
☘☘☘
"Apa ini mampi?" tanya Puspa, Arga yang fokus mengemudi menoleh sekilas
"Jika iya, apa kau mau terbangun?"
Puspa menggeleng
"Oh ya! Menurutmu bagaimana gaunku tadi? Cantik tidak?"
"Cantik. Apapun yang kau kenakan akan terlihat cantik"
"Jangan menggombal, ya. Yang serius"
"Aku serius"
Tersenyum puas, Puspa terus membayangkan dirinya saat mengenakan gaun pernikahannya.
"Besok lusa setelah gaunnya selesai, aku akan mengambilnya sendiri jika kau sibuk" ucap Puspa
"Dirumah banyak asisten"
"Kalau begitu aku akan ikut dengan asisten itu"
"Kau harus banyak istirahat"
"Heeeemmm!"
***
"Bensinnya habis, ya?" tanya Puspa saat Arga berbelok ke arah SPBU
"Hm"
"Antriannya panjang sekali" gumam Puspa
Setelah mengantri panjang, tersisa 1 mobil di depan Arga. Puspa turun dari mobil dan ia sedikit terkejut karena mobil di depannya adalah mobil Andre
"Kenapa turun?" Arga bertanya-tanya
"Dokter!" panggil Puspa
Andre yang sedang berdiri di samping mobilnya menoleh ke belakang dan mendapati Puspa
"Puspa?"
Melihat bensinnya masih agak lama untuk terisi full, Andre berjalan ke arah Puspa dan menoleh ke samping Puspa ada Arga di dalam mobil
Arga yang melihat Andre merasa tidak senang
"Selamat malam, Puspa. Ada yang bisa ku bantu?"
Puspa menggeleng
"Kebetulan sekali kita bertemu disini, Dokter"
Andre tersenyum
"Andre" panggil Yuli yang juga keluar dari mobil
Puspa tersenyum lebar pada Yuli dan Yuli juga tersenyum, Yuli berjalan dan berdiri di samping Andre. Ia juga menggenggam tangan Andre
"Oh iya, karena kalian berdua ada disini, aku mengundang kalian ke pernikahanku"
Andre sedikit terkejut, dan Yuli beberapa kali mengedipkan matanya.
Puspa langsung ke mobil dan mengambil undangan di tasnya
"Ini" Puspa menyodorkan undangannya
"W-Wow, desain undangannya sangat indah" puji Yuli yang menerima undangan tersebut
"Terima kasih..."
Arga yang tidak tahan akhirnya ikut keluar dari mobil dan merangkul bahu Puspa
"Arga, ini tempat umum" Puspa berusaha melepaskan diri
Yuli merasa tidak asing saat berhadapan dengan Arga. Arga enggan melepas Puspa
"Terima kasih, Puspa. Kami pasti akan datang. Selamat, ya" ucap Andre dan di ikuti anggukan oleh Yuli
"Terima kasih"
"Pak, Sudah"
"Oh, Oke"
"Kami pergi dulu, terima kasih undangannya"
__ADS_1
Puspa mengangguk.
"Tidak datang juga tidak masalah" ucap Arga pelan
Arga langsung masuk ke dalam mobil dan memajukan mobilnya.
☘☘☘
Saat di perjalanan pulang, Puspa melamun.
"Apa yang kau fikirkan?"
"Tidak ada" Puspa tersenyum
"Ilham bagaimana ya? Kalau ku undang pasti nanti ribut dengan Arga. Kalau tidak ku undang aku tidak enak hati karena dia temanku"
"Kau harus banyak istirahat, setelah akad nanti kita langsung ke rumahku untuk respsinya"
"Siaaaap!"
☘ Hari-hari terus terlewati, persiapan pernikahannya sudah 95% selesai. Tiga hari lagi Puspa akan resmi menjadi istri Arga.
Dengan pertimbangannya, Puspa tidak mengundang Ilham.
Puspa berdiri di hadapan cermin dan memandangi pantulan dirinya sambil memegang Gaun pernikahannya
"Bu, Puspa akan segera menikah"
Puspa melihat jam dan sudah pukul 11 malam. Ia segera menyimpan kembali gaun pernikahannya dan bersiap tidur. Puspa keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mematikan lampu
Kembali dari dapur, Puspa kedatangan tamu.
'Tok tok tok'
Puspa mengerutkan dahinya, ia berjalan menuju pintu
"Siapa malam-malam begini? Apa Arga?" gumam Puspa
'Tok tok tok'
"Sebentar"
'Ceklek' Puspa membuka pintu perlahan dan ternyata Ilham yang datang bertamu
"Ilham?"
"Puspa" Ilham tersenyum sambil menunjukkan beberapa barang bawaan.
"Iya, aku baru sempat"
"Baiklah, ayo masuk dulu" Puspa tidak enak hati jika tidak mempersilahkan Ilham masuk
"Terima kasih"
Ilham duduk dan meletakkan barang bawaannya di meja yang sudah di pindah di sudut ruangan
"Maaf, ya. Aku datang menganggumu"
"Iya tidak apa-apa. Oh iya, anu... Aku..."
"Kenapa rumahmu di dekorasi seperti ini?" tanya Ilham
"Anu... Aku akan menikah"
Dengan raut wajah terkejut, Ilham berusaha tersenyum
"Dengan siapa?"
"Arga, kami sudah bertunangan dan akhirnya kami memutuskan akan menikah"
"Ehem, kau jahat sekali tidak mengundangku"
"Bukan seperti itu, Ilham"
"Ya oke, oke. Sebagai hukumannya kau harus menghabiskan bawaanku malam ini"
Ilham membuka bingkisan yang berisikan beberapa kue dan masakan Ibunya serta ada jus timun.
Puspa agak lega
"Kau berniat menggemukkan aku, ya?"
Ilham terkekeh
"Tidak, tidak. Ini masakan Ibuku, aku tidak tau kalau kau akan menikah"
"Benarkah?"
"Tentu. Dan ini," Ilham mengambil kue Brownies
__ADS_1
"Ini semua masakan Ibuku" Ilham menyodorkannya pada Puspa
"Tunggu, aku akan mengambil pisau dulu"
Ilham mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam. Tidak lama Puspa datang membawa pisau dan membelah kuenya
"Bagaimana rasanya?" tanya Ilham setelah Puspa memakan kuenya
"Eeeeemmmmm, ini lezat sekali. Aku suka manisnya pas dan rasa cokelatnya sangat terasa"
"Syukurlah kalau kau menyukainya"
Puspa mengangguk dan mengambil sepotong lagi.
"Pelan-pelan saja makannya. Ini, jus timun untukmu"
"Eh?"
"Ini aman, tidak akan berbahaya kalau diminum setelah mengkonsumsi yang manis-manis"
"Benarkah?"
"Apa kau melihat aku seperti sedang berbohong?"
Puspa menatap Ilham sebentar lalu menggeleng
"Nah, kan. Jadi jangan lupa di minum ini"
Puspa mengangguk dan terus mengunyah
"Ini juga sebagai permintaan maaf dan juga terima kasih untukmu dan juga calon suamimu. Ku harap kalian mau menerimanya"
Puspa lega dan senang mendengar hal itu
"Uhukkk!" Puspa tersedak, Ilham dengan cepat berlari ke dapur untuk mengambil gelas lalu menuangkan jus timunnya
"Sudah ku katakan pelan-pelan saja makannya. Ini, cepat minum"
"Uhuk uhuk"
Puspa mengambil gelas berisikan jus dari tangan Ilham dan meneguknya dengan cepat. Setelah meminumnya, rasanya dingin dan segar
"Terima kasih" ucap Puspa
"Sama-sama. Pelan-pelan saja makannya, semua ini milikmu kok"
Puspa tersenyum lebar. Puspa kembali memakan kue yang lain dan dikejutkan oleh dering Hp miliknya yang ada di kamar
"Sebentar, ya"
Puspa berjalan dengan cepat menuju kamar dan menerima telfon dari Arga
"Dari mana?" tanya Arga dari seberang
"Sedang makan kue. Ada apa?"
"Besok pagi aku akan kesana sambil membawa Bi Ina untuk membantumu sampai hari H"
"Jangan, itu akan merepotkannya"
"Tidak ada penolakan. Dan segeralah tidur"
"Kalau Bi Ina tidak mau jangan di paksa, kasihan. Tugasnya di sana juga pasti banyak"
"Terserah padaku. Tidurlah"
"Heeemmm baiklah. Selamat malam"
"Hm"
Arga mengakhiri panggilannya, Puspa juga langsung mengecas Hp nya
Saat membuka gagang pintu kamar, Puspa merasa aneh. Matanya berat. Ia juga menguap beberapa kali. Puspa menggeleng kepalanya dan mengedipkan matanya.
"Aku mengantuk sekali, tapi Ilham belum pulang" Puspa meregangkan tubuhnya lalu berjalan keluar kamar.
Baru saja ia menutup pintu kamar, Puspa tiba-tiba terjatuh. Ilham yang mendengar suara itu langsung berlari ke asal suara
"Puspa?!" Ilham membantu Puspa berdiri
"Ada apa?!" dengan panik
"Maaf Ilham, aku tidak apa-apa kok" Ilham melepas tangan Puspa, Puspa lepas kontrol dan menguap di depan Ilham
'Hooaaaammm'
"Maaf Ilham, aku sedikit mengantuk" ucap Puspa, matanya terasa sangat berat untuk terbuka
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam"
__ADS_1
Puspa mengangguk. Saat Ilham berbalik dan berjalan menjauh, Puspa sudah tidak tahan.