
🍀🍀🍀
"Kau akan mati dengan senjatamu sendiri" ucap Arga yang senang melihat Ilham ketakutan.
***
Ibu Ilham menghentikan langkahnya saat melihat Arga dan Ilham. Apalagi dengan posisi Arga yang siap membunuh Ilham
"Hentikan!" teriak Ibu Ilham
"Jangan mendekat!"
"Sial, jangan membentak Ibuku!" Ilham tidak terima Arga berbicara dengan nada seperti itu kepada Ibunya
"Diam!" Arga semakin mendekatkan pisau itu ke leher Ilham
Ibu Ilham gemetaran menyaksikan itu,
"Anakku,"
Arga memajukan tangan Ilham yang memegang pisau itu dan mengayunkan ke arah leher Ilham
Ilham memejamkan matanya karena ia tau bahwa pisau itu akan menggorok lehernya sendiri
"Aku kalah" bathin Ilham
"Tidaaaaaakkkkkk!!!" teriak Ibu Ilham
"Aaarrrggghhhhh!!!!" Ilham kesakitan,
'Ting' pisau itu terjatuh ke lantai
Ibu Ilham langsung berlari mendekati Arga dan Ilham. Ilham tersungkur di lantai.
Arga berdiri, ia merenggangkan otot-otot tubuhnya dan mengelap keringat di area wajahnya. Ibu Ilham langsung memangku Ilham, Arga menatapnya dengan tatapan datar.
***
"Aaiiisshh! Kenapa aku susah bangun" Puspa mencoba bangun dari ranjangnya, bahkan untuk duduk pun ia tidak mampu.
"Aku khawatir" Puspa mengatur nafasnya
"Tuan.." lirih Puspa.
'Kriieett' pintu terbuka.
Puspa sontak menoleh dan ia merasa senang bercampur panik melihat siapa yang datang
"Tuan..." lirih Puspa
"Maaf, terlalu lama ya" ucap Arga yang baru masuk ke ruangan Puspa di rawat
"Tuan, apa yang terjadi padamu" Arga berjalan mendekati Puspa, wajah Puspa mulai memanas
__ADS_1
"Eee ini? Aku tidak apa-apa" Arga langsung duduk di samping Puspa
Puspa membulatkan matanya saat tubuh Arga benar-benar terpampang jelas di hadapannya
Arga tersenyum, Puspa semakin salah tingkah
"Kau benar-benar tidak tau malu, Tuan" Puspa menarik selimut hingga menutupi wajahnya
"Hm? Memangnya apa yang salah?" Arga meletakkan kemejanya di ranjang Puspa
"Bodoh" umpat Puspa
"Kau bertingkah aneh. Buka selimutnya"
"Tidak!" tolak Puspa. Puspa merasakan suhu tubuhnya mulai memanas.
"Astagaaa!!" Puspa menjerit dalam hatinya
"Ku bilang buka selimutnya"
"Tidak!"
"Kau memang keras kepala" Arga berusaha menyentuh selimut yang menutup wajah Puspa
Puspa langsung menepis tangan Arga
"Jangan sentuh-sentuh. Kau bau keringat" ucap Puspa
"Tidak. Yaaa mungkin sedikit" bela Arga
"Tapi tidak terlalu asam, buka selimutnya. Ini tidak akan merusak hidungmu"
"Ku bilang tidak" Jantung Puspa semakin berdegup kencang
"Rasanya jantungku akan meledak, dan aku merasa akan terbakar" bathin Puspa
"Cih, kau kenapa sih? Buka selimutnya, bodoh"
"Tidak mau! Jangan dekat-dekat!" Puspa memasukkan tangannya kembali ke dalam selimut
Arga semakin bingung dengan tingkah Puspa yang tidak seperti biasanya
Arga tersenyum licik, ia menyentuh kaki Puspa yang terbalut selimut.
"Kyaaaaa!!! Tuaaan, bodoh!" umpat Puspa saat tangan Arga memegang kakinya
Kaki Puspa langsung merespon, kakinya bergerak berusaha menyingkirkan tangan Arga. Arga terkekeh.
Bukannya berhenti, Arga malah semakin menggoda Puspa dengan memegang erat kedua kaki Puspa
"Tuaaaann! Aku tidak akan memaafkanmu!. Kyaaaa!"
"Hahahahh! Aku juga tidak akan melepaskan kakimu, akan ku makan" goda Arga
__ADS_1
Gerakkan kaki Puspa semakin menjadi, dan itu membuat Arga semakin mengeratkan pegangannya
Tangan Arga bergerak dari kaki menjalar ke paha, dan itu membuat Puspa semakin heboh
"Tuan! Kau stress"
Puspa mengeluarkan tangan dan akan memukul Arga. Namun tangan tangan Puspa malah menyentuh dada bidang milik Arga.
Tangan Puspa gemetaran, Arga yang melihat itu langsung menahan tangan Puspa agar tetap menyentuh dadanya
"Kyaaaaaaa!!!" pekik Puspa. Arga terkekeh.
Puas menggoda Puspa, Arga menghentikan aksinya. Puspa mengatur nafasnya.
Arga kembali duduk dan tidak mengeluarkan suara. 5 menit berlalu,
"Sepi?" gumam Puspa. Perlahan Puspa membuka selimutnya, Puspa terbelalak saat melihat Arga di depan wajahnya. Sontak Puspa memukul kepala Arga
"Awsss" Arga mengelus kepalanya yang agak nyeri akibat pukulan Puspa
"Ah anu, maaf. Aku, aku tidak sengaja. Maksudku kau mengejutkanku" Puspa masuk ke dalam selimut lagi
Puspa kemudian ingat sesuatu, ia membuka selimutnya dan memandangi tubuh Arga
"Tuan..." panggil Puspa lirih.
"Hm?" Arga merapikan rambutnya
"Tubuhmu baik-baik saja, Tuan. Syukurlah" Puspa tersenyum lega
"Oh itu, aku baik-baik saja" Arga tersenyum tipis
"Bagaimana dengan Ilham? Ku harap kau tidak melakukan hal yang bisa membuatmu di penjara" Puspa merasa ngeri mengingat Arga dan Ilham yang sempat berkelahi dan akhirnya Ilham di bawa ke Rumah Sakit
"Em" Arga mulai merasa cemburu lagi
****
"Ilhaaamm"
"Ibu. Uhuk" Ilham terbatuk-batuk.
"Hiks, apa yang terjadi"
Ilham mencabut pisau yang menancap di pahanya. Arga tidak membunuh Ilham, ia mengarahkan pisau itu ke paha Ilham hingga lukanya dalam.
"Jangan di cabut! Kau akan kehilangan banyak darah"
Ibu Ilham ikut merasakan ngilu di pahanya, hatinya berdesir melihat Puteranya terluka seperti ini.
Ilham teringat kata-kata Arga sebelum meninggalkan arena perkelahian
"Harusnya ku bunuh kau, hanya saja itu akan merugikanku. Menjauhlah dari Puspa" ucap Arga di samping telinga Ilham
__ADS_1
Ibu Ilham tidak bisa membela Puteranya, ia masih shock melihat Arga menusukkan pisau di paha kanan Ilham