Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Dia Bukan Anakku


__ADS_3

Setelah Puspa tenang sosok itu melepas bekapannya,


"Sedang apa disini? Sopan kah begitu?" Puspa berjalan dan menyalakan lampu kamar


"Jangan balik bertanya, jawab pertanyaanku"


"Aku hanya ingin pulang"


Arga memasang wajah datar


"Jawab saja, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Pulanglah, Arga. Ini sudah mau malam"


Puspa melangkah keluar kamar dan di ikuti Arga


"Kenapa kau menghindar? Jawab pertanyaanku"


"Sssssshh! Apa maksudmu?" Dengan nada keras


Arga hanya diam


"Aarrghh, maaf. Aku tidak bermaksud kasar. Tapi kau... Kau menyebalkan!"


"Itu bukan alasan kau pergi tanpa izin dan tanpa kabar"


"Itu jadi alasan buatku. Tolonglah berhenti egois"


"Egois apa? Justru kau lah yang egois. Bagaimana jika terjadi apa-apa kepadamu?! Tanpa alasan jelas kau menghilang seperti itu, hari pertunangan kita sudah besok lusa"


"Kenapa jadi malah menyalahkan aku? Dari dulu memang aku yang selalu salah di matamu, Arga!"


"Apa susahnya to the point menjawab pertanyaanku?"


Puspa duduk di kursi


"Aku tidak tau" lirih Pupsa


Arga mengusap kasar wajahnya, ia menghela nafas lalu duduk di samping Puspa


Puspa menghindari tatapan mata dengan Arga


"Kita sudah sejauh ini" ucap Arga dengan serius


"Aku tau itu" suara pelan


"Hmm?"


"Ku bilang aku tau itu" agak kesal


"Dengar Puspa, aku tidak bisa seperti pria lain yang membujuk pasangannya dengan lembut. Aku akan terlihat menggelikan jika seperti itu"


"Aku tidak memintamu untuk membujukku"


Arga menghela nafas lagi, dengan gugup ia menyentuh tangan Puspa


Puspa masih memalingkan wajahnya dari Arga


Hanya 3 detik ia menyentuh tangan Puspa, namun Arga malah kebingungan. Ia melepas tangan


Puspa melongo, ia mengira akan di bujuk dengan cara merayu dan semacamnya, tapi hanya di pegang tangannya dan itupun hanya 3 detik

__ADS_1


Tidak tahan hanya saling diam, Puspa menghadap ke arah Arga dengan niatan akan mengomel, namun tidak di sangka wajah Arga sudah berada di dekatnya


Berjarak beberapa cm saja wajah mereka akan menempel satu sama lain. Mereka berdua blushing.


Puspa langsung memalingkan wajahnya lagi namun langsung ditahan Arga. Arga menempelkan dahi mereka berdua, dapat dirasakan hembusan nafas mereka berdua


Jantung Puspa terasa akan lepas, ia hanya bisa mematung


"Aku pulang" ucap Arga pelan


Puspa yang mendengar itu langsung memukul lengan Arga, ia berdiri sambil berkacak pinggang


"Kau waras?!"


Arga hanya mengangguk dengan wajah tanpa bersalah


"Kau... Benar-benar menyebalkan. Aku tidak tau kenapa aku bisa tertarik padamu. Wajah tidak tampan, sikap dingin, tidak romantis, tidak humoris, dan tidak peka. Aku heran dengan gadis di luaran sana yang bisa sampai meleleh saat melihatmu, tidak tampan tidak romantis tidak peka dan tidak-tidak lainnya. Kuharap mata mereka masih sehat-sehat saja karena sampai sebegitunya terhadapmu, "


Dengan sekali tarikan nafas dan dengan cepat


Arga tidak menjawab, ia langsung memeluk Puspa dan menempelkan kepalanya di perut Puspa


"Aaarrrgg apa yang kau lakukaaaaaaaan?!" Puspa berusaha melepaskan diri. Semakin ia berusaha maka pelukan Arga semakin erat


"Aku akan menanam benihku disini" ucap Arga sambil menikmati empuknya perut Puspa


Spontan Puspa tersipu dan salting


"Mesum mesum mesum mesum!"


"Kau mau kapan? Malam ini? Besok?"


"Kyaaaaaaa! Mesummm"


"Tidaaaaaaaaaaak!"


"Kau memang tidak romantis, tapi mesum!"


Arga tersenyum tipis


***


"Uang untuk apa itu?" tanya Rina yang masih menggendong bayinya


"Untuk Puspa. Tidak banyak, ku harap cukup untuk membantunya" sambil menhitung lembaran uang 100.000an


"Mas tidak tuli kan? Keluarga laki-lakinya yang akan menanggung biaya pertunangan mereka" sewot Rina


"Lalu aku akan mengiyakan dengan semudah itu? Tidak!. Meski aku mengiyakan tetapi setidaknya aku membantu walau hanya sedikit"


"Aku tidak setuju, lebih baik uang itu di pergunakan untuk anak kita" Rina menidurkan bayinya di ranjang


"Rina, mengertilah sedikit"


"Tidak tidak tidak" Rina mengambil uangnya dari Bapak Puspa


"Dengar, daripada ini kau berikan untuk keluarga kaya itu, lebih baik kau gunakan untuk keluarga kecil kita ini. Aku sudah cukup bersabar dengan kehidupan yang ekonominya seperti ini"


"Dia Puteriku, aku berhak memberinya" Bapak Puspa kembali merebut uangnya


"Dia bukan anakku!"

__ADS_1


Perkataan itu langsung menusuk hati Bapak Puspa


"Kau harusnya mengerti tentang hal ini sebelum mendekatiku, Rina" dengan nada kesal


"Loh loh! Kenapa malah menyalahkanku? Ingat ya Mas, jika kau tidak mau saat itu ya mana mungkin aku sampai hamil. Jangan hanya menyalahkanku saja, dong"


"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya bilang harusnya kau mengerti apa yang harus kau lakukan sebagai Istri muda ku"


"Kau jadi egois sekarang!"


"Ini bukan keegoisan, ini kewajibanku terhadap anakku"


Bapak Puspa keluar dari kamar


"Kau harusnya sadar berbeda kelas dengan laki-laki itu, Mas. Kalau kau tidak mampu maka jangan memaksakan diri seperti ini! Lama-lama aku muak tau!"


Melihat Bapak Puspa yang tidak meresponnya membuat Rina semakin emosi, ia menendang pintu kamar dan meringis kesakitan


"Anak si*alan!" umpat Rina


Kebenciannya terhadap Puspa semakin menjadi-jadi. Apalagi saat Suaminya makin hari semakin memperhatikan Puspa, hal itu semakin membuat Rina tidak sudi menerima Puspa sebagai anak tirinya


Rina mengatur nafasnya usai ia marah-marah, suasana kamarnya tiba-tiba terasa senyap. Rina membalik badan dan menghampiri bayinya yang tertidur pulas


"Praaankk!"


Bingkai foto pernikahanya yang ada di dinding tiba-tiba jatuh, kacanya pecah. Rina keheranan, ia memandangi bingkai foto pernikahannya tersebut dengan heran


Ia membungkuk dan membereskan pecahan kacanya, namun di tengah kesibukannya tersebut ia merasakan suasana tiba-tiba memcekam


Matanya membulat saat ia merasakan ada yang menyentuh bahu kanannya, seketika ia menoleh dan tidak mendapati apapun terkecuali bayinya yang masih terlelap. Rina menggeleng dan menghilangkan perasaan aneh itu.


Rina mengambil pecahan kaca yang terakhir, ukurannya tidak terlalu kecil. Saat ia menyentuyna tiba-tiba kaca tersebut menjadi pecahan kaca yang lebih kecil. Ia mulai panik, dan sekali lagi ada yang menyentuh bahu kanan dan kiri


Nafasnya memburu, Rina tidak bisa bersuara.


'Ceklek'


"Aaaaaaaaaa!" teriak Rina saat ada yang membuka pintu kamar


"Rina? Kenapa?" Bapak Puspa baru masuk kamar


"Hah! Mas! Ada setan, Mas"


Bapak Puspa kebingungan. Rina langsung memeluk suaminya itu


"Setan apa, ya?" suara Bapak Puspa berubah menjadi suara perempuan. Tubuh hangat yang di pelukanya berubah menjadi dingin


Rina membuka matanya, ia tidak bisa bersuara saat mengetahui siapa yang ia peluk. Rina terjatuh ke lantai, ia mundur ke belakang hingga menabrak lemarinya


Sosok yang tidak ia ketahui, ia tidak memiliki wajah, hanya rambut yang menjulur sampai ke lantai. Dilihatnya kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Suara Rina tertahan, ia ketakutan


Sosok itu terus mendekati Rina yang sudah terpojok dan mulai menangis, Rina hanya mampu menggeleng-gelang kepalanya. Sosok itu merendahkan tubuhnya setara dengan Rina, Rina sesak nafas saat kepala sosok itu berada tepat di depan wajahnya


"Kenapa?" dengan suara lirih dari Sosok itu


Sosok itu menyibak rambut depannya dan melihatkan wajahnya. Rina terkejut karena wajah sosok tersebut adalah orang yang ia kenal. Wajahnya tidak menakutkan, malah terlihat lebih bersinar daripada semasa hidupnya


"Rina!"


Panggilan Bapak Puspa mengejutkannya sekaligus menghilangkan sosok tadi

__ADS_1


"Buka pintunya, Rina!"


Rina masih ketakutan bercampur bingung. Ia tidak merasa mengunci pintunya. Ia semakin dibuat bingung saat foto pernikahan mereka masih diam manis menempel di tembok.


__ADS_2