Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Mahar


__ADS_3

Puspa berdiri dan berjalan ke arah jendela, ia membuka gordennyadan benar saja Arga yang datang. Dengan masih mengenakan pakaian formal kerja Arga datang ke rumah Puspa


Arga menaikkan alisnya saat mendapati Puspa meliriknya dari jendela. Puspa membuka jendelanya


"Pintunya tidak di kunci" ucap Puspa


Arga tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam rumah Puspa dan menuju kamar Puspa


Puspa tersenyum saat Arga sudah masuk ke kamarnya, Arga langsung duduk di samping Adik Puspa dan menoel pipi gembulnya


"Sudah pulang kerja?" tanya Puspa dan ikut duduk di sebelah Adiknya juga


"Sudah" Arga masih menoel-noel pipi Adik Puspa karena gemas walaupun raut wajahnya terlihat datar


"Anu.. Mau ada yang ku tanyakan padamu" ucap Puspa, ia berdiri untuk mengambil botol susu lalu seperti biasa menyusukannya pada Adiknya dan berharap Adiknya bisa tidur lelap malam ini


"Tanyakan saja" Arga mengambil alih tangan Puspa yang memegangi botol susu


"Eh, biar aku saja" Puspa berusaha merebut kembali botol susunya namun Arga menolak


"Katakan, apa yang ingin kau tanyakan"


"Hemmm, biar aku saja yang memeganginya, kau pasti lelah"


"Tidak"


"Tapi kau aneh semenjak ada Adikku"


"Hm"


Puspa memutar matanya, ia menarik nafas dalam-dalam.


"Anu.. Sebenarnya begini..." Puspa memainkan ujung jarinya


"Hm?"


"Tadi pagi kau kesini?"


"Iya. Kau masih tidur. Ada masalah?" Arga melirik ke arah Puspa dan mendapati raut wajah Puspa agak sedih


Puspa tidak menjawab


"Katakan saja jika ada masalah"


"Aku tidak tau harus bagaimana"


Arga menautkan alisnya


"Anu... Emm masalah hubungan kita" Puspa gugup dan agak merasa tidak enak untuk menceritakan apa yang terjadi tadi pagi


"Tetanggamu?"


Puspa terkejut


"Eh?"


"Apa lagi yang mereka katakan?"


"Huufft... Bagaimana ya. Begini... Kurasa apa yang mereka katakan ada benarnya juga, jadi kita juga perlu mengambil inti baiknya"


"Apa yang mereka katakan?"


"Ssshhh itu.."


"Puspa, katakan dengan jelas" nada bicara Arga sedikit ditekan


"Mereka khawatir kita melakukan hal yang tidak seharusnya" dengan suara pelan dan gemetar disertai malu


Arga menyipitkan matanya


"Yang mana orangnya?"


"Eh jangan macam-macam. Seperti yang ku katakan tadi, kita ambil yang baik-baik saja. Mereka tidak sepenuhnya salah"


"Mulut mereka lebih cocok untuk dijahit"

__ADS_1


"Apakah tindakanku ini salah, ya? Bagaimana kalau dia melakukan hal yang aneh-aneh lagi" batin Puspa


"Tapi yang mereka katakan sebenarnya ada benarnya kok" Puspa meremas ujung pakaiannya


"Hm?"


"Kita.. Kurangi dulu pertemuan kita sampai kita menikah"


"Tidak" tolak Arga dengan cepat


"Yang mereka katakan ada benarnya, Arga. Kita tidak tau kapan kita khilaf dan melakukan hal tidak-tidak" Mata Arga dan Puspa saling beradu


Puspa ingin mengurangi interaksi langsung mereka sedangkan Arga tidak ingin melakukan hal tersebut


"Aku tidak akan menodaimu" ucap Arga dengan raut wajah yang serius, Puspa merasa bahagia mendengarnya


"Aku akan mempercepat waktu pernikahan kita" ucap Arga lalu menurunkan pandangannya ke Adik Puspa yang sedari tadi melihat ke arah Arga


Puspa tersipu mendengar hal tersebut


"Aku mau pernikahan kita digelar sederhana saja" pinta Puspa


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Secepatnya aku akan menyiapkan pernikahan kita. Setelah tanggalnya di putuskan, kita akan mengurus baju pernikahan kita dan lainnya"


Jantung Puspa berdebar kencang


"Anu... Itu.."


"Aku tidak menerima penolakan"


"Tapi apa harus secepat itu?"


Arga mengangguk, ia menarik botol susu dari Adik Puspa dan menyodorkannya pada Puspa


"Eh sudah habis, ya. Pinternya Adiknya Kakak" Puspa mencium pipi Adiknya


"Lembut dan kenyal"


Terlihat Arga juga ingin melakukannya, namun ia malu


"Akadnya sederhana saja ya, kau juga tau kan kondisi rumahku seperti apa"


"Iya, aku mau akadnya di laksanakan disini. Disini banyak kenangan akan keluargaku"


"Baiklah"


"Tidak ada resepsi juga tidak masalah, kok. Yang terpenting sudah sah" pipi Puspa panas


"Itu urusanku"


Puspa menghela nafas


"Berapa mahar yang kau minta?"


Mendengar pertanyaan itu Puspa jadi bingung


"Mahar ya? Aku belum memikirkan hal itu. Semampumu saja, deh"


"100 juta?"


"Uhuukk!" Puspa tersedak ludahnya sendiri


"Kurang?" tanya Arga


Puspa tidak bisa berkata-kata, Puspa menggeleng


"300 juta?"


Puspa menganga


"Tidakkah itu terlalu berat?"


"Tidak masalah"


"Dia ini kelebihan uang atau apa?" batin Puspa

__ADS_1


"Yang tidak memberatkanmu tetapi juga tidak merendahkanku"


"Katakan saja berapa"


"Ya semampumu, Arga"


"500 juta?"


Puspa menyipitkan matanya


"Jangan becanda, ya"


"Aku serius" Arga mengambil Hp nya untuk menunjukkan isi saldo miliknya


"Anggak ratusan juta itu bukankah terlalu berlebihan?"


Arga menunjukkan layar Hp di depan wajah Puspa, Puspa menganga melihat jumlah saldo rekening Arga


"Jika kau mau 1 M, aku masih sanggup" ucap Arga lalu memasukkan Hp ke dalam kantong jas nya lagi


"A-Aku bingung" Puspa mengedipkan matanya berulang kali


"Ku tawarkan minimal 100 juta" ucap Arga


"Terlalu banyak" balas Puspa dengan rasa terkejutnya yang masih ada akibat melihat saldo rekening Arga


"Kau fikir-fikir dulu. Minggu depan kita akan berdiskusi kembali dengan Orang tuamu"


"Eeeeehhhhh????!! Minggu depan???!"


Arga mengangguk


"Kau mau besok?" goda Arga


Puspa membuang muka


"Kau fikir ini apa? Mana bisa begitu. Jangan bercanda"


"Bisa"


"Tidak lah, mengurus berkas kan juga harus butuh menyiapkan perlengkapan berkasnya"


"Kita bisa menyuruh orang"


"Kau ini sukanya suruh-suruh ya"


Arga tersenyum tipis


Tiba-tiba Arga menyentuh tangan Puspa dan membuat Puspa terkejut.


"Ada apa?" tanya Puspa gugup


Arga membuka mulut untuk mengluarkan perkataan tetapi ia tidak mampu


"Tidak ada" Arga berdiri di ikuti Puspa


"Aneh"


"Aku lapar" ucap Arga lalu menarik lengan Puspa dan membawa Puspa keluar kamar


"Lalu kenapa menarikku?"


"Masakkan aku makanan" jawab Arga, baru saja Puspa akan berucap sesuatu namun Arga langsung masuk ke kamar Puspa dan mengunci pintu dari dalam


"Lahh, jangan kau apa-apakan Adikku"


"Ya"


"Hmmmm yasudah, nanti setelah selesai aku akan memanggilmu"


"Hm"


Puspa menuju dapur dan mulai memasak, sementara Arga langsung merebahkan dirinya di samping Adik Puspa lalu ia memiringkan badannya dan mencium pipi Adik Puspa yang gembul dan kenyal


"Kenyal!" Arga pun melakukannya lagi hingga Adiknya terlihat agak tidak nyaman

__ADS_1


"Aromanya yang khas dan juga kenyal" Arga merasa ingin menggigit pipi di depannya itu


"Aku jadi ingin punya sendiri" gumam Arga dan mulai berkhayal memiliki anak sendiri


__ADS_2