Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Flash Back On (Ehem)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Puspa sesekali menguap


"Tuan, katanya ada yang mau di bicarakan?" Puspa to the point karena sudah mengantuk dan malas basa basi


"Aku... "


Puspa mengernyitkan dahinya


"Nanti kau marah" Puspa rasanya ingin menampar mulut Arga.


"Katakan saja, Tuan"


Arga meletakkan Hp nya di meja, ia juga meraih Hp Puspa dan meletakkannya di meja juga.


"Puspa, sebelumnya aku minta maaf. Aku hanya ingin bertanya, sepulang kau dari rumah, apakah kita bertemu?"


"Tentu, Tuan. Kita bertemu di mall. Saat itu aku di ajak sahabatku, Elisa"


"Lantas kenapa pandanganmu seperti orang yang terkagum-kagum saat memasuki mall bersamaku?"


"Ya saat itu aku di ajak Elisa dalam kondisi hatiku tidak karuan, dan ya, berbeda rasanya dengan yang kau ajak itu. Tunggu, ini yang mau di bicarakan?" Puspa mengernyitkan dahinya


"Tidak" Arga menarik nafas dalam-dalam.


"Apa Tuan mau pamer sewaktu kita bertemu di mall, sedangkan kau bersama gadis berambut pirang yang sangaaatt cantik itu?"


"Kau cemburu?" Arga berbalik bertanya


Puspa melotot,


"Tentu saja tidak"


Arga tersenyum tipis

__ADS_1


"Dia bukan siapa-siapaku. Dia saudari dari temanku yang kebetulan kami ke mall bertiga dan temanku ada urusan"


Puspa hanya ber-oh-ria


"Dan ya, saat ini di rumahku kedatangan tamu yang tidak di undang"


"Siapa?" Puspa bertanya dengan antusias


"Sepupuku, Jesi. Aku sengaja menghindarinya" Arga melipat kedua tangannya di depan dadanya


"Pasti cantik" Puspa tersenyum


"Biasa saja" Arga tidak habis fikir, padahal Puspa belum bertemu dengan Jesi, tapi ia sudah berpendapat seperti itu.


"Matamu pasti bermasalah, Tuan" ledek Puspa


"Otakmu juga bermasalah" ledek balik Arga.


"Oke, to the point ya. Kau benar-benar tidak bertemu denganku setelah pergi dari rumah?"


"Di suatu tempat?"


Puspa juga menggelengkan kepalanya. Perasaan Arga tiba-tiba tidak tenang.


"Maafkan aku" ucap Arga dengen mata yang terpejam. Ia salah telah menyangka tidur dengan Puspa malam itu.


Puspa terheran


"Memangnya ada apa, Tuan?"


Arga tidak menjawab, ia mengusap kasar wajahnya.


"Setelah kau pergi dari rumah, malam itu aku pergi minum dan ya mungkin mabuk. Dan-"

__ADS_1


Arga menggantung kalimatnya. Puspa yang faham langsung terkejut dan menatap kesal pada Arga


"Kau minum? lalu membayangkan melakukan hal itu denganku?"


Arga mengangguk. Tangan Puspa refleks memukul jidat Arga.


"Kenapa kau membayangkan aku" tegur Puspa.


Arga menyipitkan matanya saat Puspa memukul jidatnya


"Ya mana ku tau" Arga mendengus sebal.


"Apa kau memang sering suka ituan?" tanya Puspa dengan polosnya. Hal itu membuat Arga ingin memukulnya


"Apa maksudmu? aku bukan laki-laki murah seperti itu yang suka tidur dengan wanita sembarangan"


"Itu kau sudah ehem"


"Itu terjadi diluar kesadaranku, Puspa. Otakmu ini pakailah untuk berfikir" Arga menyentil dahi Puspa,


"Aaww, tapi kan benar, Tuan. Tuan sudah ehem" Puspa mengelus dahinya yang ngilu.


"Hm" Arga malu, tapi kalau tidak di bicarakan mana bisa hal ini terungkap.


"Itu misimu saat ini, Tuan"


Arga menaikkan satu alisnya


"Iya, misimu untuk mencari siapa perempuan yang kau tiduri saat itu. Barangkali hamil" Puspa menggeleng kepalanya, tidak menyangka pra di depannya ini berani main-main dengan hal itu


"Entahlah. Bawakan aku kopi ke kamar" Arga bangkit dari duduknya


"Aku hanya punya kopi sachet di dapur"

__ADS_1


"Hm terserahlah" Arga melangkah menuju kamar Puspa. Ya, Puspa akan tidur di kamar orang tuanya malam ini.


__ADS_2