
🍀🍀🍀
Puspa merebahkan dirinya di ranjang, ia baru datang melayat ke rumah pemilik warung makan tempat ia bekerja, sekaligus ia pergi ke pasar
"Aku harus mencari pekerjaan baru" gumam Puspa.
Puspa merogoh Hp di tas miliknya, ia juga mengambil secari kerta pemberian Elisa, setelah menambahkan ke kontak, Puspa akan menghubungi Elisa untuk bertanya pekerjaan. Baru saja Puspa akan mengirim chat, ternyata chat Elisa masuk terlebih dahulu.
Elisa : "Pus, setelah ini aku akan kesana. Jangan kemana-mana ya"
"Yah, dia lebih gercep" Puspa berjalan ke dapur untuk memasak dengan bahan-bahan yang telah ia beli tadi
30 menit berlalu
'Tok tok tok'
"Puspaaa! Kau ada di rumah?" panggil Elisa
Puspa segera membukakan pintu
"Ada, kok. Ayo masuk dulu. Masakanku belum matang, hehe" Elisa langsung duduk dan Puspa ke dapur untuk mengambil teh
"Astaga, aku lupa memberitahumu. Aku kesini untuk mengajakmu jalan-jalan. Aku yang traktir" ucap Elisa dengan senyum lebar
"Eh? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Puspa datang membawa segelas teh
"Lupa, hehe. Baiklah, ayo siap-siap"
"Tapi masakanku" Puspa sudah masak beberapa lauk dan nasinya hampir matang
"Dimakan nanti saja, kita sudah lama tidak jalan-jalan kan"
Setelah berfikir panjang, akhirnya Puspa menyetujuinya dengan syarat menunggu nasinya matang
Elisa tersenyum, ia melakukan hal ini bukan hanya karena rindu jalan berdua, tapi ia ingin membuang perasaan kagumnya terhadap Arga dengan selalu melihat Puspa
***
"Kau ada alasan lain mengajakku keluar?" tanya Puspa. Mereka akhirnya sampai di mall.
"Tidak, aku hanya rindu kita jalan berdua. Setelah kita menikah, kita mungkin akan sangat sulit mrnyempatkan diri untuk bersenang-senang" Elisa tersenyum pada Puspa
"Ya, kau benar juga. Aku ingin ice cream"
"Okeee! Kita masuk segera. Hahah" Elisa dan Puspa bergandengan tangan dan masuk ke dalam mall
__ADS_1
Puspa sudah mulai terbiasa ke tempat mewah seperti ini. Mereka berdua berputar mengelilingi mall, dan melihat barang-barang yang ada disana.
"Bagus tidak?" Elisa memegang sepatu yang lumayan mahal
"Bagus-bagus"
Beralih ke tempat pakaian, Elisa mengambil beberapa baju dan mencocokkannya pada Puspa, Puspa menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju
Mereka selalu bergandengan tangan saat berjalan.
Setelah kurang lebih 3 jam berada di dalam mall, akhirnya mereka telah usai dengan urusan mereka. Mereka keluar dengan belanjaan yang tidak sedikit, lebih tepatnya kebanyakan itu barang-barang milik Elisa
Puspa hanya membeli seperlunya saja, karena uangnya pun terbatas.
"Aku ingin menginap di rumahmu malam ini" ucap Elisa sambil bersandar di mobil
"Boleh, boleh"
"Yeaayy! Pak, nanti bilang sama Papa ya, aku menginap di rumah Puspa"
"Baik" supir keluarga Elisa menganggukk
***
"Wwuuuhhh akhirnyaaaa!" Elisa menjatuhkan dirinya di ranjang Puspa
Puspa hanya tersenyum, ia membuka jendela kamarnya dan membiarkan angin sore masuk ke dalam kamarnya
"Karena ini adalah rumahku" Puspa meletakkan barang belanjaan mereka ke sudut kamar
"Ya ya ya. Nanti malam kita masak-masak yuk, lihat resepnya di youtube" ajak Elisa
"Boleh juga, aku tadi beli beberapa bahan masakan"
"Bagus! Ini akan jadi malam yang menyenangkan setelah sekian lama"
Puspa duduk di ranjangnya, Elisa bangkit dan langsung memeluk Puspa dari samping
"El, kenapa?" Puspa menoleh
Elisa menggelengkan kepalanya, ia bersandar di bahu Puspa
"Apa ada masalah?" tanya Puspa, Elisa masih menggelengkan kepalanya
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku berharap kita akan seperti ini sampai kapanpun"
__ADS_1
Puspa yang mendengar itu mulai bingung
"Lah, memangnya ada apa? Kita akan tetap menjadi sahabat sampai kapanpun" ucap Puspa
"Semoga itu benar" bathin Elisa.
🍀🍀🍀
"Kau kelelahan, istirahatlah" Dokter Andre baru saja memeriksa Yuli yang mengeluh pusing berat
"Terima kasih" ucap Yuli yang terbaring di ranjangnya
"Tidak perlu berterima kasih. Aku harus segera kembali ke Rumah Sakit" Dokter Andre berdiri, namun tangannya ditahan oleh Yuli
"Bisakah kau menemaniku sebentar saja?" tanya Yuli dengan raut wajah sedih
Dokter Andre mengambil nafas dalam-dalam
"Baiklah, 1 jam saya ya. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja" Dokter Andre tersenyum dan kembali duduk
"Andai aku adalah gadis itu, pasti kau akan menemaniku tanpa ku minta" bathin Yuli
"Baiklah, sebaiknya kau kembali ke rumah sakit"
"Tadi minta di temani?"
"Tidak, kembalilah bekerja. Maafkan aku, harusnya aku tidak boleh egois dengan memintamu untuk menemaniku"
"Tidak apa-apa, Yuli. Kau sahabatku" Dokter Andre tersenyum
"Andre, kembalilah sana. Aku pasti akan pulih 1 jam lagi. Sana" Yuli mendorong perlahan Dokter Andre
"Yakin?" tanya Dokter Andre
"Iya, yakin. Selamat bekerja" Yuli tersenyum
"Baiklah, jaga dirimu ya. Aku pergi dulu"
Yuli mengangguk. Setelah Dokter Andre pergi, Yuli menangis dalam diam
"Sesakit inikah?" gumam Yuli
Yuli terus menangis hingga ia tertidur.
Yuli turun dari mobil, ia menatap Bar di depannya ini. Kepergian orang tuanya membuatnya frustasi, ditambah dengan Andre yang tidak peka akan perasaannya. Yuli tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasannya, namun ia juga merasakan perih saat Andre terus menganggapnya sebagai sahabat saja.
__ADS_1
Yuli masuk ke dalam, ia segera duduk dan memesan minuman yang akan membuatnya sedikit oleng malam ini.
"Aku tau ini tidak baik, tapi aku juga ingin terlepas sebentar saja" gumam Yuli