Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 139 - Tatapan Itu Lagi


__ADS_3

Pertanyaan yang dilayangkan Lusia membuat Kelvin kembali mengingat bagaimana dan kapan pertama kali mereka bertemu. Saat itu, mungkin Lusia tidak menyadari keberadaan dirinya, tapi setiap momen itu masih teringat jelas dalam ingatan Kelvin.


"Bahkan saat ini kau juga memberiku tatapan yang sama seperti pertama kali kita bertemu" ucap Kelvin dalam hati.


#POV Kelvin


Aku tidak pernah berpikir jika tatapan ini yang akhirnya membawaku terus berada disisinya hingga sekarang. Masih teringat jelas dalam ingatanku saat pertama kali aku melihatnya berada dalam bingkai foto yang disembunyikan ayahnya dibalik bantal tidur, di panti jompo, 15 tahun lalu.


Hari itu, aku pergi bersama ayahku mengunjungi ayahnya yang sudah berstatus sebagai tersangka. Sayangnya pria yang selalu baik terhadapku itu tidak berada dalam kondisi mental yang sehat. Tanpa sengaja aku melihat foto yang dia simpan dibalik bantal tidurnya. Saat itu, bibirku langsung mengurai senyum memandang foto gadis yang terlihat begitu sangat riang menggandeng tangan ayahnya.


Aku mengerti kenapa pria yang bahkan bukan ayah kandungnya begitu sangat menyayanginya. Dia gadis yang penuh dengan aura kebahagian dan juga periang. Bahkan ia terlihat bahagia menggandeng tangan pria yang menjadi ayah sambungnya. Gadis yang selalu ceria, itulah yang aku pikirkan hingga bibirku mengurai senyum seiring dengan rasa kagumku akan hubungan ayah dan anak ini.


Waktu terus berlalu dan aku mulai sering memikirnya. Aku memutuskan pergi menemuinya untuk memastikan apa dia baik-baik saja. Ayahnya ditetapkan menjadi tersangka dan juga kondisinya yang tidak sehat, pasti akan sulit untuk gadis itu.


Aku selalu berpikir, apakah dia menjalani hidupnya dengan baik, apakah dia makan dengan baik, apa dia bisa pergi ke sekolah dengan perasaan bangga dan apakah dia masih menjadi gadis yang ceria. Tapi, apa yang aku lihat saat berada didepan rumahnya, sungguh sesuatu yang tidak pernah aku duga. Dia memeluk ibunya yang sedang hamil memasang wajah penuh kebaranian melawan sekumpulan pria yang berbuat kasar kepada dirinya dan ibunya.


Dia berteriak keras dengan suara yang lantang meskipun diiringi air mata yang mengalir. Dia menghentakkan kaki dengan kasar meskipun tenaganya begitu lemah. Dia terus berusaha melawan meskipun tahu tidak akan pernah bisa menang.


Darimana dia mendapatkan keberanian itu?


Dimanakah dia menyimpan rasa takutnya saat ini?


Gadis yang mengesankan, itu yang aku pikirkan.

__ADS_1


Saat pria-pria arogan itu terus menyerang, ada apa denganku? Tubuhku berlari ikut membelanya,aku merentangkan kedua tanganku menghadang mereka dan juga menyerang tanpa arah. Tapi, apa yang bisa aku lakukan dengan tubuhku yang kecil saat itu, akupun habis dihajar.


Aku pikir aku sudah gila, apa yang sudah aku lakukan untuk gadis ini. Usai para preman itu pergi, dia menatapku dengan tatapan yang membuatku terdiam. Sorot matanya penuh dengan amarah, kesal, sedih, dan juga putus asa, semua bercampur menjadi satu.


"Apa kau baik-baik saja" tanyanya kepadaku masih dengan tatapan itu.


Gadis ini, bagaimana bisa aku membiarkannya lebih dulu menanyakan pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadanya. Dan jawaban bodoh yang aku katakan adalah "Ya, aku baik-baik saja". Aku mengatakannya disaat tubuh dan tulangku terasa seperti remuk. Lalu, semua berakhir begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk memperkenalkan diriku.


Dia kehilangan rumahnya, ibunya kembali pulang ke rumah orang tuanya di perkampungan nelayan. Namun, Dia memutuskan menetap di kota seorang diri untuk melanjutkan sekolahnya. Bagiku itu sangat mustahil, apa yang bisa dilakukan oleh gadis ini disini seorang diri. Aku meminta ayahku untuk memberikan tempat tinggal secara gratis. Ayahku mengatur semuanya, dia meminta seketarisnya mengaku sebagai teman baik ayah Lusia dan membantunya melalui tangan orang lain.


Semenjak saat itu, aku selalu pergi menemuinya secara diam-diam tanpa ia tahu. Bahkan aku mungkin bisa disebut seperti seorang penguntit. Tak jarang aku memberanikan diri berpapasan dengannya, tapi ironis kita hanya saling melewati satu sama lain seperti orang asing. Apakah sunggu dia tidak mengingat si anak laki-laki yang dihajar para preman untuknya. Tapi aku mengerti, saat itu ia pasti sangat mengkhawatirkan ibunya jadi dia tidak akan mengingatku.


Lusia tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Dia sangat pandai bermain tenis sehingga mendapat kesempatan mewakili sekolahnya mengikuti begitu banyak lomba. Saat tahu dia akan bertanding, maka aku harus hadir disana untuk mendukungnya. Aku duduk diantara barisan penonton lain yang terus bersorak untuk mendukung sekolah mereka. Aku pikir hanya aku yang akan bersorak untuknya.


Buket bunga, akhirnya aku menemukan sesuatu yang bisa kuberikan kepadanya. Aku kembali berlari masuk ke dalam gedung, tapi seketika aku menghentikan langkah kakiku dan menjadi bingung. Bagaimana aku memberikan bunga ini kepadanya? Apa yang akan aku katakan kepadanya? Dia tidak mengingat atau mengenalku. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Pada akhirnya aku meminta seorang memberikan bunga itu padanya serta memintanya untuk merahasiakan siapa orang memberikan bunga itu.


Tidak hanya itu, bahkan saat ia sedang berjuang untuk ujian sekolah aku juga selalu ada bersamanya seperti sebuah bayangan. Dia belajar seperti orang gila, dia selalu pergi ke perpustakaan seorang diri. Kenapa dia harus melakukanya? Kenapa dia belajar begitu keras? Mungkinkan dia punya mimpi yang harus ia capai dengan belajar? Sungguh membuatku tidak mengerti.


Aku tidak bisa membantunya jadi aku pikir cukup menemaninya disana. Lagi dan lagi aku melakukanya. Aku selalu datang lagi setiap hari dia ada disana. Keesokan harinya aku datang lagi, esok hari lagi bahkan aku sampai membuat alarm jika sudah waktunya aku harus pergi ke perpustakaan untuk menemaninya.


Suatu hari aku terlambat untuk pergi dan aku pun berlari sekuat tenaga untuk bisa cepat sampai di perpustaakan. Sesampai disana seperti sudah menjadi kebiasaan, aku memilih duduk ditempat yang tidak jauh darinya. Dengan nafas yang memburu aku mencoba untuk mengaturnya. Sungguh, ada apa denganku? Kenapa aku harus berlari sementara dia tidak akan peduli aku akan datang terlambat atau bahkan aku tidak datang. Dan aku hanya akan selalu duduk di sudut tanpa melakukan apapun, hanya membalik buku dengan acak tanpa aku baca.


Setiap kali ia pulang terlalu larut malam, aku juga mengikutinya berjalan kaki dibelakang. Langkah demi langkah aku menyamakan irama kaki terus mengikutinya sampai aku benar-benar memastikan ia kembali dengan aman.

__ADS_1


Saat kelulusan sekolah menengah pertama, ibunya saat itu sakit sehingga tidak bisa menghadiri upacara kelulusan. Dia tampak gelisah dan kecewa karena dirinya gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Aku akhirnya mengerti kenapa ia berjuang belajar selama ini, bukan mimpi tapi dia hanya ingin tetap bisa bersekolah.


Aku datang mebawakan buket bunga yang paling cantik untuknya, tapi sayanganya ia tidak terlihat bahagia. Disaat siswa lainnya tersenyum bahagia berbagi foto bersama orang tua dan orang terkasih mereka, aku melihatnya menangis seorang diri. Dia duduk seorang diri menatap bagaimana teman lainnya memegang buket bunga tersenyum mendapat pelukan, sementara dirinya hanya duduk dengan tangan kosong tanpa kehadiran seorangpun.


Aku menatap buket bunga ditanganku. Haruskah aku membayar orang lagi untuk memberikan buket bungan ini, atau mungkin sudah saatnya aku melakukannya sendiri. Aku harus memberinya ucapan selamat. "Selamat, kau sudah melakukan yang terbaik. Aku harap bisa menjadi satu-satunya orang yang akan mengucapkan itu. Bukankah itu yang harus aku lakukan sekarang ketika tidak ada seorang pun yang hadir dan mengatakan itu kepadanya.


Aku harus melakukannya. Ya, aku akan melakukannya sendiri. Aku juga perlu tahu, apakah dia sungguh tidak mengingatku. Aku memberanikan diri melangkahkan kaki menghampirinya. Dia masih tertunduk memandang ke bawah. Apakah dia sesedih itu sampai tidak menyadari kehadiranku yang sudah berdiri didepannya. Aku mengayunkan buket bunga itu kepadanya. Ia lalu mendongak menatap ke arahku dan mata kita akhirnya kembali bertemu.


"Sampai kapan kau akan membiarkanku memegang bunga ini". Akhirnya aku membuka suara berbicara kepadanya.


Dia masih tidak menerimanya, lalu berdiri memandangku. Tapi, kenapa lagi-lagi harus dengan tatapan itu lagi. Kenapa harus sorot mata ini lagi. Sorot mata penuh dengan amarah, kesal, sedih, dan juga putus asa.


"Kau...." ucapnya mengejutkanku.


Dia menatapku dan mengucapkan kata yang membuatku bertanya. Ada apa ini? Apa dia mengingatku?.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2