
***
Puspa memasukkan telur ke dalam wajan dan menaburinya dengan garam saja.
"Biarkan saja" terdengan suara Arga yang tiba-tiba ada di belakang Puspa
"Tuan, sedang apa disini. Jangan mengacau" Puspa menyiapkan piring untuk telurnya
Arga mengabaikannya dan tetap menonton Puspa.
"Haduhhh kenapa jadi grogi sih" gumam Puspa. Telurnya tidak sengaja luput dari piringnya dan jatuh ke lantai
Arga hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat Puspa yang gemetar memegang piring.
"Hiiisssssshhh pergilah dari dapur, Tuan" Puspa jengkel sendiri. Karena grogi telurnya jatuh dan membuat Puspa malu.
Puspa mendorong Arga dari lengannya, tapi sayangnya tenaganya jauh berbeda dari Arga. Puspa memicingkan matanya sedangkan Arga hanya diam tidak bergeming.
Tiba-tiba Hp Arga berdering, Mama nya menelfon
"Iya, Ma. Ada apa"
"Sayang, cepat kamu kesini. Ke Rumah sakit xx"
"Hm? Rumah sakit?"
"Iya, dia membutuhkanmu"
"Kapan?"
"Sekarang juga"
"Oh. Oke"
Arga langsung mengakhiri telfonnya
"Aku harus pergi"
__ADS_1
"Nyonya sakit?" Puspa mengernyitkan dahinya
"Entah" Arga langsung membalikkan badan
"Ini tidak jadi makannya?" Puspa mengikuti Arga dengan langkah kecil.
"Tidak" Arga langsung keluar rumah Puspa dan masuk ke mobil
"Ohh baiklah. Hati-hati, ya" Puspa berdiri di depan pintu sampai Arga masuk ke dalam mobil
"Ha? hati-hati?" Puspa tidak percaya ia bisa mengucapkan hal yang menggelikan itu.
Arga hanya mengangguk dan melajukan mobilnya, tanpa Puspa ketahui Arga sedang tersenyum
🍀🍀🍀
Setelah mobil Arga sudah tidak terlihat lagi, Puspa bergegas masuk dan menelfon Ilham untuk menjelaskan semuanya. Ia tidak mau sampai Ilham berfikir Puspa sedang melakukan hal-hal negatif.
Berdering, namun tak kunjung di angkat. Puspa pun mengirim chat via WhatsApp, centang 2 namun hanya di read.
"Kenapa dia? apa sedang sibuk"
'Ting'
Chat dari Ilham, Puspa segera membukanya. Ia terkejut.
"Tidak perlu berusaha menjelaskannya, jauhi saja aku"
Puspa mengernyitkan dahinya,
'Ting'
"Ku kira kau mencintaiku, aku bekerja siang malam untuk menyiapkan ini. Tapi kau malah bersetubuh dengan Pria sialan itu"
Puspa melongo, apa yang Ilham katakan?
'Ting'
__ADS_1
"Hari itu aku ingin menemuimu dan aku berhenti di taman, tapi ku lihat kau sedang bersamanya, jadi ku urungkan semua. Tapi semalam kau melakukan hal itu kan dengan dia? Dasar matre!. Jangan kau cari-cari aku lagi, Puspa. Lupakan kita pernah bersama. Lupakan. Bye, jangan datang lagi di hidupku, kau membuatku sakit dan susah hidup, kau hanya menggores luka"
Foto Profil Ilham pun tidak ada,
Puspa tercengang akan semua kalimat Ilham
"Matre? Aku bahkan tidak meminta sepeserpun uang padanya" Puspa menahan sesak di dadanya, ia merasa terhina padahal ia belum menjelaskan yang sebenarnya
"Beraninya hanya melalui tulisan, banci" Puspa mengatur nafasnya dan menyeka air matanya.
"Bapak saja yang telah menghidupiku bertahun-tahun tidak pernah mengatakan aku matre" Puspa menyeka air matanya lagi.
Seketika ia teringat Bapaknya, sudah lama ia tidak bertemu dengan Bapaknya itu.
Puspa berdiri di depan cermin, ia mengingat saat-saat sebelum ia tahu Bapaknya telah selingkuh.
Puspa tersenyum getir mengingat semuanya, ia menyentuh cermin itu dan jarinya mengarah menunjuk dirinya, Puspa melihat jarinya di pantulan cermin yang seakan-akan menudingnya.
"Kau menyedihkan" ucap Puspa dengan lirih. Puspa memukul cerminnya itu. Ia menjatuhkan dirinya di lantai,
"Harusnya aku ikut Ibu. Permainan di dunia terlalu berat untuk ku jalan sendirian. Terlalu banyak sandiwara selama ini dan aku tidak bisa mengontrol semuanya, Hiks"
"Kenapa aku menjadi gadis menyedihkan seperti iniiiii!!!!" Puspa mengambil parfum dan melemparnya ke tembok hingga botolnya pecah.
Puspa tidak menyangka akan mendapat hinaan seperti ini. Ilham, temannya sejak kecil, bisa ia mengucapkan semua itu.
Serpihan kaca dari botol itu berserakan di lantai, Puspa mengambil satu serpihan kaca itu dan meletakkannya di pergelangan tangannya.
"Maafkan aku, Puspa.... Puspa akan menyusul Ibu dan Joni, kok" Puspa tersenyum, ia memejamkan mata dan menggesek dengan penuh tekanan pecahan kaca itu.
"Aaaaarrghhhhhh"
Puspa menjerit, merasakan sakit yang luar biasa dari pergelangan tangannya, ia membuka matanya perlahan dan mendapati pergelangan tangannya yang sudah menganga dan mengeluarkan darah.
Puspa merasakan sakit yang semakin kuat, ia merebahkan dirinya di lantai
"Sakit, Bu" Puspa memejamkan matanya, mencoba mengabaikan rasa sakit itu. Darahnya mengalir membasahi sedikit bagian roknya
__ADS_1