
Bapak Puspa terkejut saat tangan dingin menyentuh tangannya, ia berbalik dan mendapati Puspa berdiri di belakangnya
"Kamu di kamar saja, Bapak buatkan minum dulu"
Puspa menggeleng kepalanya, ia langsung memeluk Bapaknya dengan erat sambil menahan isak tangis
"Kenapa Puspa harus mengalami ini?"
Bapak Puspa tidak menjawab, ia mengelus kepala Puspa sambil mengecupnya beberapa kali
"Kalau keluarga kita lengkap, Puspa tidak akan mengalami hal ini kan, Pak?"
Bapak Puspa mendapat telfon dari Pak RT, setelah mendengar apa yang disampaikan pak RT, ia langsung pergi ke rumah lamanya dengan perasaan campur aduk. Rasa kecewa, marah, takut dan khawatir menjadi satu. Ia tidak bisa tenang saat mendapat kabar bahwa Puspa telah membiarkan seorang pria tinggal seatap bersamanya walaupun tidak menetap
Setelah sampai di rumah lamanya, amarahnya menghilang saat melihat Puspa dengan kondisi terduduk seperti itu. Ia langsung berlari dan memeluk Putrinya dengan tubuh dingin dan gemetaran. Ia ikut mengutuk dirinya karena gagal melindungi anaknya sendiri
"Maafkan Bapak"
"Kenapa takdir Puspa begini" Puspa melepas pelukannya, ia langsung berjalan menuju kamar dan menguncinya dari dalam
Puspa menelfon Arga, namun baru saja panggilannya masuk langsung ia batalkan. Puspa merasa tidak perlu memberi tahu Arga, tapi di sisi lain ia merasa Arga harus tau
Puspa : "Jangan temui aku lagi, aku minta maaf. Tapi ini jalan yang terbaik. Terimakasih atas segalanya"
Puspa mengirim chat tersebut lalu memblokir Arga.
'Tok tok tok'
"Nak, buka pintunya. Bapak buatkan minum nih. Masih hangat"
Puspa tidak menyahut,
"Kamu mau makan apa? Bapak belikan setelah ini" Bapak Puspa masih membujuk Puspa
Sedangkan Puspa masih diam tidak menyahuti Bapaknya
"Baiklah, Bapak menginap disini malam ini. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang sama Bapak ya. Jangan begadang, ya"
Puspa masih diam.
01:00
Puspa membuka pintu kamar dengan pelan. Ia melihat Bapaknya tertidur di kursi. Dengan langkah dan menjinjit Puspa keluar dari rumah.
Setelah berhasil keluar dari rumahnya, ia langsung berlari tanpa tujuan. Ia kesusahan berlari karena membawa tas berisi beberapa pakaian.
Di jam ini masih belum ada orang yang bangun, Puspa melepas sandalnya dan melanjutkan larinya.
Aspalnya terasa dingin, Puspa berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Sedikit lagi ia sudah akan sampai di jalan raya.
Puspa berjalan santai dan memakai kembali sandalnya, ia terus berjalan hingga sampai di jalan raya. Ia berjalan di trotoar tanpa tahu mau kemana, yang ia lakukan hanya berjalan dan terus berjalan, yang penting jauh dari rumahnya
Di jalan raya hawanya terasa sedikit hangat, beberapa pengendara motor berlalu lalang. Puspa menghela nafas, merutuki dirinya yang nekat keluar dari rumah.
__ADS_1
30 menit ia berjalan membuat kakinya mulai pegal. Baru saja Puspa akan duduk di tepi trotoar, ia mengenali mobil yang menuju ke arahnya
"A-Arga?!" pekik Puspa pelan. Ia langsung berdiri dan berlari satu arah, saat mobil agak dekat dengan Puspa, ia berbalik dan lari berlawanan arah
Nafasnya terengah-engah, namun Puspa mengabaikannya dan terus berlari. Mobil Arga berbalik arah dan mengejar Puspa lagi. Sementara itu Arga yang menyetir mobil semakin kesal pada Puspa karena Puspa menghindarinya
"Sial, aku tidak pernah berlari secepat ini, dadaku sesak" batin Puspa
Dada dan perut Puspa terasa sakit, ia kesulitan bernafas hingga keseimbangannya terganggu dan akhirnya Puspa tersandung kakinya sendiri, ia terjatuh.
"Aawwwww" Puspa berusaha bangkit
Namun sayangnya Arga menarik tas Puspa hingga ia tertarik ke belakang. Arga menatap Puspa yang membelakanginya dengan tatapan geram. Puspa berontak walaupun kondisinya tidak baik-baik saja
"Lepass!!" teriak Puspa
Tidak kehabisan akal, Puspa melepas tas nya dan lanjut berlari dengan langkah kecil. Langkahnya terasa berat dan dadanya semakin sakit
"Apa aku akan mati?"
Arga menyusul Puspa dan langsung menarik tangan Puspa hingga Puspa berbalik, Arga semakin geram saat melihat mata Puspa sembab dan bengkak
"Eh? Aku tertangkap?" batin Puspa
Puspa tidak lagi melawan karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit di dada dan perutnya, ia langsung lemas dan Arga langsung menangkap Puspa yang akan terjatuh
"M-Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Puspa, kemudian Puspa tidak sadarkan diri. Arga menggendong Puspa dan membawanya masuk ke dalam mobil
Arga sedang melakukan pekerjaannya, tiba-tiba panggilan masuk dari Puspa. Saat akan mengangkat panggilan, malah dimatikan oleh Puspa. Arga pun meletakkan kembali Hp nya, ia juga mensilent Hp nya.
Tidak lama kemudian ada chat masuk dari Puspa namun karena di silent jadi Arga tidak menyadarinya
01:01, pekerjaannya selesai, Arga meraih Hp nya dan terkejut ada chat dari Puspa
Mata Arga membulat saat melihat isi chat Puspa, ditambah ia di blokir oleh Puspa. Arga langsung memakai pakaian lengkap dan keluar dari kamarnya untuk bergegas ke rumah Puspa
Arga emosi atas tindakan Puspa padanya, di sepanjang jalan ia tidak bisa tenang dan sabar. Ia terkejut saat melihat Puspa ada di trotoar, ia pun melajukan mobil ke arah Puspa namun Puspa malah lari darinya
Flash Back Off
Beberapa menit kemudian Puspa siuman, ia melihat sekelilingnya
"Eengghh" lenguh Puspa
Arga langsung memeluk Puspa dengan erat
"Dia bod*oh atau bagaimana? Aku semakin sesak nafas"
Puspa mendorong tubuh Arga dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya, Puspa juga membuka pintu mobil dan menghirup oksigen
Setelah terlihat tenang, Arga menarik Puspa ke dalam dan menutup pintu mobil serta menguncinya
"A-Anu-"
__ADS_1
"Bod*oh!" dengan nada tinggi, Puspa tersentak dan merasa sakit
"Kenapa membentakku?" dengan suara gemetar dan mata yang mulai basah lagi
Arga memeluk Puspa dan menyentil kepala belakangnya
"Kau mau pergi dariku lagi?!" masih dalam kondisi memeluk Puspa
Puspa membalas pelukan Arga, air matanya mengalir begitu saja. Puspa mengeluarkan kesedihannya, ia menangis dengan keras dan tubuhnya gemetar lagi
Arga mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Puspa
"Maaf~"
"Maaf~"
"Maaf~"
Hanya kata itu yang mampu Puspa lontarkan.
"Jangan pergi lagi" ucap Arga dengan suara lirih dan menahan tangis
"Huwaaaaa maaf~" Puspa menangis dengan keras hingga membuat telinga Arga berdenging, tapi Arga mengabaikan itu karena hal itu bisa menenangkan Puspa
"Jangan pergi"
Puspa mengangguk dan mengeratkan pelukannya
🍀🍀🍀
Bapak Puspa terbangun, ia melihat pintu kamar Puspa masih tertutup, dari celah pintu masih terlihat lampu kamarnya menyala
"Nak, tidurlah. Jangan begadang, nanti sakit" Bapak Puspa mengira Puspa ada di dalam kamarnya
***
Puspa sudah tenang, dan Arga mengintograsi Puspa. Puspa menceritakan semuanya, sesekali air matanya menetes saat menceritakan apa yang terjadi malam ini
Arga yang mendengar itu langsung emosi lagi, namun ia tidak memungkiri bahwa itu juga salahnya
Arga menggenggam tangan Puspa.
"Aku akan memberi pelajaran pada mereka"
Puspa membulatkan matanya
"Jangan! Jangan lagi begitu, Tuan. Ini salahku, mereka hanya melakukan hal yang seharusnya" Puspa ngeri ketika Arga berkata seperti itu. Ia teringat akan masalah Arga dengan Ilham, ia tidak ingin kekerasan atau hal semacamnya yang seperti itu terulang lagi
Arga menyatukan dahinya dengan dahi Puspa
"Mereka menyakitimu"
Puspa dapat merasakan tubuh Arga bergetar, Puspa berkesimpulan Arga sedang menahan amarah atau tangis
__ADS_1