Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 51 - Orang Pertama Bagiku


__ADS_3

Di Villa, Rayn keluar dari kamarnya memanggil nama Lusia. “Lusia… Lusia…" teriaknya, namun tidak mendapat jawaban dari Lusia. "Apa dia pergi meninggalkan Villa? Atau dia tidur?” tanyanya lalu berjalan menuruni tangga.


“Apa yang dipikirkannya dengan tidur disiang bolong begini” gerutunya sambil menuruni anak tangga dengan terus memanggil nama Lusia.


“Lusia... !


Tiba-tiba teriakan Rayn terhenti begitu juga dengan langkah kakinya saat melihat Lusia berada di ruang tamu. “Wahhh…. pantas saja. Meski aku menggunakan pengeras suarapun dia tidak akan mendengar” ucapnya melihat Lusia duduk di sofa dengan bersila, ia tampak menikmati musik yang sedang ia dengarkan. Telinganya telah disumbat 2 earphone yang tersambung ke ponsel miliknya. Lusia terlihat sangat serius dengan apa yang ia lakukan dengan komputernya.


Rayn merasa sudah tidak ada gunanya lagi berteriak memanggil namanya karena percuma. Ryan beralih mengeluarkan ponsel dari saku jaket cardigan rajut yang dikenakannya. Ia melakukan panggilan telepon dengan Lusia. Rayn mulai mendial dengan senyum sinis seolah merencanakan sesuatu karena tidak puas dimana panggilannya terabaikan.


"Kau lihat, apa kau masih bisa mengabaikanku?” ucap Rayn berharap panggilannya dapat mengejutkan Lusia karena earphone yang Lusia hubungkan dengan ponselnya.


Memanggil…


Panggilan pertama gagal, namun tidak membuat Rayn menyerah. Rayn kembali melakukan panggilan ulang.


Memanggil…


Panggilan online gagal, ia lalu melakukan panggilan prabayar.


Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan atau sedang berada di luar jangkauan....


“Dia mematikan ponselnya? Apa dia hanya bergaya mendengarkan musik? Jadi kau sedang mempermainkanku? Seharusnya dia mendengarkanku dari tadi, tapi dia pura-pura…” gerutu Rayn kesal kembali menuruni tangga.


“Hei…. Lusia…!“ Teriak Rayn dengan menghampiri Lusia. Lusia masih tidak menghiraukan panggilannya.


“Berhenti berpura-pura” ucap Ryan meraih dan melepas paksa salah satu earphone dari telinga Lusia sehingga mengejutkan Lusia.


“Rayn, apa yang kau lakukan? Kau mengejutkanku…” sahut Lusia memandang Rayn yang berdiri dibalik sofa.


Rayn terdiam, ia tampak bingung karena dirinya dapat mendengar jelas meski dengan suara kecil jika earphone yang dipakai Lusia mengeluarkan suara.


Lusia sontak melepaskan satu earphone yang lain. “Ada apa, kau butuh sesuatu?” tanya Lusia meletakkan notebook dari pangkuannya di sofa dan berdiri.


“Ponselmu menyala?” tanya Rayn.


“Tentunya saja” jawab Lusia sambil menunjukkan kepada Rayn setelah mengaktifkan fingerprint dengan sentuhan jarinya. Rayn pun mengambil ponsel itu dari tangan Lusia untuk memeriksa langsung, ia merasa ada sesuatu yang salah dan sangat ganjal baginya. Sesuatu yang membuatnya kesulitan melakukan panggilan langsung dan panggilan telepon.


MODE TERBANG !! (wkwkwk)


Rayn mendengus pendek dengan senyum yang menggambarkan rasa tidak percayanya dengan apa yang ia lihat. Ia merasa malu pada dirinya sendiri setelah menemukan fakta mode terbang di ponsel Lusia. Pantas saja Lusia tidak mendengar panggilannya karena sedang mendengar musik di ponselnya dan pantas saja dirinya tidak bisa menghubunginya karena ponsel Lusia dalam Mode Terbang.


“ha.. haha.. ini perkara kecil Ryan. Hal bodoh apa yang kau lakukan” gumam Rayn dengan tawa canggung.


Lusia tidak paham dengan situasi dan sikap Rayn. “Apa kau baik-baik saja Rayn? Atau kau butuh sesuatu?” tanya Lusia.


“Tidak ada, aku hanya ingin melihat lagu apa yang kau putar sampai terlihat sangat menikmatinya” sahut Rayn menyingkirkan rasa malunya yang sudah menuduh Lusia dan kesal tidak jelas dengan kebodohannya.


Rayn mengembalikan ponsel Lusia, ia lalu melirik apa yang sedang dikerjakan Lusia dengan komputernya. Melihat sesuatu yang menarik, Rayn lantas duduk dan meraih Notebook Lusia.

__ADS_1


Lusia yang masih merasa heran dengan sikap Rayn, ia duduk kembali tepat di sebelah Rayn dengan wajah yang masih bingung setelah dengan kasar Rayn melepas earphone nya.


“Kopi? Kau ingin belajar meracik kopi?” tanya Rayn setelah membaca halaman artikel tentang mengenal jenis kopi dan cara menyeduhnya. Lusia hanya menjawab dengan mengangguk.


“Bukankah kau sudah bekerja di Cafe, untuk apa kau mempelajarinya?” tanya Rayn. "Apa kau merasakan tanda-tanda dipecat? Apa pria itu mengatakan akan mengeluarkanmu jika tidak pandai membuat kopi?” lanjut tanya Rayn.


“kenapa kau berpikir seperti itu? Apa karena kau selalu mengharapkan hal itu terjadi kepadaku?” tanya Lusia balik.


“Hah, kenapa aku harus mengharapkannya sementara aku bisa membuatnya terjadi jika aku menginginkannya” jawab Rayn.


“Wah…, apa kau mengancamku lagi sekarang? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?” tanya Lusia.


“Lalu, untuk apa kau melakukan pencarian tentang membuat kopi sementara kau bekerja dan bisa mencobanya di sana?” tanya Rayn dengan mengembalikan notebook Lusia kembali.


“Tunggu…!!” Teriak Rayn sehingga mengejutkan Lusia.


“Pikiran aneh apa lagi sekarang?” tanya Lusia penuh curiga.


Kali ini Rayn bertanya kembali dengan tatapan serius. “Apa kau menyukainya?” tanyanya.


“Apa yang kau bicarakan, dari tadi kau bersikap aneh” jawab Lusia.


“Apakah dia meminta syarat, jika wanita yang pantas bersanding dengannya harus memiliki keahlian yang sama dengannya? Jika begitu, aku yakin kau akan langsung gagal kualifikasi. Atau kau mempelajarinya untuk bisa menarik perhatiannya?” lanjut ocehan Rayn yang terus membicarakan Kelvin seolah dirinya sedang cemburu.


“Apa yang kau lanturkan, hmm…?” tanya Lusia.


Lusia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rayn. Ia mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba hingga hanya menyisahkan beberapa cm dari wajah Rayn.


Mendengar ocehan Rayn yang melantur membuat Lusia ingin memeriksa apakah saat ini Rayn sedang terpengaruh alkohol. Ryan perlahan menggerakkan tubuhnya menghindar melihat Lusia terus bergerak mendekatkan wajahnya,


Dug... dag dig dug….


Jantung Rayn berdeguk tak beraturan saat wajah cantik Lusia terlihat sangat jelas memenuhi seluruh pandangannya. Ia bahkan tidak bisa mendengar apa yang sedang dikatakan Lusia, ia hanya bisa mendengar suara detak jantungnya yang semakin tak karuan.


“Apa kau mabuk?” tanya Lusia dengan mengenduskan hidungnya.


“Deg…!”


Rayn memegang bahu kanan Lusia untuk menahan tubuh Lusia yang semakin dekat dengan dirinya,mesipun ia sudah tidak bisa menghindari wajah Lusia didepan matanya.


Merasakan tangan Ryan yang tiba-tiba mencengkeram bahunya, Lusia baru mulai menyadari jika wajahnya sudah terlalu dekat dengan Rayn. Ia pun terdiam, Lusia ingin kembali memposisikan duduknya. Namun, pandangan indah didepan matanya tidak ingin ia lewatkan.


Mata Lusia mulai menelusuri seluruh wajah Rayn. Mulai dari manik mata kecoklatan yang memilik tatapan tajam namun sangat menawan. Menelusuri kedua alis tebalnya, hidungnya yang mancung, bahkan tahi lalat mati berukuran kecil dibawah mata kanan Rayn yang dapat menambah pesona seksi dari wajah Rayn.


Lusia tersenyum tipis, ia mengakui betapa tampan dan juga menggemaskan pria didepannya itu. Melanjutkan memandang wajah Rayn, mata Lusia terus bergerak hingga ke bagian menawan yaitu bibir tipis Rayn.


“Siapa yang percaya jika bibir ini suka mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan” gumam Lusia dalam hati.


Disisi lain, Rayn mengerutkan keningnya melihat Lusia terus menatapnya. Bahkan senyum manis Lusia saat memandangnya sungguh membuat hatinya campur aduk dan tak terkendali. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya jika dirinya bisa akan sedekat ini dengan seseorang.

__ADS_1


“Kenapa... kenapa kau selalu menjadi orang yang pertama?” ucap Rayn dalam hati, tanpa sadar ia semakin kuat menggenggam bahu kanan Lusia.


Orang pertama yang mencuri perhatianku sebagai gadis berkuncir kuda ..


Teringat sekilas pertama kali pertemuannya dengan Lusia saat kembali dari Canada.


Orang pertama yang bisa menyentuhku ..


Teringat sekilas Lusia menolongnya saat di Galery.


Orang pertama yang menggenggam tanganku ..


Teringat sekilas Lusia mengulurkan tangannya.


Orang pertama yang datang di setiap kesulitanku ..


Teringat sekilas Lusia datang ke hotel usai ia bertemu ayahnya.


Orang pertama menggetarkan.... hatiku saat ini ..


Ryan yang masih menatap Lusia.


“Ada apa ini? Apa dia sedang mencuri hatiku?” tanya Rayn & dan Lusia dalam hati mereka masing-masing bersamaan.


Menyadari ada sesuatu yang tidak benar, Rayn segara melepaskan genggamannya dan kembali duduk menghadap ke depan. Hal sama pula yang di lakukan Lusia, ia juga melepaskan tatapannya lalu dengan sigap kembali duduk menghadap depan. Keduanya tampak duduk bersebelahan dengan canggung.


Rayn menatap Lusia yang terlihat lebih salah tingkah darinya, ia kemudian kembali menatap ke depan dengan tersenyum, senyum manis yang menggemaskan karena melihat tingkah menggemaskan Lusia.


“Misi ke-3 mu kali ini aku yang akan putuskan kita akan pergi kemana” ucap Rayn dengan berdiri.


“Misi ke-3?” tanya Lusia.


“Ya, misi ke-3 mu, aku ingin pergi ke Cafe” jawab Rayn.


“Cafe?” tanya Lusia kembali. Dirinya memang belum merencanakan kemana ia akan pergi untuk misi selanjutnya.


“Pergilah bersiap-siap, kita akan pergi ke Cafe tempatmu bekerja sekalian aku mengantarmu” perintah Rayn lalu pergi meninggalkan Lusia.


“Ok, kita ke Café” ucap Lusia mengangguk dengan membereskan komputernya.


Lusia menghentikan aktifitasnya sesaat. “Tapi tunggu..!! Cafe tempatku bekerja?” tanya Lusia yang baru menyadari jika Rayn menyebutkan jika tempat dari misi itu adalah Cafe tempatnya berkerja.


“Rayn… dari banyaknya Cafe, kenapa harus Cafe tempatku bekerja?” tanyanya kepada Rayn yang tetap melanjutkan langkahnya pergi mengabaikan teriakan Lusia.


.


.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2