
Andre menuju ruangannya setelah menangani pasiennya. Ia menyibukkan diri guna mengesampingkan kecemasannya terhadap Yuli
Disisi lain pun Yuli sudah tinggal di rumah baru, suasana baru, teman baru dan lembaran hidup yang baru.
"Huuufffttt, sepertinya ini adalah pilihan yang tepat" ucap Yuli sambil mengambil minum daro kulkas
"Sebentar lagi mungkin mereka akan menyebar undangan, tentu saja aku akan hadir hoho" imbuhnya
"Tentu saja, tentu" Yuli duduk
"Selama ini kan aku hanya menjadi penghalangan mereka. Ya kurasa begitu sih. Sekarang kan sudah tidak ada aku, itu akan memuluskan jalannya hubungan mereka"
Senyum lebar Yuli perlahan memudar, rasa sakit menggelitik hatinya.
"Sampai kapan pun... Perasaan ini tidak akan terbalas, kok" Yuli tersenyum lagi
🍀🍀🍀
19:00
Puspa berdiri di teras rumahnya dan mobil Papa Arga sudah datang. Arga turun dari mobil
"Sampai kapan mau berdiri disitu?"
"Eh! Iya, aku datang" Puspa berjalan ke arah Arga. Supir membukakan pintu mobil untuk Puspa
"Anu, maaf merepotkan" ucap Puspa sambil sedikit menundukkan kepala.
"Ini sudah tugas saya"
Puspa masuk ke dalam mobil di ikuti Arga, Papa Arga sudah ada di kursi depan
"Selamat malam, Tuan Besar" sapa Puspa
Papa Arga mengangguk
"Katakan alamat rumah Bapakmu"
Pak Supir mengangguk setelah Puspa menyebutkan alamat rumah Bapaknya. Puspa tadi siang memintanya lewat telfon
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Puspa cemas akan hasilnya, Arga yang melihat hal tersebut langsung menggenggam tangan Puspa.
Puspa melihat ke arah Arga, namun Arga langsung memalingkan wajah ke samping namun tetap sambil menggenggam tangan Puspa
Puspa merasa sedikit tenang, ia membalas genggaman Arga.
"Ac-nya mati?" batin Arga. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya
Papa Arga tersenyum tipis
***
Mereka telah sampai di lokasi, Rina pun sudah berdiri di depan rumah untuk menyambut tamu malam ini walaupun ia sangat tidak menyukai kehadiran mereka karena mereka telah mengacaukan acara pernikahannya pada saat itu, kecuali Papanya Arga.
Ia pun awalnya menolak saat suaminya mengatakan Puspa akan berkunjung bersama Arga dan juga Papanya, namun akhirnya ia setuju karena takut apabila ia menolak maka Arga akan menghajarnya lagi.
"Ck! Laki-laki sialan itu"
Arga memasang wajah datar seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
Rina memasang senyum walaupun raut wajahnya mengatakan ia kesal.
Rina menuntun mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan di persilahkan duduk
Arga sesekali menepuk tangan Puspa sebagai isyarat untuk tenang.
"Baik, sebelumnya saya memohon maaf karena telah bertamu malam-malam seperti ini, dan terima kasih telah mengizinkannya" Papa Arga buka suara
"Tidak masalah, kok. Lagipula ini pertama kalinya Putri kami berkunjung kemari"
"Tidak, ini kedua kalinya dia datang ke rumahku, dan kuharap tidak ada kekacauan malam ini" batin Rina
Pertemuan malam ini diselimuti rasa canggung, tidak terkecuali untuk Papa Arga. Hal ini dikarenakan Papa Arga akan berdiskusi masalah seperti ini untuk pertama kalinya.
"Begitu, ya"
"Ah iya, suami saya masih menidurkan anak bungsu kami, tadi rewel lagi soalnya"
"Tidak masalah, kami juga tidak sedang buru-buru. Kita akan membicarakan sesuatu nanti dengan rileks"
__ADS_1
Dalam diamnya, Arga juga merasa agak cemas.
Papa Arga dan Rina mengobrol sembari menunggu Bapak Puspa, Rina berusaha keras untuk menyingkirkan perasaan bencinya terhadap Arga dan Puspa untuk sementara waktu saja supaya obrolan dengan Papa Arga tidak rusak
Ia merutuki suaminya yang sangat lama, padahal hanya menidurkan bayinya yang tiba-tiba rewel tadi
Beberapa menit terlewati, tiba-tiba Hp Papa Arga berdering. Papa Arga izin untuk mengangkat telfon dari kliennya dulu, ia mengangkat telfon sembari keluar dari ruangan itu
Bersamaan dengan Papa Arga yang keluar, Bapak Puspa juga baru keluar dari kamarnya.
"Bapak" lirih Puspa
Bapak Puspa tersenyum, ia mendekat ke arah Puspa dan mengelus kepalanya. Mata Puspa membulat, perlakuan Bapaknya ini mengingatkan dirinya di masa kecilnya. Mada yang indah bersama keluarga
"Maafkan Bapak atas kejadian kemarin" ucap Bapak Puspa
Puspa membendung Air matanya
"Jangan menangis, nanti make-upnya luntur" Papa Arga menyeka air mata Puspa yang menetes
Dalam sekejap hati Puspa luluh, ia memeluk Bapaknya
"Maafkan Puspa sudah berkata kasar" lirih
Bapak Puspa menepuk punggung Puspa untuk menenangkannya. Rina yang melihat itu lagi-lagi harus menahan amarahnya
Setelah tenang, Bapak Puspa duduk disamping Rina dan meminum teh
'Uhuk'!!
Teh dimulut Bapak Puspa tersembur, ia terkejut bukan main saat Papa Arga masuk kembali, begitupun Papa Arga yang mematung melihat siapa yang duduk di kursi
"Pak! Bapak tidak apa-apa?" Puspa mengambil alih gelas ditangan Bapaknya
Rina memicingkan matanya.
Arga melihat ke belakang dan mendapati Papanya juga mematung, Ia ikut kebingungan melihat Papanya seperti itu
"Dion?" lirih
__ADS_1