
Malam semakin larut, Rayn yang terjaga menatap Lusia yang tertidur dengan posisi duduk dengan menyandarkan kepalanya tepat disebelahnya. Mata Rayn tak lepas dari tangan Lusia yang masih menggenggam erat tangannya. Rayn menggerakkan tangannya, perlahan mengubah posisi tangannya yang menggenggam tangan Lusia.
“Ibu, aku harus bagaimana? Apakah egois jika aku menginginkannya dalam hidupku?” ucap Rayn dalam hati. Ia memejamkan matanya kembali lalu tertidur.
Hari sudah pagi, Lusia sibuk di dapur menyiapkan bubur untuk Rayn. “Kau bisa pergi bekerja hari ini, jangan khawatir, aku yang akan menjaganya” ucap Mickey sambil membuka pintu kulkas.
"Apa kau yakin?” tanya Lusia.
“Apa aku bisa melarangmu pergi?” tanya balik Mickey dengan menuang air dingin digelas lalu meneguknya.
Lusia diam lalu melanjutkan aktivitasnya, ia sadar jika yang dikatakan Mickey benar. Ia hanya seorang pegawai yang tidak bisa seenaknya sendiri tidak pergi bekerja karena urusan pribadi. Lusia akhirnya mengikuti arahan Mickey untuk tidak absen ke Cafe.
.
.
Di Cafe, Lusia melakukan perkerjaannya seperti biasa meskipun dengan perasaan yang masih risau akan kondisi Rayn. Sempat terpikir olehnya untuk mengambil cuti.
“Apa Kak Lusia sedang ada janji dengan seseorang?” tanya Dave kepada Lusia yang sibuk cek stok di gudang.
“Aku? Seseorang?” tanya Lusia bingung.
Dave mengangguk. “Emm.. seorang wanita cantik mencarimu di depan” sahut Dave.
Lusia menghentikan aktivitasnya lalu pergi untuk melihat siapa wanita yang dimaksud Dave, yang pasti dia bukan Reisa karena Dave mengenal Reisa.
“Dave, aku akan mengambil waktu istirahatku, minta Grace menggantikanku” perintah Lusia setelah melihat Leona duduk di salah satu meja pengunjung. Lusia melepaskan apron lalu menghampiri Leona.
“Hi, maaf jika aku mengganggumu, tapi aku senang kau mau menemuiku dan tidak mengabaikanku” ucap Leona tersenyum.
“Apa aku punya alasan untuk menolak?” tanya Lusia sembari duduk di kursi berhadapan dengan Leona.
“Haha, kau benar” sahutnya dengan menyeruput kopi yang ia pesan. “Wah, rasanya sangat memuaskan. Membuatku ingin selalu datang kemari” ucapnya memuji kopi dari Friends Cafe sembari memandang ke beberapa sudut Cafe.
“Apa Mickey yang memberitahumu tempat ini?" tanya Lusia.
"Apa aku sangat mengganggu waktu kerjamu?" tanya balik Leona.
"Jangan khawatir, aku mengambil waktu istirahatku. Ada sesuatu yang ingin kau bahas denganku?” tanya Lusia.
“Tentu saja, banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. Sebelumnya aku perlu kembali memperkenalkan diri dengan benar kali ini” ucapnya dengan mengulurkan tanganya.
__ADS_1
Lusia mengerutkan keningnya. “Memperkenalkan diri dengan benar?” tanyanya dalam hati dengan meraih tangan Leona.
“Namaku Leona, aku datang kemari untuk membantu kesembuhan Rayn” ucapnya.
“Membantu kesembuhan Rayn?” tanya Lusia untuk memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar.
“Benar, aku dokter yang akan menangani dan bertanggung jawab atas proses pengobatan phobia Rayn” jawab Leona.
“Dokter? Kau datang bersama ayah Rayn, apa dia yang memintamu?” tanya Lusia.
“Bisa dikatakan seperti itu, aku tahu Rayn pasti akan menolak kehadiranku, karena itu aku meminta bantuanmu dan aku harap kita bisa bekerjasama” jawabnya.
"Kenapa harus diriku?" tanya Lusia.
"Apa kau lupa? karena kau satu-satunya orang yang bisa ia sentuh" jawab Leona dengan kembali meneguk minumannya.
Leona adalah seorang dokter psikiater yang akan membantu kesembuhan phobia Rayn dengan metode Hipnoterapi. Sebuah tindakan medis berupa terapi yang menggunakan hipnosis, yakni rangsangan terhadap alam bawah sadar yang memungkinkan Rayn untuk lebih mudah menerima arahan dan kehilangan kekuatan untuk bereaksi.
Selama ini Leona hanya meresepkan Rayn obat untuk meredakan gangguan kecemasan dan meningkatkan suasana hati Rayn melalui Mickey. Dr. Leona di beri tanggung jawab langsung oleh Dr. Daniel. Dr, Daniel sendiri adalah seorang dokter yang pertama kali menangani Rayn paska kecelakaan.
“Aku memang ada disini atas perintah ayah Rayn, tapi kau bisa percaya kepadaku. Aku tidak berada dipihak siapapun, karena aku hanya akan fokus dengan pengobatannya. Jadi, aku rasa kita berada di kapal yang sama” ucap Leona.
“Saat ini yang ingin aku cari tahu adalah mengapa dia tidak memiliki reaksi terhadapmu? Untuk itu, aku membutuhkan detail pertemuanmu dengannya, kau bisa mengatakan semuanya kepadaku dari sudut pandangmu. Dan aku juga membutuhkan Rayn dengan membawanya kembali ke momen itu” jawab Leona.
“Dengan hipnoterapi? Aku tidak yakin Rayn mau melakukannya”sahut Lusia.
“Kau bisa membujuknya” potong Leona.
"Aku tidak punya hak untuk melakukannya, mungkin Mickey juga sudah memberitahumu statusku disana" sahut Lusia.
“Meskipun tanpa hak, aku yakin kau bisa melakukannya. Satu hal yang perlu kau tahu dan aku harap itu bisa meyakinkanmu untuk percaya kepadaku. Soal alasan kenapa Dr. Daniel menghentikan pengobatan Rayn saat itu” ucap Leona. Ia mulai menceritakan sedikit apa yang terjadi.
Dalam phobia yang diderita Rayn, mengetahui pemicunya adalah kunci utamanya dan untuk mendapatkan kunci itu adalah dengan membawa Rayn kembali ke malam kecelakaan itu terjadi. Tapi, saat itu banyak hal yang harus di pertimbangkan Dr. Daniel sebelum melakukannya, yaitu kemungkinan resiko lain yang bisa saja terjadi. Karena Rayn harus kembali ke titik dimana ia akan menerima sebuah tekanan, titik tersulit yang tidak ingin ia terima sehingga mendorongnya pada phobia.
Saat itu, usia Rayn masih terlalu muda. Akan sangat beresiko karena bisa mengancam emosionalnya dan Dr. Daniel cemas jika itu justru akan berujung kepada gangguan lain, yaitu gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder (DID). Suatu situasi sulit karena traumatis yang tidak mampu ia tanggung seorang diri yang akan menciptakan sosok lain pada dirinya untuk melarikan diri.
“Itulah yang menjadi pertimbangan Dr. Daniel saat itu. Ini lebih buruk dan lebih berbahaya daripada phobia yang diderita Rayn. Meskipun aku tidak tahu jelas kondisinya karena saat itu aku bukan siapa-siapa, tapi itu yang aku ketahui dan aku pelajari dari Dr. Daniel. Menakutkan bukan?” jelas Leona.
“Sosok lain?” tanya Lusia.
"Sebuah kepribadian lain yang bisa mengambil alih kontrol tubuh dan pikiran Rayn kapan saja, hal itu dipicu oleh situasi tertentu ketika ia merasa stres, takut, atau marah. Dalam istilah psikologi kami menyebutnya sebagai alter ego, sosok yang menjadi tempat untuknya lari dan bersembunyi. Tentu saja ini tidak boleh terjadi, karena itu Dr. Daniel memilih menunggu sampai ia mampu mengendalikan emosionalnya atau ia memiliki seseorang yang lebih nyata untuknya melarikan diri.
__ADS_1
“Dan menurutmu itu adalah aku? Karena itu kau meminta bantuanku?” potong Lusia.
"Kau benar” jawab Leona.
Selama Dr. Leona ikut terlibat dalam penanganan kasus phobia Rayn, ia sudah berusaha membujuk Rayn melakukan Hipnoterapi, namun Rayn menolak dengan alasan lain. Saat Dr.Leona mendengar kehadiran Lusia, itu seperti harapan baru dan jalan untuk kesembuhan Rayn.
"Sudah saatnya Rayn menjalani pengobatan untuk bisa kembali hidup normal" tegas Leona.
Lusia terdiam, ia masih khawatir akan satu hal. “Apa ia akan sangat menderita saat melakukannya?” tanya Lusia lirih dengan tatapan sendu.
“Tentu saja, ini seperti membuatnya mengalami kejadian itu lagi berulang kali. Lagi, lagi dan lagi sampai kita bisa menemukan pemicu sebagai kuncinya” jawab Leona dengan berat hati untuk mengatakannya.
“Artinya, itu akan terus membuatnya mengalami siksaan itu lagi” gumam Lusia menunduk.
“Untuk itu kau harus selalu ada disisihnya, karena ia akan sangat membutuhkanmu” sahut Leona mendengar gumaman Lusia.
Melihat keraguan yang tesirat di wajah Lusia membuat Leona menarik nafas. “Aku tahu kau sangat mencemaskannya, tapi kita tidak punya pilihan” ujar Leona.
Dr. Leona menegaskan, meskipun keberadaan Lusia saat ini sudah membantu Rayn untuk lebih baik, tapi itu hanya sebatas rasa nyaman yang Rayn terima. Rasa nyaman itu tidak akan menyembuhkan Rayn. Bahkan, tidak menutup kemungkinan phobia Rayn akan semakin buruk dan bisa saja tiba-tiba ia juga memiliki reaksi terhadap Lusia.
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan berusaha yang terbaik untuknnya” ucap Lusia.
“Baiklah, aku rasa hanya ini yang bisa aku katakan padamu saat ini. Di pertemuan berikutnya, aku harap kau bisa datang bersama Rayn” ujar Leona lalu bangkit dari duduknya. Sementara Lusia masih duduk dengan menatap Dr. Leona.
“Aku sangat mengandalkanmu” lanjut ucap Leona lalu pamit pergi meninggalkan Cafe.
Lusia kembali ke kasir dengan wajah yang diselimuti kesedihan dan kerisauan. Lusia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hai, bayi kecilku" sapa wanita yang ada dalam panggilan telepon dengan Lusia.
"Reisa, apa yang harus aku lakukan?" tanya Lusia dengan nada penuh kecemasan.
Reisa yang langsung ditodong pertanyaan itu sontak bingung. Lusia perlahan menceritakan semua yang sudah dialaminya dan keputusan yang harus diambilnya. Hanya Reisa yang bisa menjadi curahan hatinya saat ini.
Lusia sangat ingin membantu dan mengharap kesembuhan untuk Rayn, namun ia tidak menyangka jika itu tidak semudah yang ia pikirkan. Karena bagaimanapun caranya, pada akhirnya hanya akan membuat Rayn kembali terluka. Melihat Rayn menderita dan terluka adalah half tersulit baginya.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1