Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Pekerjaan II


__ADS_3

Keesokan Paginya


🍀🍀🍀


"Puspa... Haloooo" Elisa menutup mata Puspa dari belakang


"Lagi happy ya.. Ada apaa?" Puspa meletakkan bukunya di meja dan menghadap Elisa di sampingnya


"Aku jadian Puspa.. Haduh seneng bangeettt deh" Ucap Elisa mengibas-ngibas wajahnya yang memerah karena terlalu bahagia


"Syukur deh kalau begitu. Selamat ya"


Puspa tersenyum lembut


"Heheh.. Ngomong-ngomong kamu kehujanan kemarin, Pus?" Tanya Elisa tak enak


"Tidak kok.. Sama sekali tidak"


"Aduh bagaimana jika Elisa tau aku numpang mobil Laki-laki itu yaa. Sedangkan dari awal aku mengatakan dia sombong.. " Gusar Puspa


"Eehhh kamu lari apa gimana tuh Puspa. Aku saja yang naik sepeda masih kehujanan.. Tapi suasana jadi romantis.. Uwuwu" Puspa menyipitkan matanya


Puspa menghela nafas lega


"Kita harus belajar lebih giat, El. Kita tuh akan di serang banyak ujian sekolah.. Jangan terlalu fokus pacaran dulu ya." Puspa menasehati Elisa. Pasalnya tahun lalu teman kelasnya ada yang putus sekolah karena buru-buru menikah


"Ya ampun Puspaa.. Kan ada kamu yang bantu akuu"

__ADS_1


"Aduh Elisaaaa.. Kamu ini terpintar di kelas, lalu untuk apa masih nyerpek punyaku? Jangan karena pacaran prestasimu jatuh loh" Puspa serius takut sahabatnya akan putus sekolah saat menjelang kelulusan


"Wkwkkwkw pasti aku bisa Puspa.. Tenang saja.." Puspa menghendikkan bahunya.


"Aku sudah memperingatimu.. Kalau ada apa-apa jangan menyalahkanku" Puspa melanjutkan membaca bukunya


"Iihhh Puspa kok kamu gitu sih.. Tegaa" Elisa memanyunkan bibirnya


"Aku hanya tidak ingin kamu putus sekolah saat hampir lulusan, El. Aku begini karna peduli tau."


"Iya deh iyaaa.. Eh bagaimana kalau kita taruhan lebih tinggi siapa nilai UN?"


"Elisaaaaa, sudah 2 kali aku kalah darimu sejak kelas X. Kamu mengajak taruhan setiap ujian akhir semester genap. Kamu ini sudah cerdas dari situnya... Aku tidak akan mampu melawan sahabatku ini.. "


"Hmmmm Puspa kamu menutupi sesuatu dariku ya?" Elisa dengan tatapan yang menyelidik


"Ah tidak kok.. Kamu ini.. Aku lanjut belajar dulu"


"Naik angkot" Jantung Puspa berdegup kencang.. Bisa malu dia kalau ketahuan.


Elisa hanya manggut-manggut ..


"Okedeeehh" Elisa kemudian mengambil buku juga dan membacanya.


"Mungkin lebih baik ku terima saja pekerjaan itu kalau misalnya bisa sift dan aku bisa sekolah. Yah sebelum guru menegurku untuk membayarnya" Bathin Puspa


"Apa aku harus langsung menuju alamat itu? Apa sebaiknya aku menghubungi laki-laki itu untuk bertanya hal ini? Tapi... Sepertinya nomer Hp dia tidak tertera. Ah persetan dengan itu. Jalani saja ... Tenang Puspa... Hanya pelayan setidaknya bukan *******."

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika aku di perkosa laki-laki itu? sepertinya dia terlihat haus hubungan biologis. Ah kenapa fikiranku menjalar semakin lama semakin aneh"


****


Puspa sudah selesai mandi.. Ia mengambil nasi di dapur..


" Asalamualaikum"


"Waalaikum salam" Puspa mendengar suara Bapaknya.


"Tumben pulang jam segini?"


Puspa menuju ruang depan melihat Bapaknya sambil membawakan segelas air. Ah sial dia membawa Rina


"Lagi-lagi wanita itu." Gumam Puspa. Ia membawa kembali air itu dan meminumnya sendiri


"Puspaaaa... Puspaaa" Panggil Bapaknya


"Kenapa Pak." Puspa masih di dapur


"Ini ada kentucky... Kamu makanlah.. Sini"


"Puspa diet" Jawab singkat Puspa. Ia langsung berjalan menuju kamarnya membawa sepiring makanan tanpa menoleh ke arah Bapaknya dan juga Rina


"Puspa... Bapak sengaja membeli ini untukmu Loh" Bujuk Bapaknya


"Tidak perlu repot-repot. Takutnya uang kalian kurang untuk resepsi janin hasil zina kalian" Ucap Puspa di depan pintu kamarnya. Ia langsung masuk saat Bapak Puspa membuka mulut untuk bicara.

__ADS_1


"Cih sok banget" Rina berdecih.. Bapak Puspa menatap nanar kamar putrinya itu.


"Biar aku yang makan, Mas. Anakmu itu tidak bisa menghargai" Rina melahap Kentucky ayam yang masih hangat itu.


__ADS_2