
"Tuan Muda...! Teriak Arka terus memanggil Rayn dengan tubuh yang gemetar.
"Arka....!"
"Arka...!"
Panggil Mickey yang berusaha membuat Arka sadar.
"Tuan Muda...." teriak Arka kembali seperti orang yang baru saja bangkit dari kematian. Arka membuka mata dan melihat sosok Mickey yang sudah berdiri tepat di depannya duduk.
Arka baru menyadari jika dirinya baru saja terjaga dari tidurnya dan semua yang ia alami baru saja hanyalah mimpi. Sebuah mimpi yang sangat buruk. Arka nampaknya sangat kelelahan hingga ia tanpa sengaja tertidur hingga bermimpi saat menjaga Rayn.
Buliran keringat dingin mengalir membasahi kening Arka, ia masih tidak percaya akan mimpi buruk yang ia alami terasa begitu sangat nyata. Mimpi itu mengusik dirinya karena besarnya rasa cemas yang ia miliki terhadap kondisi Rayn. Nafasnya masih tidak beraturan disertai raut wajah yang pucat. Arka menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya dengan perlahan. Ia lalu menatap ranjang Rayn yang sudah kosong, sudah tidak ada sosok Rayn disana.
"Dimana Rayn?" tanya Mikcey.
Pertanyaan yang juga ingin Arka tanyakan, namun sepertinya Arka tahu kemana perginya Rayn. Ia bergegas berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada Mickey seraya mengucap kata maaf. "Maafkan saya yang lalai menjaga Tuan Muda. Saya akan menemukan Tuan Muda" ucapnya lalu pamit.
Dengan langkah kaki terburu-buru Arka berjalan untuk meninggalkan ruang rawat Rayn. Namun, saat dirinya baru saja sampai tepat di depan pintu dan hendak membukanya, langkah Arka terhenti saat melihat tubuh Rayn yang sudah berdiri di balik pintu.
"Tuan Muda" sapa Arka lalu segera mengambil langkah mundur dan menyingkir memberi jalan pada Rayn. Tampaknya Arka masih terbiasa menghindari tubuh Rayn agar tidak menyentuhnya. Selain itu Arka juga masih tidak yakin, apakah tuannya benar-benar sudah sembuh dari Haphephobia nya.
Rayn berdiri di depan pintu dengan nafas tersengal, seolah ia kembali ke kamarnya dengan berlari. Namun, tersirat raut wajah Rayn yang dipenuh amarah. Nafas yang memburu itu sepertinya bukan karena ia berlari, tapi deru nafas menahan sebuah amarah yang memuncak. Sorot tatapan tajam mata Rayn seperti sebuah busur yang siap ia lepaskan pada sasarannya.
"Kau masih harus banyak istirahat, kenapa kau meninggalkan kamarmu?" tanya Mickey.
Rayn tidak menanggapi ucapan Mickey, ia mengambil langkah dan berjalan ke arah Mickey. Tanpa kata, Rayn menggampiri Mickey dan langsung memukul wajah Mickey sekuat-kuatnya hingga Mickey jatuh tersungkur.
__ADS_1
Buuuukkk.....!!!
"Apa kau sudah gila???" teriak Rayn dengan satu tangan menarik kerah Mickey, satu tangannya lagi mengepal siap untuk melayangkan pukulannya lagi.
Dengan nafas memburu, Rayn tidak melepaskan tatapan tajamnya dari Mickey. "Kenapa kau melakukannya pada Lusia? "Kau tahu jika Lusia adalah segalanya bagiku tapi kenapa harus dia, kenapa!! kenapa harus Lusia????" tanya Rayn dengan teriakan sembari kembali melayangkan pukulan pada wajah Mickey berulang setiap kali ia melayangkan pertanyaan.
Berbeda dengan Rayn yang sudah diselimuti amarah, Mickey hanya diam pasrah membiarkan Rayn memukul dan memakinya. Mickey hanya diam menatap mata Rayn yang seperti ingin membunuhnya. Bahkan ia melarang Arka yang hendak membantu dirinya yang terus-terusan mendapat pukulan dari Rayn.
"Perlu kau tahu, tidak peduli itu dirimu, andai saja terjadi sesuatu yang besar terhadap Lusia karena kecelakaan itu, aku benar-benar menjadi orang pertama yang akan membunuhmu." tegas Rayn dengan tatapan yang menunjukkan keseriusan atas apa yang ia ucapkan.
Amarah Rayn tentu saja karena dia sangat mencintai Lusia, Lusia adalah satu-satunya wanita yang telah merubah hidupnya. Lusia telah mengisi kehampaan yang ia jalani bertahun-tahun menjadi hidup yang penuh warna dan suka cita. Wanita yang menerimanya apa adanya dan selalu menguatkan dirinya disaat lemah dan hilang arah. Lusia adalah sosok wanita sempurna dimata Rayn yang telah membuat dirinya menjadi pria yang memiliki arti dan tujuan hidup.
Mickey melempar senyum tipis disertai batuk kecil akibat pukulan Rayn. "Sepertinya jalan itu memberikan hasil yang baik bukan?" tanya Mickey menatap bagaimana tangan Ryan yang menyentuh dirinya. "Lihatlah, bukankah dengan begitu sekarang kau sudah mulai bisa hidup normal seperti yang kau inginkan selama ini" lanjut ucap Mikcey.
Rayn mengerutkan keningnya. "Apa katamu?" tanyanya seraya kembali mengangkat kepalan tangannya untuk memukul. Namun Mickey melanjutkan perkataan yang membuat Rayn menghentikan gerakan tangannya.
"Sudah aku katakan kepadamu, penantianku adalah kebebasamu dan Lusia jalan untukku mengakhiri penantian itu" ucap Mikcey disertai senyum tipis seolah dirinya merasa puas.
Rayn....!
Mickey.....!
Hentikan...!
Teriak Leona dan Tuan Charles yang memasuki ruangan. Keduanya tampak sangat terkejut dan tidak percaya akan pemandangan yang mereka lihat. Ini pertama kalinya bagi Rayn dan Mickey berada pada titik itu. Selama ini Rayn dan Mickey, meskipun keduanya terkadang terlihat dingin dan saling acuh, namun mereka selalu saling menjaga dan melindungi satu sama lain dengan cara mereka masing-masing.
"Mulai sekarang berhenti mencampuri urusanku, karena kebebasan yang kau inginkan itu, kini aku berikan padamu." ucap Rayn lalu bangkit dan pergi meninggalkan kamar rawat.
__ADS_1
Mickey masih saja diam terbaring di lantai, ia menarik nafas dalam lalu menghelanya panjang. Arti dari perkataan Rayn seolah mengatakan jika Rayn telah memutuskan untuk menghakhiri hubungan keduanya dengan sorot mata tajam yang membuatnya seperti tercekik. Mickey mengela nafas kembali lalu menutup mata disertai buliran air mata yang jatuh.
Leona bergegas membantu Mikcey untuk bangkit dan berteriak meminta pengawal memanggil dokter. Mickey menghempaskan tangan Leona lalu berusaha untuk bangun sendiri.
Leona pun terlihat menahan diri dan mengabaikan sikap kasar Mickey terhadapnya. "Apa Rayn sudah mengetahui semua? Juga tentang bayinya? Apa itu alasan kenapa dia melakukan ini kepadamu?" tanya Leona.
Tanpa memandang wajah Leona, Mickey menjawab pertanyaan itu. "Sepertinya dia hanya baru mengetaui bagaimana kecelakaan itu terjadi. Jika Rayn tahu soal bayinya, dia pasti sudah benar-benar membunuhku" sahut Mickey lalu berdiri menghampiri ayah Rayn dan memberinya salam hormat.
"Maafkan saya atas apa yang anda lihat baru saja" ucap Mickey membungkukkan badannya kepada Tuan Charles Anderson.
Tuan Charles mengelah nafas iba, dia berjalan mendekati Mickey. Tak diduga, Tuan Charles meraih tubuh Mickey lalu perlahan mulai memeluknya. Mickey membulatkan mata menerima pelukan itu tanpa kata. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Ayah Rayn. Sungguh sebuah tindakan yang bahkan tidak pernah berani ia impikan.
"Kenapa kau meminta maaf, kenapa kau selalu meminta maaf. Semua ini terjadi karena kesalahan kita orang dewasa. Kau pun juga sudah cukup banyak menderita. Maafkan ayah, Mickey" ucap Tuan Charles.
Mickey semakin termenung mendengar sebuah kata ayah yang diucapkan Tuan Charles. Sudah lebih dari 17 tahun sejak terakhir keluarga Anderson merawatnya, ia tidak pernah lagi mendengar itu karena dirinya menolak untuk diadopsi.
"Maafkan ayah, Mickey. Bagaimanapun kau juga bagian dari keluarga Anderson, kau juga putraku. Maafkan ayah jika selama ini hanya peduli dengan Rayn dan mengabaikanmu. Jika ibu Rayn masih ada bersama kita, dia pasti akan sangat sedih melihat apa yang terjadi antara kau dan Rayn sekarang. Tapi, ini bukan salahmu. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi dan menjaga adikmu, Rayn. Bahkan meskipun ibu Rayn sudah berada di surga, dia akan tetap selalu bangga padamu." lanjut ucap Tuan Charles.
Mickey terlihat sedang berusaha menahan air matanya yang sudah terbendung. Perkataan Tuan Charles sungguh menyentuh hatinya. Bukan karena ia mendapatkan sebuah pengakuan, namun apa yang dikatakan Tuan Charles membuatnya merasa jika dirinya juga seorang manusia yang layak untuk bahagia.
Tapi, bukan itu tujuan hidup yang Mickey janjikan. Bagi Mickey kebahagian miliknya sudah mati bersama pergi nya sang ibunda tercinta. Sejak saat itu, ia hanya akan bahagia jika Rayn yang tidak lain adalah penyelamat hidupnya bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu kelam karena dirinya.
Mickey masih hanya diam dalam pelukan Tuan Charles, ia berusaha untuk tidak goyah dan menahan diri untuk tidak terhanyut atau membalas pelukan Ayah Rayn. Orang mungkin melihat kehidupan yang Mickey jalani penuh dengan beban, namun bagi Mickey itulah tujuan dan alasan kenapa dirinya masih tetap hidup hingga sekarang, menjaga dan melindungi Rayn.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***