Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Pelukan Hangat


__ADS_3

๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Puspa berkacak pinggang sambil memegang surat pengantar untuk pembuatan KTP.


"Haaaaaahhh ternyata aku sudah semakin tua hihi"


Puspa menarik nafas sambil tersenyum,


"Baiklah, segera mulaaaaaii"


****


"Silahkan masuk" ucap petugas


Puspa mengangguk dan masuk ke ruangan untuk difoto.


Puspa di arahkan untuk duduk di kursi yang sudah dipasang kain sebagai backgroundnya.


"Tolong menghadap ke kamera"


Puspa fokus menghadap kamera dengan wajah tegang.


"Lebih santai saja, Bu"


"Bu? Aku setua itu?" bathin Puspa


Puspa memasang wajah datar dan berusaha sedikit tersenyum. Puspa langsung berkedip berkali-kali setelah diambil fotonya


"Flash nya sangat menyilaukan seperti cahaya lampu yang ada di depan mataku hihi" Puspa terkekeh pelan


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Puspa merebahkan dirinya di ranjangnya,


"Baiklah, aku harus bangkit dan kembali bekerja. Aku tidak boleh terus bergantung padanya " Puspa memantapkan niatnya.


"Oke, sekarang cari kemana?"


Cahaya matahari di sore ini sangat memukau bagi Puspa, ia berjalan ke arah jendela dan menatap langit yang mulai berubah oren kekuningan


"Bu, Puspa sudah mau punya KTP, loh. Itu berarti Puspa sudah mau dewasa, setelah itu menikah, punya anak dan seterusnya. Tapi sayangnya saat hamil kelak, Ibu tidak bisa mendampingi Puspa"


"Joni, kamu juga tidak bisa bermain dengan anaknya Kakak, dia pasti akan iri dengan temannya yang punya paman perhatian. Kakak rindu kalian" Puspa meremas kayu jendelanya


Air matanya mengalir tanpa bisa Puspa kontrol, ia membayangkan jika keluarganya masih lengkap pasti akan sangat menyenangkan.


"Hiks, Puspa harus bersandar dengan perempuan mana supaya bisa merasakan kehadiran Ibu? Puspa... Rindu sosok Ibu. Puspa tidak punya tempat mengadu seperti dulu"


Puspa terduduk dan menyandarkan kepalanya di tembok sambil menangis sesenggukan.


"Puspa ingin menumpahkan semua cerita tentang apa yang Puspa alami, Bu. Tapi Puspa belum menemukan sosok itu" lirih


"Hmm, cengeng"


Puspa terbelalak, ia menghapus air matanya dan menoleh ke belakang


"Kau? Tidak ketuk pintu dulu. Tidak sopan" Puspa menghapus air matanya sambil menahan ingus yang mau keluar


"Pintunya terbuka. Lagipula menangis di sore hari apakah memiliki sensasi tersendiri?" Arga berjalan mendekati Puspa


Puspa berdiri sambil memalingkan wajahnya. Puspa terdiam saat tangan besar dan hangat milik Arga menyeka air matanya yang terus mengalir


Arga menarik wajah Puspa untuk tidak memalingkan wajahnya


"Tuan" lirih

__ADS_1


Arga menghapus air mata Puspa yang ada di ekor matanya, Puspa memandangi wajah Arga yang terlihat menenangkan dengan tatapan matanya yang dalam. Bukannya membaik, Puspa malah semakin menangis dan matanya terasa panas saat air matanya keluar


"Tuaaan" Puspa merengek sambil menahan isak tangis, Arga langsung memeluk Puspa.


Pelukan yang hangat, Puspa langsung membalas pelukan Arga dan menekan wajahnya di dada Arga


Puspa tidak lagi menahannya, ia nenangis dalam pelukan Arga dan membasahi kemeja Arga, ingusnya pun tak luput ikut keluar.


Arga mengelus kepala Puspa dan menepuk pelan punggungnya, ia menopang dagunya di atas kepala Puspa


"Tuaaaannn, huweeeeeรจeee"


"Panggil Arga saja" ucap pelan Arga


Puspa terus menangis hingga merasa lega, Arga menggendongnya dan duduk di ranjang. Seperti layaknya seorang anak yang menangis dalam gendongan Ayahnya


10 menit berlalu, tangis Puspa mereda.


"Kau harus bertanggung jawab, cuci pakaianku yang penuh ingusmu ini"


Puspa langsung menarik dirinya dan melihat kemeja Arga yang basah, masih dengan sesenggukan Puspa menyentuh ingusnya yang ada di kemeja Arga


"Ma-Maaf" hanya kata itu yang mampu Puspa ucapkan saat ini


"Dan bisakah sekarang kau ku turunkan? Pahaku lelah karena dirimu berat" Puspa mengangguk dan turun. Ia duduk di samping Arga


Arga melepas kemejanya dan meletaknnya di lantai, Puspa masih mendunduk sambil menenangkan dirinya.


Melihat itu, Arga lansung mengelus dan menepuk pelan kepala Puspa.


Puspa menoleh,


"Maaf" ucap Puspa lagi


"Cuci kemejaku setelah kau tenang" Arga keluar dari kamar Puspa dan menuju ruang tamu


Arga dengan telanjang dada duduk di kursi, tanpa disengaja ia melihat beberapa Ibu-ibu tetangga Puspa menoleh ke arahnya. Dengan wajah datar Arga langsung menutup pintu rumah Puspa


Dengan demikian, terulanglah gosip hangat di sore hari ini.


*****


"Mau dibawa kemana itu?" tanya Mama Arga yang melihat Bi Ina membawa setelan pakaian Arga


"Tuan Muda yang memintanya, Nyonya"


"Lembur?" tanya lagi Mama Arga


"Maaf, Nyonya. Saya kurang tau. Ini akan di bawa sama bodyguard Tuan Muda nanti"


"Oohh, yasudah"


Bi Ina mengangguk dan lanjut membawa keluar pakaian itu


****


Puspa keluar dari kamar dengan mata sayu.


"Anu, Tuan" Puspa mendekat ke Arga


"Masalah tadi, anu"


"Hm, cuci saja itu, yang bersih. Jangan tersisa sedikitpun ingusmu"


Puspa melongo

__ADS_1


"Aku tidak memintamu untuk memelukku tadi" ucap Puspa dengan nada kesal


"Itu kemeja mahal" balas Arga


" Kau sendiri yang memelukku tadi"


"Apa kau akan menggantinya dengan yang baru?"


"Kan kau sendiri tadi yang memelukku!"


"Kemejaku mahal"


"Dasar gila" ejek Puspa, ia langsung menuju kamar mandi.


"Dirimu lebih gila" balas Arga


"Kau menyebalkan" ucap Puspa dari dapur


"Kau bau" balas Arga


"Kau sinting"


"Anggap saja aku muridmu"


"Kyaaaaaaa! Kau Menyebalkan" teriak Puspa dari kamar mandi


Arga tersenyum tipis melihat Puspa yang sudah aktif lagi


***


Puspa keluar dari kamar mandi dan menggantung kemeja Arga menggunakan hanger di teras rumahnya


Bodyguard Arga datang dengan membawa mobil lainnya, ia sedikit membungkuk memberi hormat pada Puspa yang baru saja menggangtung hanger


"Eh anu, tidak perlu begitu" Puspa jadi sungkan


"Nona, saya membawakan pakaian yang diminta Tuan Muda"


"Ah itu orangnya ada di dalam. Masuk saja" Puspa tersenyum, bodyguard Arga membungkuk lagi dan masuk ke dalam


"Cepat sekali, apa tidak macet?" tanya Arga


"Demi kenyamanan anda, Tuan Muda"


"Baiklah. Makanan?"


"Akan saya ambil" Bodyguard itu mengambil makanan di mobil


"Eh? Beli makanan? Aku baru saja mau masak" ucap Puspa yang berdiri


"Lama" ucap Arga


Puspa memicingkan matanya


"Baik, kau boleh pergi"


"Baik, Tuan Muda" ia sedikik membungkuk dan pergi dari kediaman Puspa


"Ku kira kau akan pulang dengan telanjang dada, Tuan"


"Hm, bawa ke meja makan" Arga menuju kamar Puspa


"Benar-benar menybalkan" Puspa berkacak pinggang sambil memandangi Arga yang menghilang di balik pintu kanar Puspa


"Untungnya aku bukan kanibal"

__ADS_1


"Lagipula siapa yang menyuruhnya untuk memelukku, tanpa izin pula" Puspa membawa makanan itu ke meja makan sambil mengoceh


__ADS_2