
Puspa datang dan membawa segelas teh dan menyuguhkan untuk Bapaknya.
Puspa kemudian ikut duduk. Ia membetulkan rambutnya yang berantakan
Hening...
"Nak" Bapak Puspa membuka suara.
Puspa hanya menoleh.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Bapak Puspa
"Seperti yang Bapak lihat, Puspa sehat wal afiat" Puspa meraih tas nya dan mencoba mengambil Hp nya.
'Hmmm aku lupa kalau hp ku sudah hancur gara-gara tadi' Puspa berdecak kesal.
"Tas kamu kenapa kok banyak robeknya?" Tanya Bapak Puspa memandangi tas Puspa yang sudah tidak bagus lagi.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Waktunya ganti saja" Bohong Puspa.
"Yakin tidak ada yang kamu sembunyikan?"
"Bapak ada perlu apa kemari?" Elak Puspa
Bapak Puspa tersenyum
"Bapak rindu sama kamu, Nak. "
Puspa tidak bisa membohongi perasaannya yang bahagia namun sekali lagi kenangan itu menyakitinya.
"Benarkah? Puspa kira Bapak akan lupa sepenuhnya pada Puspa. Apalagi perbuatan Puspa yang sudah dengan berani menjambak istri Bapak sampai dia tergeletak. Haha" Puspa tertawa mengingat kekacauan malam itu.
__ADS_1
"Puspa.. Tidak bisakah kamu membuka sedikit pintu hati untuk ibumu, Rina? Siapa tau dengan kamu baik padanya maka dia juga akan sebaliknya" Bujuk Bapak Puspa.
"Apa? Ibu? Rina? Puspa hanya punya satu ibu. Ck. Rina tidak pantas ku sebut ibu" Puspa mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Puspa dengarkan dulu"
"Apa yang harus Puspa dengar, Pak?!. Apa Puspa harus mendengar pembelaan Bapak terhadap Jal*ang itu?! Haha. Mendengar namanya saja Puspa ingin menampar wanita itu sampai dia pingsan"
"Puspa..! Bapak tidak pernah mengajarkan kamu hal yang tidak sopan seperti ini!"
"Dan Bapak juga yang telah merusak semua ajaran Bapak!" Puspa mengepalkan tangannya.
Sejenak mereka terdiam.
"Pak, Jika hanya ini yang mau di bicarakan, Ini sangat buang-buang waktu"
"Puspa. Kamu berubah.. Tidak seperti putri Bapak yang dulu" Lirih Bapak Puspa.
"Bapak yang menciptakan Puspa versi baru dengan tingkah yang kurang ajar terhadap orang yang lebih tua. Ups maaf. Maksudnya ini tuh bukan kurang ajar sih, tapi fakta. Wkwkkw.. Fakta bahwa Bapakku, yang ku anggap pahlawan sejatiku selama ini, kini telah di perdaya oleh sampah, dan putrinya berusaha membela dirinya sendiri karena ia di tindas namun sang Bapak hanya diam menonton. Hahah" Puspa tertawa tapi matanya berkaca-kaca.
Bapak Puspa meremas dadanya yang sesak. Tidak bisa mengelak, Bapak Puspa juga sangat merasa bersalah. Tapi sekarang istrinya, Rina tengah mengandung anaknya. Ia hanya ingin Putri kandungnya dan Rina akur.
"Bapak hanya ingin kalian akur..." Lirih Bapak Puspa. Ia menunduk menyembunyikan buliran bening yang telah menetes dari sudut matanya.
"Apa? Hiks. Akur? Bapak jangan mengada-ngada. Puspa tidak akan bisa akur dengan perempuan yang sudah membuat Puspa kehilangan Ibu. Puspa tidak akan bisa akur dengan perempuan yang tidak malu menjalin hubungan dengan suami orang. Tidak akan pernah!. Camkan itu"
Puspa menyeka air matanya.
"Puspa tau kok. Puspa hanya beban di dalam hidup Bapak. Puspa rela Bapak hidup dengan perempuan itu dan Puspa tidak akan mengganggu kalian. Anggap saja Puspa sudah mati ikut bersama Ibu"
"Nak, Jangan katakan itu. Hikss itu menyakitkan" Bapak Puspa mendekati Puspa lalu memeluk Puspa erat.
__ADS_1
Puspa spontan membalas pelukan itu.
Puspa akui ia rindu pelukan Bapaknya. Rindu kasih sayangnya.
"Hikss.. Bapak jahat .. Jahat. Puspa benci Bapak.. Hiksss benciiiiiii..." Puspa menangis sesenggukan dalam dekapan Bapaknya.
"Maafkan Bapak. Maafkan Bapak. Bapak memang bodoh. Bapak salah. Bapak minta maaf.. Jangan ucapkan itu lagi.. Bapak bertahan hidup karena kamu, Nak. Bapak sayang kamu. Hiksss maafkan Bapak." Bapak Puspa mencium pucuk kepala Puspa.
"Hikss Bapak jahaaaatttttt"
" Iya... Hikss.. Bapak jahat.. Maafkan Bapak.. Hiksss" Mereka saling melepaskan rindu dalam pelukan yang berlangsung lama.
***
Puspa menarik dirinya dari pelukan Bapaknya. Bapak Puspa merapihkan rambut Puspa yang berantakan di wajahnya. Ia mengusap air mata di pipi Putrinya itu.
"Kamu masih sama seperti dulu. Kalau menangis ingusnya meler" Bapak Puspa mengelap ingus Puspa menggunakan ibu jarinya tanpa rasa jijik sedikitpun.
"Iisshhh Bapak..." Puspa menggembungkan pipinya. Bapak Puspa terkekeh walau masih ada sisa tangisnya.
"Bapak sangat merindukanmu, Nak" Puspa menatap mata Bapaknya mencari celah kebohongan.
"Puspa juga rindu sama Bapak.." Puspa tersenyum tipis.
Bapak Puspa menarik Puspa dalam pelukannya lagi. Puspa menikmati momen itu. Sekejap saja ia ingin merasakan kasih sayang seperti dulu lagi sebelum hadirnya Rina merusak semuanya.
Sebenci-bencinya Puspa pada Bapaknya, ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa selama ini ia juga merindukan sosok Bapaknya.
Berbulan-bulan hidup tanpa sang Bapak membuat Puspa merasa hidup sebatang kara, Namun... Pria itu membuat harinya sedikit berwarna, Arga.
Puspa tersenyum saat mengingat nama itu.
__ADS_1
*Sory banyak typo*