
🍀🍀
Mama Arga langsung mengelus Jesi yang sudah siuman. Suaminya melengos melihat hal itu.
"Mama terlalu memanjakannya" Papa Arga berdiri
"Pa, Jesi pasti di jebak, Pa. Jesi bukan orang yang seperti itu. Pasti ada yang sengaja memasukkan sabu itu dan juga rokoknya"
"Hm, oke kalau itu menurut Mama, apakah membawa mobil Papa tanpa seizin sang empunya juga termasuk jebakan orang? Bela saja terus. Arga juga pasti akan membencinya setelah tau ini" Papa Arga melangkah keluar ruangan.
"Tanteeeee" Jesi merengek meminta belas kasihan
"Sayang, apa itu semua ulahmu?"
"Jesi minta sangat maaf. Jesi janji tidak akan melakukan hal itu lagi" Jesi menitikkan air mata
Flash Back On
"Abang" panggil Jesi dan membawa sepiring buah
Arga langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan, dan Jesi mengikutinya.
"Apa maumu?" Arga menghentikan langkahnya
"Abang, Jesi bawakan buah untukmu"
"Aku tanya apa maumu!" Arga membalikkan badan menghadap Jesi
"Bang, salahkah aku berbuat baik padamu?" Jesi memasang wajah sedih
"Salah" Arga melangkah pergi dari hadapan Jesi. Jesi pun tetap mengikuti Arga. Arga masuk ke kamarnya dan duduk di sofanya. Dan ternyata Jesi langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.
Arga membulatkan mata dan ingin berbuat kasar.
__ADS_1
"Sopan santunmu mana?!" Arga bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Jesi.
"Maafkan aku, Bang. Tapi-"
'Praangg' Arga langsung melempar piring di tangan Jesi. Jesi terkejut.
"Kau sepupuku, tapi kau tidak punya etika. Sama sekali tidak pantas!"
"Kalau aku ketuk pintu, Abang pasti tidak akan membukakan pintu" Jesi nampak sedih
"Jesi! Jangan melampaui batas. Aku bisa saja membunuhmu saat ini. Pergi!" Arga membentak Jesi
"Tidak! Abang, Jesi hanya ingin di dekat abang. Apakah itu salah?" Jesi menitikkan air mata, ia menyeka air mata itu.
"Kau sudah gila, Jesi. Pergi dari sini atau ku pakai kekerasan"
Jesi pun tetap berdiri di hadapan Arga. Ia tidak yakin Arga bisa kasar padanya.
Jesi mendongakkan kepalanya, ia melihat Arga yang murka. Dengan tekad yang kuat, Jesi membuka 2 kancing kemejanya dan melihatkan belahan dadanya.
"Kau gila?"
"Iya aku gila bang, aku suka sama Abang! Love You" Jesi mendekatkan dirinya pada Arga, namun sayang Arga langsung menyeret Jesi untuk keluar dari kamarnya.
"Menjijikkan"
"Abang, dengarkan aku dulu" Jesi mencoba masuk ke kamar Arga lagi, Arga langsung menutup pintu dan alhasil muka mulus Jesi mencium pintu dengan keras hingga sedikit mental ke belakang
"Secepatnya pergilah dari sini!" Teriak Arga dari dalam kamar
"Abang!!!" Jesi menangis.
Bi Ina yang menyaksikan itu hanya bisa diam dan merasa jijik pada Jesi. Bi Ina berencana akan memberitahu hal ini kepada majikannya nanti malam setelah mereka pulang
__ADS_1
Hingga sore si Jesi tetap menunggu Arga di luar kamarnya. Arga pun merasa terusik dan tidak tenang. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Saat pintu terbuka, Jesi senang sekali.
"Abang" Arga menatap kesal Jesi yang ternyata tidak pergi dari kamarnya. Arga mengunci kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga
"Abang" panggil Jesi lagi, ia juga memegang lengan Arga karena merasa terabaikan.
Arga menghempas tangan Jesi hingga tubuhnya terhuyung dan jatuh di anak tangga.
"Sekali lagi kau melakukan itu, habis hidupmu" ancam Arga dengan nada dingin. Jesi yang terduduk di anak tangga merasa dangat kesal.
"Aaarrrggghh" Jesi mengatur nafasnya. Ia bangkit dan berlari menuju kamarnya sendiri.
"Tuan Muda mau kemana?" tanya Bi Ina saat Arga membuka pintu
"Arga mau keluar, Bi. Bilang sama Papa dan Mama untuk tidak mencariku" Arga langsung berjalan menuju garasi
"Baik, Tuan Muda" Bi Ina sedikit membungkuk.
Dari jendela kamaranya, Jesi melihat Arga yang pergi. Jesi merasa malu telah melihatkan belahan dadanya tapi yang ia dapat hanya bentakan. Untuk meredakan streesnya, Jesi punya cara.
Ia menutup dan mengunci pintu kamar dan mengambil sesuatu yang mini, putih, dan dibungkus dengan klip. Jesi tersenyum, tidak lupa ia juga mengambil rokok favoritnya.
"Sempurna" Jesi tersenyum memandangi sabu-sabu dan rokok di depannya.
***
Malam pun datang, Arga tidak kunjung kembali. Jesi kecewa. Ia mengonsumsi sabu lagi. Ide cemerlang hinggap di otaknya, ia turun ke bawah dengan pandangan yang agak berbeda.
"Mau kemana, Non?" tanya salah satu pembantu
"Bukan urusanmu" Jesi menuju garasi dan melihat ada mobil milik Papa Arga yang lainnya.
__ADS_1
Jesi memanggil satpam
"Iya, Non. Ada yang dapat saya bantu?"