Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Bapak?


__ADS_3

"Arga!" Panggil Papanya agak emosi setelah melihat posisi Puspa yang menindih Arga tadi.


Arga dan Puspa membalikkan badan dan mendapati Papa Arga, Kasek dan satu orang siswa sedang menatapnya.


"Eee.. Itu.. Tadi.." Puspa kikuk


"Papa. Arga bisa menjelaskan ini." Papa Arga melangkah mendekat.


"Kalian berdua.. Ini tempat umum untuk apa kalian bermesraan disini"


"Tuan besar, Bukan begitu. Anda salah faham. Tadi saya-"


"Aku tidak minta penjelasan darimu." Papa Arga menatap tajam


Puspa langsung diam seribu bahasa. Malu bercampur aduk dengan rasa takut.


"Pulang" Ucap Papa Arga.


"Tapi, Pa"


"Ku bilang Pulang!!!" Arga mengepalkan tangannya.


"Puspa... Kelakuanmu ini berpengaruh pada reputasi sekolah. Jangan salahkan Bapak kalau nilai ujian kamu akan buruk"


Puspa membulatkan matanya.


"Apa-apaan ini." Bathin Puspa berontak


"Kalau nilai saya rendah bahkan di bawah rata-rata juga akan berpengaruh pada reputasi sekolah, Pak" Puspa tidak terima

__ADS_1


"Kalau begitu, saya akan fikirkan hukuman yang tepat untuk kamu"


Puspa menganga...


Hari yang sial, Hari ini dia kehilangan hp, bahkan kehilangan muka di depan kepala sekolahnya.


"Tapi, Pak ini tidak seperti yang kalian fikirkan. Tolong dengarkan penjelasan saya" Rengek Puspa.


Siswa yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan, Kini ia tersenyum remeh pada Puspa.


"Oh shit! Sekarang nama baikku juga akan tercoreng di depan satu siswa adik kelasku yang tidak lama akan menyebar ke seluruh siswa di yayasan ini." Puspa Menepuk jidatnya.


🍀🍀🍀🍀


Di Taman


"Ini. Minum dulu" Elisa menyodorkan Aqua. Puspa meraihnya dan tersenyum


Elisa memilih duduk di samping Puspa dan menikmati pemandangan air mancur di depan mereka.


"Kau masih memikirkan itu?" Tanya Elisa saat mendapati Puspa melamun.


"Tentu. Huuffttt... Aku.. Aku tidak tau harus apa. Kehidupanku semakin hari semakin rumit." Puspa meneguk airnya.


"Puspa.. Ini kan hanya kesalah fahaman saja. Lagipula kalian tidak sengaja bukan?. Kita akan jelaskan pada Kasek besok" Ucap Elisa


"Kalau dia tidak percaya?" Puspa menatap Elisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku akan menemanimu besok. Tenanglah." Elisa mengusap punggung Puspa yang bergetar

__ADS_1


Puspa hanya mengangguk dan berharap ini hanya mimpi.


***


Hari mulai menjelang petang. Puspa baru sampai di rumahnya dan mendapati seorang pria yang sedang duduk di teras.


Puspa mendekat dan mencoba menebak siapa itu.


"Bapak?" Puspa terdiam di tempatnya


Bapak Puspa yang tadinya menunduk, langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati Putrinya sedang menatapnya.


"Bapak ada perlu apa kemari?" Tanya Puspa.


Bapak Puspa tidak menjawab, Ia berdiri dan langsung memeluk Puspa. Puspa tidak membalas pelukan itu. Ia hanya terdiam menahan sakit di dadanya.


Puspa melepas pelukan itu.


"Jawab aku. Ku harap Bapak tidak bisu setelah kejadian di malam resepsi itu" Puspa tersenyum meremehkan.


"Apa kamu tidak mempersilahkan Bapak masuk dulu?" Tanya balik Bapak Puspa.


"Hm... Baiklah. Sebagai tamu saja" Puspa berjalan melewati Bapaknya yang terdiam di tempatnya.


'Tamu ya? bukan orang tua lagi?' Bapak Puspa merasa hatinya di iris.


Puspa membuka pintu dan menyuruh Bapaknya masuk. Puspa meletakkan tas nya di kursi dan menuju dapur untuk membuatkan teh.


Bapak Puspa masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


'Rumah ini.. Isinya sama. Tapi rasanya ada yang berubah' Ia duduk di kursi sambil membawa bingkisan yang sudah ia siapkan untuk Puspa.


__ADS_2