
Lama mereka berpelukan, Bapak Puspa terharu bercampur rasa malu.
"Kenapa kau mempertahankan aku? Aku sudah tidak gadis lagi." Puspa melonggarkan pelukannya namun Arga langsung mempererat kembali.
"Ka-Karena aku mencintaimu," dengan suara pelan.
Mendengar jawaban Arga membuat Puspa semakin terisak.
"Jangan menangis, Bodoh." bisik Arga dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
***
Di perjalanan Pulang Arga selalu menggenggam tangan Puspa, sesekali Bi Ina berdehem karena di jadikan obat nyamuk. Sesampainya di rumah Puspa ternyata sudah ada Elisa yang menunggu di luar rumah. Ia terkejut melihat mata Puspa yang sembab.
"Pus, kau kenapa?!" Elisa langsung merangkul Puspa saat keluar dari mobil.
"Tidak ada apa-apa kok. Kau sudah lama? Maaf membuatmu menunggu." Puspa tersenyum.
"Kau tidak di apa-apakan sama dia?" tanya Elisa sambil menatap Arga sekilas.
Arga menghela nafas lalu menarik Puspa dari Elisa dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Apa-apaan sih!" Elisa kesal.
"Permisi ya," ucap Bi Ina yang ikut masuk ke dalam.
"Bi, tolong siapkan air hangat untuknya."
"Baik, Tuan Muda."
Bi Ina segera ke dapur. Arga menggendong Puspa masuk ke kamar dan tidak menghiraukan Elisa.
"Elisa ada di luar," Puspa ingin keluar dari kamar namun Arga mencegahnya dan menarik Puspa hingga terjatuh di ranjangnya.
"Biarkan saja. Aku hanya mementingkanmu." Arga mengecup kening Puspa lembut dan lama.
"Terima kasih," ucap Puspa yang kembali menitikkan air mata.
"Kau cengeng sekali." Arga tersenyum tipis lalu menjilat air mata Puspa pipinya.
"Awwww geli." dengan suara serak.
Elisa yang mendengar dari balik pintu salah sangka dan mengira Arga sedang melakukan hal yang tidak-tidak dengan Puspa.
Elisa cemburu dan langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya dulu.
__ADS_1
'Ceklek'
"Puspa!"
Puspa terkejut, ia menoleh ke pintu dan mendapati Elisa dengan wajah marah. Arga yang sedang membuka jendela memicingkan mata lalu membalik badan.
"Eeeee anu.." Elisa malu.
Arga berjalan perlahan dengan tatapan tajamnya, Elisa yang melihat tatapan Arga agak takut. Tanpa berkata apa-apa, Arga mendorong pelan Elisa hingga keluar kamar Puspa lalu menutup pintu dengan keras.
"Arga...." Puspa bangun dari ranjang.
"Jangan terlalu kasar. Dia pasti tidak sengaja."
"Buka matamu, Puspa."
Elisa yang merasa terasingkan dan tidak di anggap tidak bisa berkata apa-apa. Ia langsung pergi ke dapur dan melihat Bi Ina sedang memanaskan air.
"Mereka itu tidak mesum seperti yang kamu fikirkan," ucap Bi Ina tanpa menoleh pada Elisa.
Elisa tidak menanggapinya lalu mengambil air minum. Rupanya Bi Ina melihat Elisa yang main membuka pintu kamar Puspa. Perasaan Elisa kacau, ia memijat pelipisnya. Hatinya semakin sakit melihat rumah Puspa yang sudah mulai di dekorasi dan pernikahan mereka berdua sudah hampir di depan mata.
Elisa mengambil Hp miliknya dan membuka sosmed supaya perasaan anehnya teralihkan. Mata Elisa membulat melihat postingan seseorang yang menampilkan laki-laki bunuh diri dengan cara gantung diri. Ia semakin terkejut melihat ada surat yang bertuliskan permintaan maaf pada Puspa dengan menuliskan nama lengkap Puspa.
"Puspa! Puspa!"
Arga membuka pintu dan menatap datar Elisa.
"Puspa, gawat. Ada yang bunuh diri dan menyebut namamu!"
Puspa sontak terkejut, Arga langsung memberi jalan pada Elisa untuk masuk ke dalam kamar. Elisa langsung menunjukkan postingan tersebut. Puspa menutup mulutnya menggunakan tangan mungilnya, nafasnya rasanya berhenti sesaat. Melihat reaksi Puspa yang seperti itu membuat Arga penasaran dan ikut melihatnya.
Arga merebut Hp Elisa dari tangan Elisa lalu membaca captionnya.
"Siapa tamu terakhirmu?" tanya Arga.
"Ilham." dengan lemas
"Sial, aku keduluan." umpat Arga.
Arga mengembalikan Hp milik Elisa. Di satu sisi Puspa merasa sedih kehilangan temannya, di sisi lain ia marah karena Ilham pelaku atas hilangnya kegadisannya.
Berikut informasi dari postingan tersebut.
●Sebuah akun sosmed bernama ×××× memposting kasus yang baru saja terjadi. Postingannya menunjukkan foto Ilham yang di temukan gantung diri di kamarnya dan ada sebuah surat di ranjangnya.
__ADS_1
"Dear, Puspa.
Aku tau aku salah, tolong maafkan aku. Aku sudah gelap mata, aku mencintaimu namun aku tidak bisa memilikimu. Hatiku hancur saat tau kau akan menikah dengan kekasihmu. 'Puspa, biarkan aku pergi membawa apa yang berharga bagimu', Aku ingin sekali mengatakan itu namun aku tau kau pasti menolaknya, jadi aku merebutnya dengan paksa. Sekali lagi aku memohon maaf padamu, aku duluan yaaaa... Aku mencintaimu, selalu"
Itulah isi surat yang Ilham tinggalkan.
🍀🍀🍀
Keesokan paginya Puspa bersama Arga datang ke makan Ilham sambil membawa bunga. Mereka melihat Ibu Ilham yang menangis di samping makan Puteranya. Ibu Ilham melihat kedatangan Puspa dan langsung berdiri. Puspa baru saja membuka mulut namun Ibu Ilham langsung menyerang.
"Apa yang kau lakukan disini, hah? Puas kau?!" Ibu Ilham berjalan mendekat ke samping Puspa dan berniat memukul Puspa.
"Jangan kurang ajar." Arga menarik Puspa ke belakang tubuhnya.
"Kau yang kurang ajar! Perempuan ini telah menghancurkan hidup anakku! Kini aku benar-benar sendiri!!!" Ibu Ilham masih berusaha mendekati Puspa namun di halangi Arga.
"Bu, Puspa kesini datang untuk-"
"Tutup mulut kotormu!"
"Jangan berani meninggikan suara terhadapnya," dengan penuh penekanan
"Aaaaaaarrghhhhhh!!!!" Ibu Ilham langsung duduk disamping makam Ilham dan memeluk nisannya.
"Pergi kalian!!!" usir Ibu Ilham
Puspa dan Arga tidak menanggapinya, mereka berjalan ke sisi lain makam Ilham dan berjongkok lalu membaca do'a dan kemudian menaburkan bunga segar di atas makam Ilham. Melihat itu Ibu Ilham kembali marah, ia menyingkirkan bunga-bunga itu dan melempari mereka dengan tanah kuburan Ilham.
"Pergi kalian!!!"
Arga mulai kehabisan kesabaran, ia langsung melangkah dan berdiri di belakang Ibu Ilham, Arga memegang dagu Ibu Ilham dari belakang dan mengangkatnya hingga ia menghadap ke atas.
"Harusnya kami lah yang marah pada anakmu itu, dia telah melakukan hal memalukan dan membuat calon Istriku kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kematiannya bukanlah kesalahan kami, tapi itu akibat dari ulahnya sendiri. Jangan lagi melakukan hal yang kasar pada calon Istriku atau aku akan mengirimmu pada anakmu itu."
"Argaaa, lepaskan," Puspa menarik tangan Arga
Arga langsung melepas tangannya dari dagu Ibu Ilham. Arga menarik tangan Puspa dan melangkah pergi dari makam Ilham
"Semoga kau akan merasakan kehilangan seseorang yang berarti bagimu! Ini adalah do'a dari seorang Ibu yang telah menderita karena kehilangan Puteranya!!!! hiksss."
Hati Puspa berdesir, ia menatap Arga dengan raut wajah panik. Arga menyentuh wajah Puspa dan menatapnya dalam.
"Itu tidak akan terjadi, karena kita tidak bersalah." ucap Arga dengan senyuman tipis.
Puspa mengangguk, mereka meninggalkan TPU tersebut.
__ADS_1