Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 146 - Cinta Sejati itu Dirimu


__ADS_3

Kehadiran Lusia adalah segalanya bagi Rayn. Dia adalah wanita spesial yang tidak akan pernah Rayn lepaskan. Wanita yang telah menjadi tujuan hidupnya. Apapun akan ia lakukan untuk bisa menjaga dan melindunginya.


Jika makna cinta sejati adalah sebuah kenyamanan, kepercayaan, dukungan dan juga keberanian, maka kini aku sedang dianugerahi cinta sejati itu. Cinta itu telah memandang kelemahan dan kekhawatiranku lalu berseru memanggil namaku disaat aku hanya diam berdiri tenggelam dalam ketersesatanku.


Dalam gelap memberiku sebuah cahaya yang menuntun setiap langkahku menemukan jalan baru. Dalam dingin mendekapku dengan sebuah sentuhan hangat setiap kali aku kembali mengambil jalan yang salah. Menghembuskan gemuruh angin yang terdengar seperti sebuah bisikan, memintaku menutup mataku dan membiarkan naluriku yang akan menuntunku pada tujuanku. Sebuah naluri dimana cinta itu yang akan menjadi fokus ku.


Dalam kesunyian, melalui sebuah bunyi lonceng yang berdenting merdu, hatiku mulai bergetar. Sebuah pertanda jika aku telah mencapai tujuanku dengan kunci yang tak pernah aku sadari selalu ada dalam genggamanku. Maka aku telah sampai pada gerbang yang mereka sebut adalah kebahagianku.


Dibalik gerbang yang telah terbuka, aku melihatnya. Aku melihatnya bediri disana melambaikan tangan tersenyum ke arahku. Cahaya itu, sentuhan hangat itu, dekapan itu, bisikan itu dan suara yang terus memanggil namaku itu adalah dia. Aku pun tersenyum saat menyadari jika cinta sejati itu adalah dia. Aku pun mulai meyakini jika semua sihir ini adalah sebuah takdir yang ditulis untukku.


.


.


.


Di Villa...


Lusia duduk di balkon seraya menatap pepohonan dibalik lampu penerangan. Ia menatap sebuah cahaya yang terpancar disela pepohonan pinus yang berjejer rapi dalam pesona. Membuat pantulan bayang-bayang pepohonan menghitam yang tidak akan menghilang dalam kegelapan malam.


Setelah melewati hari penuh kesibukan dan kebersamaannya dengan kedua orang tuanya, Lusia sama sekali tidak menunjukkan rasa lelah. Bagimana mungkin rasa lelah itu menghampirinya ketika dirinya menikmati setiap momen yang ia lalui penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Rayn datang menghampiri sang istri yang tampak menikmati setiap hembusan angin malam yang membawa kesegaran dan kesejukan menenangkan hati. Rayn memberikan secangkir coklat hangat yang baru saja ia buat untuk Lusia. Secangkir coklat yang dapat memperbaiki suasana hati dan juga menghapus rasa lelah diraga.


"Minumlah selagi masih hangat" ucap Rayn.


Lusia menyeduhnya dengan hati-hati. Sungguh manis, itu yang diucapkannya kepada Rayn. Rayn meraih selimut yang ada dikursi lalu menyelimutkannya pada punggung dan bahu Lusia. Lusia menoleh, menepuk sofa berulang memberi isyarat pada Rayn untuk duduk bersamanya. Rayn melempar senyum lalu duduk disamping Lusia. Tanpa banyak kata Lusia membagi selimut yang ia kenakan untuk Rayn lalu kembali menatap ke arah pepohonan.


Rayn melihat Lusia yang termenung dalam diam. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.


Rayn adalah suaminya, apa yang terjadi dengannya dan apa yang ia rasakan, entah itu adalah sebuah kegelisahan atau bahkan kebahagian, maka sudah seharusnya dirinya bisa membaginya dengan Rayn. Itulah yang Lusia pikirkan, ia pun mulai bercerita dan Rayn dengan senang hati mendengarnya.


Lusia mengatakan jika dirinya membicarakan banyak hal dengan ibunya tadi. Begitu banyak cerita bahkan termasuk apa yang telah menjadi alasan ibunya tidak pernah menceraikan ayah tirinya.


Tentang apa yang dialami ayah nya, mungkin bagi banyak orang akan memutuskan meninggalkanya. Tapi, ibunya tidak pernah melakukannya. Ibu Lusia memilih untuk tetap bertahan dan akan terus menjadi satu-satunya orang yang akan selalu berada disisinya dan mendukungnya.


Sebelum menikah dengan ibunya, pria yang kini masih menyandang status sebagai suaminya itu ternyata bukanlah orang lain. Pria itu adalah sahabat baiknya dan juga sahabat ayah kandung Lusia. Mendengar hal ini, mungkin semua akan berpikir tentang cinta segitiga, yah itulah yang terjadi diantara mereka sebelum ibunya dan ayah kandungnya menikah.


Ayah tirinya adalah orang yang memilih untuk mundur dan merelakan wanita yang dicintainya bersama sahabat baiknya. Waktu terus berlalu dan ia selalu mendukung keduanya untuk bisa hidup bahagia.


Namun, takdir berkata lain karena jodoh kedua sahabatnya harus berakhir ditangan Tuhan. Ibu Lusia dan juga Lusia harus kehilangan orang yang mereka cintai untuk selamanya. Kepergian suaminya telah memberi kesedihan dan luka yang mendalam dalam hidup ibu Lusia. Sabuah kesedihan yang tak pernah berakhir, sebuah duka yang membuat dunia seperti telah runtuh, itu yang dirasakan ibu Lusia.


Ibu Lusia yang tak mampu menahannya memutuskan untuk mengkahiri hidupnya setalah berencana menitipkan Lusia yang saat itu masih duduk dibangku sekolah dasar kepada neneknya.

__ADS_1


Takdir kembali memberi jalan lain, saat itulah seseorang yang menjadi ayah sambungnya hadir dalam keluarga mereka. Ayah tirinya adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa ibunya yang saat itu akan mengakhiri hidupnya untuk yang kesekian kali.


Ayah tiri Lusia mulai memberikan perhatian dan dukungan lebih untuk ibunya. Dia terus berjuang membuat wanita yang pernah berada dalam hatinya itu mendapatkan semangat hidupnya kembali. Semua dia lakukan hingga pada akhirinya ayah tirinya memutuskan untuk menikahi ibunya.


Ayah tiri Lusia adalah pria berhati lembut dan juga penyayang. Dia sungguh tulus mencintai ibu Lusia dan memperlakukan Lusia seperti putrinya sendiri. Lusia pun mengakui jika ayah tirinya adalah sosok yang kembali membawa kebahagiaan dalam keluarga kecilnya. Dan ia menerima pria itu sebagai pengganti sosok ayahnya yang telah pergi untuk selamanya.


Lusia menceritakan semua kepada Rayn dengan air mata yang mulai menetes. "Aku adalah orang bodoh yang sudah membencinya selama ini. Aku pikir jika dia adalah pria yang telah mempermainkan ibuku. Disaat aku dan ibuku mulai bergantung kepadanya, tapi dia justru pergi meninggalakan kita semua dengan masalah yang terus bertubi-tubi datang. Itulah yang aku yakini selama ini."


"Aku tidak tahu jika ternyata ayahku mengalami kesulitan ini dan bahkan demi diriku, demi masa depan dan kebahagianku mereka memilih menanggung beban ini sendiri. Mereka lebih memilih aku membencinya daripada membagi beban itu padaku. Dan...."


Lusia semakin tidak bisa menahan rasa bersalahnya, air mata itupun terjatuh disertai isakan yang menyesakkan. "Dan... Rayn.. bukankah aku adalah seorang putri yang sangat jahat. Aku hanya mempercayai apa yang ingin aku percayai dengan terus membencinya" ucap Lusia, ia semakin menangis tersedu.


Rayn merangkul tubuh istrinya, ia memeluk dan menepuk lembut berulang pada bahu Lusia. "Kenapa kau terus menyalahkan dirimu. Jangan lakukan itu. Bukankan kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Mulai sekarang pikirkanlah bagaimana cara untuk membahagiakan mereka. Itu yang harus dilakukan dan aku akan menjadi seseorang yang memberikanmu dukungan itu" ucap Lusia dengan suara yang menenangkan.


Rayn melepaskan pelukannya, ia kembali menatap lekat wajah Lusia. Perlahan Rayn mengusap, menghapus air mata Lusia yang masih mengalir. Rayn meraih kedua tangan Lusia dan menggenggamnya. "Lusia, dengarkan aku. Jika aku berada diposisi ayahmu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan aku tidak akan pernah sekalipun menyalahkanmu ataupun membencimu atas keputusan yang aku pilih. Semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Begitu juga dengan ayahmu, ayahmu melakukannya karena dia sangat menyayangimu, karena itu berhenti membuat apa yang sudah ayahmu perjuangkan menjadi sia-sia. Saat ini yang kita lakukan adalah membuatnya bahagia" ucap Rayn lalu kembali memeluk Lusia.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2