Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Bodoh


__ADS_3

🍀🍀🍀


Setelah menghapus video, Arga menyuruh Kasek tetap berdiri.


"Kali ini ku ampuni. Lain kali jangan harap." Arga menatap tajam


"Terima kasih Tuan Muda. Saya minta maaf. Saya khilaf"


"Hm" Arga memutar mata bosan


"Aku mau absensi kelas XII hari ini. Sekarang" Ucap Arga sambil memainkan Komputer.


"Ee Kelas XII? Kelas lainnya?" Keringat mulai bercucuran dari dahi Kasek


"Kau tuli? Aku minta kelas XII. Hanya kelas itu saja. Bodoh. Cepat sana!!" Kasek langsung keluar ruangan


"Orang tua macam apa dia, tidak pantas ku hargai. Heh" Arga tersenyum meremehkan.


Tidak lama kemudian Kasek datang membawa buku absensi dan menyerahkan pada Arga. Kasek berdoa dalam hatinya agar Arga tidak tau kalau Puspa telah keluar dari sekolah ini.


Arga mencari urutan nama Puspa.. Dan hari ini di tulis Alfa.


"Dia tidak masuk tanpa keterangan?" Tanya Arga dingin


"Benar, Tuan Muda"


"Apa dia baik-baik saja setelah kejadian di atap sekolah" Tanya lagi Arga


"Ee.. I-iya. Baik-baik saja kok" Kasek berbohong.


Arga menatap Kasek. Nampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kau bohong. Katakan" Arga berdiri.


"Tidak tidak.. Mana mungkin saya berbohong pada Tuan Muda.." Kasek agak memundurkan langkahnya.


"Katakan!!!" Bentak Arga


"Ee... Itu.. Itu.."


"Itu itu apa!. Dengar aku tidak akan mengampunimu jika kau tidak jujur!"

__ADS_1


Kasek dilema. Dia bingung jarus jujur atau menutupi kebenaran ini.


"Jawab aku! Kau Tuli?!!" Arga mulai emosi.


'Buughhh' Arga membogem perut Kasek hingga jatuh tersungkur.


"Jawab atau akan ku habisi kau sekarang juga."


"Uhuk uhuk" Kasek sampai terbatuk


Arga mengangkat kakinya hendek menginjak Kasek


"Ampun Tuan Muda.. Saya mengaku saya mengaku" Arga menarik kakinya dan merapihkan pakaiannya


"Katakan" Ucap Arga dingin


"Sebenarnya.. Puspa telah di keluarkan dari sekolah.. " Kasek berucap ragu


Arga membelalakkan matanya.


"Apa? Ulangi sekali lagi!"


"Pus-Puspa telah keluar dari sekolah ini. Uhuk" Kasek mencoba berdiri.


'Buuughhh' Arga memukul muka Kasek.


"Uhuk.. Ampun Tuan.. Ampun.. Saya hanya menjalankan perintah"


Arga menghentikan pukulannya.


"BODOH!!" Arga berteriak.


"Siapa yang berani melakukan ini!!!"


"Nyonya Tuan.. Nyonya" Kasek menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Mama?" Arga terdiam. Ia mengepalkan tangannya.


Arga tidak habis fikir kenapa Mama nya begitu membenci Puspa.


'Kriiieettt' Pintu terbuka.

__ADS_1


"Arga? sedang apa kau disini?" Papa Arga terkejut melihat pemandangan di depannya.


Papa Arga membantu Kasek berdiri.


"Arga! Dimana sopan santunmu! Apa yang kau lakukan!" Papa Arga marah


"Cih.. Kepala sekolah yang tidak berguna. Untuk apa jadi Kasek kalau dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah"


Arga tersenyum sinis.


"Apa maksudmu!"


"Hm. Tanyakan padanya. Aku ada urusan" Arga keluar dari ruangan. Mengabaikan mata para gadis yang menatapnya kagum


Arga masuk ke dalam mobil dan menuju rumah Puspa.


Ia memukuli kepalanya sendiri. Bagaimana bisa ia telah meninggalkan gadis itu menghadapi ini sendirian.


"Bodoh.. Bodoh!!" Umpat Arga pada dirinya sendiri.


****


"Mau ku temani memilih Hp?" Tawar Ilham


Hatinya sangat bahagia bertemu Puspa kembali.


"Emmm boleh saja." Puspa tersenyum lembut


"Jangan tunjukkan senyum itu. Aku jadi ingin memangsamu" Goda Ilham


Bukannya malu, Puspa malah ngeri.


"Memangsa? ku harap kau bukan siluman ya atau sejenis vampir ingin memangsaku"


"Aduhhh... Gadisku masih polos sekaliii" Ilham mencubit pipi Puspa.


Puspa menepis tangan Ilham.


"Sakit... Ini tempat umum tau" Puspa cemberut


"Uuhh gemeesss aku melihat ekspresimu ini.. Aku jadi ingin mencicipimu" Goda lagi Ilham berharap Puspa peka.

__ADS_1


"Aku bukan masakan yang bisa kamu cicipi, Ilham." Puspa terkekeh.


Ilham mendengus sebal..


__ADS_2