
Tidak lama setelah Dr. Leona sampai di apartemen nya, ia menerima panggilan telepon dari Mickey yang menghubunginya kembali. Mickey berharap apa yang dikatakan Dr. Leona dalam pesan suara yang dikirimnya adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa ia percayai.
Mickey menekan Dr. Leona untuk segera menyelesaikan penyembuhan phobia Rayn sebelum peringatan kematian ibu Ryan. Mickey tahu jika ia tidak akan bisa menghalangi Rayn kembali ke Kanada untuk mengunjungi pemakaman dihari peringatan kematian ibunya. Karena hal itu, Mickey tidak ingin phobia itu akan semakin menjadi ancaman bagi Rayn saat berada di Kanada.
"Aku justru berencana akan melakukannya setelah ia kembali dari Kanada nanti" tegas Dr. Leona.
Dr. Leona sudah mengetahui rencana Rayn yang akan membawa Lusia ke Kanada. Ia sangat berharap jika itu akan menjadi momen yang baik untuk meningkatkan perasaan keduanya. Emosional Ryan adalah yang terpenting saat ini, semakin berartinya Lusia dalam hidup Rayn maka akan semakin menekan emosional Rayn saat melakukan pengobatan nantinya.
"Apa ada masalah di Kanada? Apa ini ada hubungan dengan pamanmu?" tanya Dr. Leona melihat Mickey sangat terburu-buru.
Mickey terdengar menghela nafas dan terdiam untuk beberapa detik. Dr. Leona meminta Mickey untuk menjelaskan apa yang terjadi karena kali ini dia benar-benar bisa mempercayainya. Mickey akhirnya memberitahu Dr. Leona situasi mereka di Kanada saat ini.
Mickey mengatakan kepada Dr. Leona fakta yang baru saja ia temukan dimana pamannya yang baru saja ia kunjungi di penjara ternyata adalah ayahnya. Ya, ayah Mickey masih hidup dan saat ini bersembunyi dengan mendekam di penjara menggunakan identitas saudara kembarannya, Louis Ryden.
Dr. Leona sangat terkejut mendengar pernyataan itu. "Lalu pria yang tewas dalam penembakan..." tanyanya ragu.
"Ya, pria itu sudah pasti paman Louis" potong Mickey dengan suara tegas.
Dr. Leona sangat paham jika ini tidak hanya sekedar ancaman bagi Rayn, tapi juga akan menjadi pukulan menyakitkan bagi Mickey. Ia sangat mengkhawatirkan Mickey yang mungkin akan kembali menjadi tidak tenang setelah mengetahui ayahnya masih hidup.
"Mickey, kau baik-baik saja?" tanya Dr. Leona lirih
Mickey meminta Dr. Leona untuk tidak mengkhawatirkan dirinya, karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan Rayn. Ia akan mengurus dirinya sendiri, Dr. Leona hanya perlu fokus pada pengobatan phobia Ryan.
"Apa Tuan Charles sudah mengetahuinya?" tanya Dr. Leona. Mickey menjawab dengan gumaman yang membenarkan pertanyaan itu.
Alasan Mickey memberitahu Tuan Charles karena ia membutuhkan bantuan ayah Rayn untuk menyelidiki kembali kasus penembakan ayahnya dulu. Selain itu, jika ayahnya masih hidup maka keselamatan Ryan juga akan semakin terancam. Mickey tahu jika ayahnya pasti akan kembali mengincar nyawa Ryan setelah bebas dari penjara. Hal ini ia lihat dari reaksi sang ayah saat dirinya membahas pembunuhan Ny. Angelina dalam kunjungannya di penjara.
Bagi pria jahat yang selalu bertindak bak psikopat seperti ayahnya tidak akan pernah berhenti melakukan kejahatan sebelum target utamanya dilenyapkan. Dari awal target utama ayah nya adalah Rayn. Bahkan pembunuhan paman Louis pasti juga memiliki kaitan dengan ayahnya yang menginginkan kebebasan untuk balas dendam. Ia tidak akan berhenti sebelum mencapai kepuasan yaitu menghabisi nyawa Rayn.
Pengasingan yang dilakukan Tuan Charles dengan mengirim Rayn keluar dari Kanada selama ini sepertinya telah memberi keuntungan tersendiri untuk kondisi saat ini. Selama ini, baik media, rival bisnis atau siapa pun tidak ada yang pernah mengetahui keberadaan putranya selain orang-orang ia percaya. Maka dengan begitu akan sulit juga bagi ayah Mickey untuk menemukan keberadaan Rayn.
Saat bebas dari penjara, ayah Mickey pasti akan menargetkan Tuan Charles untuk mengetahui dimana keberadaan Rayn. Demi keselamatan putranya, Tuan Charles telah mengatur ulang perjalanan bisnisnya. Ia akan mengurangi perjalan bisnis ke negara dimana Ryan saat ini tinggal. Ia akan menunjuk satu negara yang akan sering ia kunjungi mulai saat ini untuk mengalihkan perhatian ayah Mickey.
Mendengar Tuan Charles ikut bergerak membuat Dr. Leona tidak yakin apakah sebesar itu ancaman ayah Mickey. "Apa mungkin ayahmu bisa melakukan sejauh itu?" tanya Dr. Leona.
"Ayahku tidak akan mampu jika ia melakukannya sendiri, tapi aku yakin dia punya koneksi. Melihat bagaimana dia bisa kabur dan mendekam dipenjara menggunakan identitas paman Louis, maka kita tidak bisa meremehkannya" sahut Mickey.
Dr. Leona menyarankan Mickey jika lebih baik mereka memberitahu Rayn akan situasi ini. Mungkin Rayn akan mempertimbangkan kembali apakah dia akan pergi ke Kanada atau tidak. Dr. Leona yakin jika Rayn juga pasti akan mempertimbangkan keselamatan Lusia. Jika situasinya seburuk itu, maka Rayn tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengan menempatkan Lusia dalam bahaya.
Mickey sangat mengenal Rayn, jika Rayn tahu maka dia justru akan tetap pergi bahkan tanpa Lusia. Rayn tidak akan pernah melepaskan ayah Mickey. Bagaimanapun caranya, Rayn akan membuat ayah Mickey membayar semua perbuatannya. Ya, itulah yang pernah Rayn katakan kepada Mickey. Tidak peduli orang itu adalah ayah Mickey atau siapapun itu ia akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
"Lalu, kau benar-benar tidak akan memberitahunya? .... kenapa?.... Alih-alih keselamatan Rayn, apa karena kau belum siap memberitahunya fakta jika ayahmu masih hidup?" tanya Dr. Leona.
Mickey terdiam, Dr. Leona benar jika sulit baginya untuk mengatakan kepada Rayn jika ayahnya masih hidup. "Aku akan menyelesaikannya Tuan Charles, kau cukup fokus dengan Rayn, jangan pedulikan yang lain" perintah Mickey dengan tegas untuk yang terakhir kalinya.
...***...
Keesokan hari...
Lusia pergi mengunjungi apartemen Reisa. Ya, gadis itu tampak sangat merindukan sahabatnya. Lusia baru hendak menekan bel interkom apartemen di lantai empat, ketika pintu depan terbuka, seorang wanita dan seorang anak perempuan kecil keluar dari gedung. Tangan Lusia terulur menahan pintu tetap terbuka sementara pasangan ibu dan anak itu berjalan lewat.
"Terima kasih" ucap seorang gadis mungil dengan menunduk kepada Lusia.
__ADS_1
Lusia membalasnya dengan tersenyum lalu lanjut melangkah masuk ke dalam gedung dan pintu depan pun tertutup serta terkunci secara otomatis di belakangnya.Tidak butuh waktu lama, kini ia sudah berdiri di depan pintu bercat putih dilantai empat, tempat dimana dulu ia tinggal sebelum pindah ke Villa Rayn.
Tangan Lusia terangkat menekan bel. Pintu baru dibuka setelah Lusia menekan bel untuk ketiga kalinya. "Hai." Lusia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangan untuk menyapa.
Reisa yang berdiri di ambang pintu hampir teriak histeris bahagia melihat kehadiran Lusia. Ia tidak menyangka jika Lusia akan datang tanpa pemberitahuan. Bahkan Lusia yang sudah jelas mengetahui sandi apartemen nya pakai usil menekan bel.
"Kenapa menekan Bel disaat kau bisa langsung masuk" ucapnya, lalu melangkah ke samping membiarkan membiarkan Lusia masuk.
"Apa kau yakin tidak masalah, aku khawatir akan mengecewakanmu karena mengira jika itu adalah David" sahut Lusia sembari menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk yang dulu menjadi ranjangnya.
"Kenapa dia harus kecewa ketika tahu kalau aku sudah ada disini" sahut seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya.
Mendengar suara orang ketiga membuat Lusia sontak bangkit dari kenyamanannya berada diatas ranjang. "Hyaaaa.... sejak kapan dia ada disini?" teriak Lusia menunjuk ke arah David tapi pandangannya menatap tajam Reisa yang sibuk mengoles selai diatas roti.
"Pelankan suaramu, seolah kau sedang memergoki kita yang habis berbuat mesum saja" sahut Reisa santai lalu berjalan ke arahnya. "Apa kau sudah sarapan?" lanjut tanya Reisa.
Lusia hanya menjawab dengan menggeleng kepala, sementara tangannya masih menunjuk ke arah David. Reisa menurunkan tangan Lusia lalu menyuapinya sepotong roti. Seperti anak kecil, Lusia menurut dan membuka mulutnya menerima suapan roti dari tangan Reisa.
"Kau tidak ingin menjelaskannya kepadaku? Reisa apa kau benar-benar sudah....?" tanya Lusia sembari mengekori Resia yang berjalan ke arah meja kerja.
"Rei...saaaa...a" rengek Lusia menantikan sebuah jawaban dan penjelasan.
Resia sontak memukul kepada Lusia dengan sebuah buku. "Singkirkan pikiran konyol mu itu, dia hanya membantuku untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perusahaan Shining Group" sahutnya.
"Shining Group? Bukankah itu perusahan Property dan Real Estate milik ayah Kelvin? Kenapa? Apa David memecatmu lalu memintamu bekerja di sana?"
Lusia terus memberondong pertanyaan tanpa memberi jeda kepada Reisa untuk menjawab. David hanya tersenyum melihat sikap Lusia yang tidak berubah sama sekali. Dengan singkat Resia hanya memberitahu alasannya, ia hanya tidak ingin menyia-nyiakan pendidikannya.
Tidak banyak yang bisa dia lakukan selama bekerja sebagai sekretaris David. David adalah orang yang lebih tidak profesional dan banyak memilih-milih tugas yang ia berikan karena Reisa kekasihnya. Intinya David hanya lebih banyak memanjakan pekerjaannya.
"Lalu kenapa dia keluar dari kamar mandi seolah sudah menginap disini" gumam Lusia.
"Tentu saja aku harus membersihkan diri setelah bermalam dengannya" sahut David membuat Lusia kembali mengerutkan keningnya.
Reisa meminta David untuk berhenti menggoda dan mendorong Lusia semakin berpikir jika telah terjadi sesuatu diantara mereka. Reisa menegaskan, meskipun David bermalam namun tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.
"Tapi... melihat reaksimu, apa kau yakin tidak pernah satu ranjang pun dengannya (Rayn) ?" tanya David yang masih tidak puas untuk menggoda.
Lusia membulatkan matanya akan pertanyaan konyol itu. Ia mengakui jika ia pernah satu ranjang tapi tidak ada apapun yang terjadi. Itu terjadi baru-baru saja saat mereka berbaikan, saat itu Lusia pingsan dan mendapati Ryan sudah berada diranjangnya saat membuka mata. Lusia menegaskan sekali lagi jika tidak ada apun yang terjadi karena Rayn sudah berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum mereka mengesahkan hubungannya dimata hukum dan agama.
"Kau yakin dia tidak melakukan apapun?" tanya David lagi.
"Kenapa, jika itu kau, kau akan mengambil kesempatan kepada Reisa?" tanya Lusia dengan mimik tak tertarik.
"Tentu saja aku sudah menyentuhnya, bahkan dia mengizinkannya" sahut David ringkas.
"David....!!!!" sontak teriak Reisa.
"Reisa....!!!! sontak teriak Lusia bersamaan dengan teriakan Reisa setelah mendengar David mengatakan jika Reisa mengizinkannya.
David bangkit dari duduknya lalu berdiri dan berjalan mendekati Reisa. Dia terdiam sejenak menatap wajah kekasihnya yang terlihat marah sekaligus malu bak kepiting rebus.
Dengan singkat, tanpa aba-aba David mengecup singkat bibir Reisa didepan Lusia. "Hanya bagian ini yang boleh ku sentuh darinya" ucapnya dengan senyum usai mencuri bibir Reisa.
__ADS_1
Lusia sontak mendengus pelan. "Wah...sepertinya aku datang diwaktu yang salah" sahut Lusia menggeleng kepala.
Reisa seketika langsung menendang kaki David karena sudah berani menggoda mereka. Ia lalu mengalihkan pembicaraan aneh itu dengan menanyakan tujuan Lusia datang serta perkembangan hubungannya dengan Rayn.
Lusia menghela nafas, tidak banyak cerita yang bisa ia bagi. Lusia hanya memberitahu Reisa jika saat ini Rayn sedang mempersiapkan liburan ke Kanada dengannya.
"Kanada? Apa kau yakin itu hanya sebatas liburan? Bukankan dia dulu tinggal di sana, bahkan ayah nya pun masih menetap di sana, selain itu mendiang ibunya juga dimakamkan di sana" tanya Reisa.
Lusia mengangguk, Rayn mungkin juga ingin memperkenalkan dirinya kepada keluarganya. Lusia berpikir mungkin ini terlalu cepat mengingat belum lama mereka menjalin hubungan untuk memperkenalkan diri. Tapi, jika ini bisa memberi Rayn kebahagian meskipun hanya sederhana, maka ia tidak akan menolak.
Sampai saat ini Lusia hanya selalu mendengar kisah memilukan yang dilalui Ryan semasa kecil. Semua tentang orang-orang yang dicintainya, baik itu ibu atau ayahnya, semua hanya kenangan yang membuat Rayn terluka. Ia berharap jika setelah ini dirinya dan Rayn hanya akan membuat kenangan yang indah bersama.
Reisa tersenyum, ia akhirnya bisa melihat Lusia yang mulai memikirkan kebahagiannya. Selama ini Lusia hanya peduli dengan kebahagiaan orang lain.
"Jika dia adalah kebahagiaanmu, aku akan selalu mendukungmu Lusia" ucap Reisa memeluk Lusia. "Kau sudah semakin dewasa sekarang dan aku selalu bangga padamu" lanjut ucapnya.
Keduanya kini tampak menikmati waktunya untuk saling berbagi cerita. Tidak lama, momen itu harus berakhir saat Rayn menelpon dan memberi tahu jika dia sudah berada di depan apartemen. Dengan berat hati Lusia harus pamit untuk kembali.
Reisa dan David mengantar Lusia sampai ke lobi apartemen. Di sana mereka melihat mobil Rayn, Rayn membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan dan melempar senyum kepada Reisa dan David.
"Kita seperti orang tua yang melepas putrinya dijemput oleh suaminya" gumam Reisa kepada David.
"Maka kita harus segera membuatnya jadi nyata dan kita semua akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia" sahut David berbisik.
Lusia tersenyum mendengar percakapan keduanya, ia lalu menatap Rayn yang menunggunya.
"Aku tidak mengatakan jika hanya aku satu-satunya orang yang memberinya kenangan indah. Tapi, aku berharap jika aku bisa memberikan akhir yang bahagia dalam hidupnya."
.
.
.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia.
Toon Carnival 2021 Telah dibuka. Yuk bantu Lindungi Karya Mr.Haphephobia.
Caranya :
- Klik Banner yang muncul di kolom Rekomendasi
- Pilih Aula Kehormatan Novel 2021
- Cari Karya Mr.Haphephobia
- Klik LINDUNGI dengan memberikan Bintang kalian untuk melindungi karya ini.
Info tambahan :
__ADS_1
- 1 poin kalian bisa ditukar dengan 1 bintang loh