
Arga keluar dari kamar Puspa dan duduk dikursi, di hadapannya kini sudah tersusun rapi piring berisikan makanan
Puspa meletakkan piring di depan Arga, Puspa ikut duduk dan menyentong nasi ke piringnya. Arga hanya diam saja sambil memasang wajah datar, sesekali ia melirik ke Puspa yang asik menambahkan lauk pauk ke dalam piringnya sendiri
"Tidak mau makan? Aku tidak bisa menghabiskan semua ini sendirian" ucap Puspa dengan polosnya sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
Arga menggeser pelan piringnya ke hadapan Puspa
"Benar-benar tidak mau makan?" Puspa mengira Arga menyerahkan piringnya supaya diletakkan ke rak piring
"Lemot, ambilkan untukku"
Puspa mengernyitkan dahinya
"Ku kira kau tidak mau makan, tanganmu masih utuh juga" Puspa menyentong nasi dan meletakkannya di piring Arga
"Kurang?"
Arga menggeleng,
"Dua centong cukup, aku tidak mau gemuk sepertimu"
"Uhuk!" Puspa tersedak makanan yang belum selesai ia telan
Arga langsung menyodorkan gelas berisi air pada Puspa,
"Haaa uhuk uhuk, aihhh nasinya nyantol di hidung" Puspa menghirup oksigen dengan keras berharap nasi yang rasanya ada di hidungnya bisa ikut masuk dan kembali ke jalur yang seharusnya
"Ceroboh"
Puspa memicingkan matanya
"Ini salahmu, Tuan. Aku tidak gemuk, Bb ku 52 kg saja, lebih berat dirimu tau" Puspa bernafas lega saat butiran nasi berhasil ke tenggorokan lagi
"Aku hanya kelaparan saja, mangkanya 3 centong nasi ini porsiku saat ini" bela Puspa
"Hmm" Arga mengambil lauk
Mereka melanjutkan acara makan sorenya. Suara sendok yang beradu dengan piring menghiasi suasana sepi.
Arga menarik nafas dalam-dalam
"Kau harus jadi tunanganku" ucap Arga tiba-tiba
"Uhuk!" Puspa tersedak, ia langsung minum. Arga menahan malu, ia mengunyah makanannya dengan susah payah karena mulutnya terasa kaku
Puspa menepuk dadanya pelan, mengatur nafas supaya lebih tenang, wajahnya sudah mulai panas
"Mungkin aku salah dengar" gumam Puspa sambil meremas ujung bajunya
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, tidak ada penolakan di dalamnya. Keputusanku masalah pendidikan lanjutanmu, ku batalkan"
Puspa tercengang
"Anu... A-"
"Lanjutkan makanmu, persiapannya akan segera ku lakukan" Arga kembali makan dengan raut wajah yang tenang, namun jantungnya berdegup kencang
__ADS_1
"Aku... Berhayal?" bathin Puspa
Puspa masih terdiam, sampai sentuhan Arga di pipinya menyadarkan Puspa. Puspa tersentak, ia langsung salting dan grogi. Tangannya yang gemetar tidak sengaja menjatuhkan sendok yang akan ia pegang
'Cup'
Puspa membatu saat ciuman lembut mendarat di keningnya. Arga berdiri dari duduknya, ia berjalan dan berdiri di samping Puspa, membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Puspa
"Aku serius" bisik Arga,
Sudah! Puspa sudah tidak bisa berkata satu kata pun, wajahnya panas dan memerah, seluruh tubuhnya bergetar.
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat pelukan hangat Arga kembali menyelimutinya,
"Ibu, aku... Aku dilamar, Bu!" batin Puspa
Hembusan nafas hangat terasa di bahu Puspa
"Tu-Tuan"
"Panggil Arga saja" bisik Arga lagi
(Okeh, mulai nakal ya si Arga)
"Aku.. Aku pasti sedang di prank" ucap Puspa dengan suara gemetar dengan rasa tidak percaya
'Cup' Arga mengecup telinga Puspa
"Sudah ku bilang aku serius" bisik Arga lagi
"Tenang Puspa, tenang!" batin Puspa
Arga dengan senyum tipis kembali duduk di kursinya dan kembali melahap makanannya sambil menikmati pemandangan Puspa yang salting dengan wajah yang merah
Kaki Arga masih sedikit gemetaran karena belum sepenuhnya tenang
"Beritahu aku alamat Bapakmu, aku akan bertemu dengannya. Aku juga akan bicara dengan keluargaku" ucap Arga dengan santai
Akibat grogi, Puspa merasa pendengarannya agak sedikit budeg
"Mama, mau tidak mau Mama harus mau. Inilah keinginanku" batin Arga
🍀🍀🍀
20:30
"Apa?!" Mama Arga terkejut bukan main, matanya melotot, sedangkan Papa Arga hanya tersenyum
"Dengan atau tanpa izin Mama, Arga akan tetap melakukan ini" ucap Arga dengan mantap
"Arga! Mama sudah menjodohkan kamu dengan anak sahabat Papa dan Mama! Jangan seenaknya sendiri, jangan durhaka kamu sama orang tua!" Mama Arga murka
"Arga juga punya hak tentang jalan yang Arga pilih, Ma. Mama tidak bisa seenaknya sendiri menjodohkan Arga padahal Arga dulunya masih balita. Jangan bawa-bawa kata durhaka dan dijadikan sebagai tameng saat Mama telah melakukan hal egois"
"Mama hanya ingin kamu mendapatkan perempuan yang baik-baik, jangan seperti dia yang kegatelan!"
"Mama tidak berusaha mengenal Puspa lebih jauh, Mama memandangnya sebelah mata, Mama juga tidak pernah mencoba membuka sedikit saja hati Mama untuknya"
__ADS_1
"Tentu saja Mama akan menganggapnya begitu, karena kamu sudah Mama tentukan akan menikah dengan siapa"
Papa Arga menghela nafas melihat keduanya ribut, ia yakin Puteranya akan bisa meyakinkan Istrinya
"Mama, Please, Ini sudah bukan zaman apalah itu di jodoh-jodohkan, beri Arga kebebasan untuk memilih. Selama ini Arga sudah menuruti apa yang Mama inginkan, jadi kali ini tolong biarkan Arga memilih sendiri"
"Ma, kita belum bertemu sahabat kita itu juga, kita tidak tau Putrinya sudah menikah atau belum" sela Papa Arga
Mama Arga diam dan duduk sambil mengatur nafasnya
"Arga mohon, Ma"
"Baiklah, tapi jangan salahkan Mama kalau sampai dia kenapa-napa" Mama Arga langsung pergi menuju kamarnya
"Papa" Arga menatap Papanya
Papa Arga tersenyum,
"Lanjutkan saja, Papa akan ikut melindungi gadismu itu" Arga tersenyum lega
"Dan ya, kapan akan bertemu dengan orang tuanya Puspa?"
"Besok Bapaknya Puspa akan datang ke rumah Puspa, Arga akan bertemu dengannya disana"
"Ha?"
"Dia hanya memiliki Ayah saja, yah Adik tiri juga. Puspa tinggal sendirian selama ini, Pa"
'Deg'
"Dia kuat" puji Papa Arga dengan perasaan yang salut
"Baiklah, Papa akan ikut kamu besok"
"Papa bukannya ada meeting?"
"Bisa Papa tunda dulu, Papa tidak bisa membiarkan kamu sendirian melamar anak gadis orang kan hahaha. Papa juga penasaran, gadis itu memiliki nama yang sama dengan Putri sahabat Papa yang Mama kamu ingin menjodohkannya denganmu"
"Nama yang sama?"
"Yaahh sekilas Papa ingat nama panggilannya, kalau nama lengkapnya Papa sudah lupa, sudah lama juga"
"Papa akan bantu biaya pertunanganmu, kalau di terima hahahah"
"Jangan membuat Arga down, Pa. Masalah biaya, Arga akan pakai uang Arga sendiri"
"Sudah punya tabungan?" Papa Arga terkejut, ia tidak menyangka Putranya bisa berhemat
Arga tersenyum tipis,
"Arga duluan" Arga berjalan ke kamarnya,
Papanya tersenyum melihat Punggung Putranya yang menghilang di balik tembok
"Kau sudah mulai biasa tersenyum lagi, walaupun sedikit" gumam Papa Arga
"Aku semakin penasaran pada gadis itu" imbuhnya
__ADS_1