulu hingga sekarang Lusia memang tidak pernah mau hadir dalam acara reuni yang selalu diadakan secara rutin oleh teman-teman sekolahnya. Hal ini karena kejadian beberapa tahun silam, hari dimana menjadi hari terakhir Lusia hadir. Masih teringat jelas dalam memory Lusia saat mereka semua yang ada disana meremehkan dan merendahkan Lusia.


Bukan rahasia lagi jika dulu Lusia bisa bersekolah di sekolah elit itu berkat bantuan beasiswa, itulah sebabnya kenapa teman-teman Lusia yang berasal dari golongan orang kaya tidak pernah menganggap dirinya sekelas. Bahkan mereka tidak peduli saat Lusia memutuskan untuk keluar dari grup chat kelas nya. Lusia keluar dari grup itu karena merasa tidak cocok dengan obrolan mereka.


Lusia langsung menolak ajakan Reisa, ia enggan untuk hadir dan meminta Reisa untuk mengkonfirmasi hal


itu kepada mereka. Reisa menyarankan Lusia untuk hadir, karena Reisa ingin Lusia menunjukkan kepada mereka jika dia menjalani hidupnya dengan baik. Lusia tetap menolak keras untuk hadir dan meminta Reisa mengerti.


Reisa hanya ingin Lusia mematahkan omongan mereka yang mengatakan jika Lusia hidup mengandalkan wajahnya untuk menarik dan menipu para pria kaya. Dengan status Lusia sekarang yang sudah menikah maka itu sudah cukup membuktikan jika apa yang mereka katakan tidak benar.


"Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku" sahut Lusia.


"Siapa? dan apa yang mereka pikirkan tentangmu?" tanya Rayn tiba-tiba kembali muncul dengan raut wajah penasaran.


Melihat Rayn yang saat ini berada dihadapannya membuah Lusia tiba-tiba terdiam menatap Rayn, ia bahkan mengabaikan Reisa yang masih berada dalam panggilan telepon dengannya. Lusia merasa jika apa yang dikatakan Reisa benar, untuk apa dirinya bersembunyi. Hal itu justru akan membuat mereka semakin memilki pemikiran liar tentang dirinya.

__ADS_1


"Reisa, aku akan hadir" sahut Lusia dengan suara tegas lalu menutup teleponnya.


Lusia tidak ingin membuktikan apapun kepada mereka, ia hanya perlu hadir untuk menghadapi mereka dan menunjukkan kenyataannya. Dia tidak perlu bersembunyi lagi karena dirinya tidak melakukan sebuah kesalahan ataupun dosa.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Rayn lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Lusia.


Lusia tersenyum. "Tidak ada apa-apa Rayn. Reisa memberitahuku tentang acara reuni dengan teman sekolah. Aku hanya ingin menghadirinya" jelas Lusia.


Melihat raut wajah Lusia membuat Rayn merasa sedikit cemas. "Apa kau sungguh ingin pergi?" tanya Rayn yang dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari raut wajah Lusia.


Lusia menjawab dengan anggukkan, ia lalu mengalihkan pembahasan itu dengan bertanya apa Rayn sedang membutuhkan sesuatu yang membuatnya meninggalkan ruang melukis. Itu tidak biasanya, karena setiap kali Rayn sibuk ditempat kerjanya, maka Rayn akan selalu berada disana tanpa keluar. Bahkan ia terkadang enggan untuk diajak makan.


"Aku kesulitan melukis, seperti nya aku butuh sesuatu tapi aku tidak apa aku yakin bisa mendapatkannya sekarang" jawab Rayn dengan wajah menggemaskan.


"Apa itu?"


"Dirimu!"


Rayn mengatakan jika dia tidak bisa fokus karena selalu terpikirkan istrinya. Lusia benar-benar telah mengusik pikirannya sehingga ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Lusia menanyakan apa sekiranya yang sedang dibutuhkan Rayn darinya. Rayn hanya melempar senyum, merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Lusia.


Rayn sepertinya sungguh telah memahami Lusia. Saat ini yang membutuhakan energi pelukan itu bukanlah dirinya, melainkan Lusia. Dia sedang memberikan energi itu kepada Lusia.


.


.


.


Hari Reuni.


Lusia tampak sedang bersiap untuk pergi ke acara reoni sekolahnya. Lusia terlihat sangat cantik secantik bidadari dengan gaun yang mempesona. Ia mengenakan gaun yang dibelikan Rayn secara khusus untuk menghadiri acara itu.


Lusia mengenakan gaun little white dress, gaun putih kecil dengan hiasan motif renda yang detail serta terdapat motif bunga pada bagian atas leher dan lengan.  Sebuah gaun nan cantik yang dipadukan dengan heels transparan yang juga memilik motif renda pada bagian depan dan tumit. Sungguh perpaduan busana yang elegan dan mewah.

__ADS_1


"Apa menurutmu ini tidak terlalu berlebihan?" tanyanya kepada Rayn.


Mata Rayn tak berkedip menatap kecantikan Lusia. Ia masih terpesona akan keindahan yang ada didepannya. Rayn menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Lusia. Baginya yang dikenakan Lusia sekarang sangatlah layak.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Rayn yang juga sudah siap untuk mengantar Lusia.


Lusia merasa jika Rayn tidak seharusnya menyibukkan diri untuk mengantarnya. Ia bisa mengendari mobil sendiri atau meminta Arka untuk mengantarnya. Rayn mengerutkan keningnya kesal mendengar hal itu.


"Berhenti meminta Arka untuk melakukan banyak hal. Akulah suamimu bukan dia, jadi sudah semestinya aku yang akan mengantarmu pergi. Dan juga, jangan lagi memintanya menyiapkan makanan untukku. Aku merasa kesal melihat dia mengenakan celemek dengan konyol lalu menyajikan makanan untukku" keluh Rayn.


Lusia mencoba mendengarkan keluhan Rayn tapi masih tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba mengeluhkan mengeluhkan tentang Arka. "Baiklah, aku justru ingin kau menjadi orang yang selalu berada disisiku. Tapi, apa kau sungguh tidak keberatan dengan itu?" tanya Lusia.


"Tentu saja" jawab Rayn lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Lusia.


Rayn dan Lusia akhirnya pergi ke sebuah restoran yang sudah menjadi tempat acara reuni itu diadakan. Setelah cukup lama berkendera, mereka telah sampai disebuah restoran italia yang sangat terkenal dan mewah.


"Aku tidak yakin, apa perutku bisa mencernanya" gerutu Lusia masih duduk didalam mobil sembari mengelus perutnya.


Rayn tertawa kecil. "Aku justru tidak yakin apakah aku melakukan hal yang benar" gumamnya.


Rayn telah memberikan gaun yang membuat Lusia terlihat begitu anggun, ia khawatir jika hal itu akan mengalihkan pandangan pria yang ada disana, lalu dengan licik mereka menggoda istrinya. Rayn memiliki niatan lain kenapa ia sangat ingin membuat Lusia menunjukkan auranya yang begitu cantik.


Rayn kembali kembali bertanya dan meminta Lusia meyakinkan dirinya jika tidak ada pria single yang menghadiri acara itu. Lusia tidak bisa menjanjikan hal itu karena ia sudah lama tidak bertemu atau mendapat kabar dari mereka, ia juga tidak tahu siapa saja yang akan hadir. Tetapi yang bisa Lusia janjikan kepada Rayn adalah kehadirannya disana sebagai wanita yang sudah menikah, bukan anak sekolah lagi.


Rayn turun dari mobil Lebih dahulu, ia membukakan pintu mobil untuk Lusia lalu membantunya untuk turun. Rayn menawarkan diri untuk mengantarkan Lusia hingga masuk ke dalam restoran. Namun Lusia menolak, melihat kendaraan yang terparkir di restoran cukup ramai, hal itu justru membuatnya cemas karena bagaimana Rayn bisa kembali seorang diri nantinya. Rayn tidak memaksa lalu ia membiarkan Lusia masuk seorang diri.


Reisa mengirim pesan kepada Lusia, menanyakan dimana posisi Lusia saat ini. Reisa memberitahu Lusia jika dirinya sudah hadir disana. Begitu juga dengan temannya yang lain semua sudah hadir. Mereka tampak seperti sedang menunggu kehadiran Lusia karena ini kali pertama Lusia kembali hadir setelah absen dalam waktu yang cukup lama.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Contined ***


__ADS_2