
"Kamu tidak sendirian, Pus. Aku akan ikut denganmu. Okeey." Elisa memeluk Puspa erat.
"Tidak. Kau tetaplah sekolah, El. Aku yang harus pergi sendiri"
Teman yang lain kebingungan terhadap pembicaraan pasangan best friend ini.
"Tapi, Pus"
"Kumohon.. Aku butuh waktu untuk sendiri.." Puspa menatap Elisa . Mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
Dengan berat hati Elisa menuruti Puspa.
" Kalau ada apa-apa hubungi aku. Ingat" Elisa masih terisak
Puspa hanya tersenyum.
🍀🍀🍀
10:00 Wib
Puspa berjalan dengan langkah gontai dan mendapati Rina sedang berkacak pinggang di depan pintu
"Mau apa dia?" Gumam Puspa.
"Ada perlu apa?!" Ketus.
Rina menoleh dan menatap Puspa.
"Hoooo habis nangis ya. Haha kasian" Rina tertawa saat melihat mata Puspa yang bengkak
"Cih.. Buang-buang waktu." Puspa sedikit mendorong Rina agar tidak menghalangi jalannya.
"Eh kurang ajar kamu ya"
"Kamu bahkan tidak pantas menginjakkan kaki kotormu kemari" Puspa menyentuh gagang pintu dan langsung di tarik oleh Rina.
'PLAK'
Puspa agak terpental karena tamparan yang keras.
__ADS_1
Puspa melotot
"Heh situ gila ya!"
"Itu hadiah untuk bocah kurang ajar sepertimu" Rina tertawa puas.
Puspa mengepalkan tangannya.
Ia melepas tas nya dan...
'BUGHH' Tas Puspa mendarat sempurnah di wajah Rina dan menyebabkan riasannya rusak.
Puspa tersenyum licik.
"Mam*pus!" Ucap Puspa
"Kurang ajar!!"
"Tolong jangan buang waktuku!. Katakan ada apa hingga menyebabkan kau masih bisa datang kemari padahal sudah ku bongkar keburukanmu. Kau tidak punya malu ya? Ahah aku lupa! Wanita sepertimu mana punya urat malu"
"Kau!"
"Mana suamiku. Kau menyembunyikannya disini kan!" Curiga Rina.
Puspa tertawa
"Ahahahha... Bapak? Wkkwk Bapak sudah pulang tadi pagi. Dan ya, Mungkin Bapak sudah ke pengadilan untuk menggugat cerai atau kemana"
"Jangan sembarangan bicara" Rina mengangkat tangannya hendak menampar Puspa lagi.
Puspa dengan sigap memukul lengan Rina hingga ia meringis kesakitan.
"Aawww shhhh" Rintih Rina
"Aku bisa saja nekad mencekikmu jika kau masih berani macam-macam" Ancam Puspa.
Puspa tidak bohong, Tadi pagi Bapaknya telah pamit pulang.
Rina memijit pelan lengannya yang cenut-cenut.
__ADS_1
"Dan ya, PERGI DARI SINI JAL*ANG!!" Puspa berteriak di depan muka Rina. Melakukan hal yang sama saat Rina berucap di depan wajah Puspa ketika resepsi bulan lalu.
"Kurang ajar!!!" Rina meraih rambut Puspa dan menjambaknya. Puspa tidak tinggal diam.
Ia menendang lutut Rina hingga ia tersungkur.
"Hikss aawwa"
"Hei ada apa kok ribut" Tanya salah seorang tetangga Puspa.
"Mau membersihkan sampah bumi," Jawab Puspa tersenyum
Tetangga itu mendekat ke rumah Puspa.
"Sampah bumi bagaimana?"
"Yaa mengurusi jal*ang ini salah satunya." Puspa terkekeh
"Apa? Jal*ang? Wahh cantik-cantik murah!" Tetangga itu memukuli Rina.
"Awww berhenti. Sakit.. awwww sshh"
Puspa tersenyum.
"Sudah sudah, Bu. Kwkwkw nanti bu Dina di marahin sama Bapak." Puspa menghentikan pukulan itu
"Apa? Jadi wanita ini yang merebut Bapakmu? Wah masih punya muka dia kemari ya? " Bu Dina hendak memukul lagi namun di cegah oleh Puspa.
"Biarkan dia pergi. Dia juga mengandung adik ku"
"Kau dengar itu? Gadis ini masih bisa berbaik hati padamu atas tindakan yang kau lakukan. Memalukan. Pergi!" Usir Bu Dina.
Rina berdiri dengan susah payah. Ia menatap tajam Puspa.
"Awas kau" Ancam Rina. Ia melangkah pergi dengan langkah yang tertatih.
"Bu Dina maaf membuatmu terganggu" Puspa merasa sungkan.
"Tidak... Kamu tidak apa-apa kan? Apa dia juga menyakitimu?" Bu Dina mengecek badan Puspa.
__ADS_1
"Dia tidak menyakiti fisikku, tapi bathinku" Jawab Puspa dengan tatapan nanar.