
Papa Arga berdiri, ia menyeka air matanya
"Sial!"
Bapak Puspa terkejut saat Papa Arga mengulurkan tangannya. Bapak Puspa dengan ragu menerimanya.
Puspa dan Arga bisa bernafas lega melihat mereka berdua duduk di kursi yang sama
"Aku butuh jawaban" Papa Arga buka suara
"Maaf, jawaban mengenai hubungan mereka berdua, aku akan menerimanya"
"Eh?"
Bapak Puspa menunduk
"Aku tidak tau harus memulainya dari mana, Arya"
Papa Arga menautkan alisnya, begitu pula dengan Arga dan Puspa yang ikut bingung.
"Kau mungkin sudah tau masalahku dari yang Puspa ceritakan"
"Sepertinya yang Puspa ceritakan tidak terlalu lengkap sih"
Bapak Puspa melirik ke arah Papa Arga
"Kalau begitu aku semakin tidak tau harus memulai pembicaraannya darimana"
"Kita tidak bisa bicara disini" ucap Bapak Puspa, mendengar itu ia langsung ditarik oleh Papa Arga menuju mobilnya
Puspa mau menyusul, namun ditahan oleh Arga dengan alasan untuk memberikan waktu sendiri kepada mereka berdua
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil
"Katakan"
"Kau yakin tidak tau apa yang terjadi dari awal?"
Papa Arga mengangguk. Ia ingin mendengar semuanya dari mulut sahabatnya itu
"Aku tau aku salah" Bapak Puspa menghirup nafas dalam-dalam, ia tidak peduli akan rasa sakit di wajahnya
"Aku juga tidak tau kenapa aku bisa bersikap seperti ini, aku tidak bermaksud menyakiti Puteriku"
"Hmmmm"
"Jika waktu bisa di ulang, aku tidak ingin bertemu dengan Istriku yang saat ini"
Papa Arga hanya mengangguk pelan
"Alasanmu menghilang dari kami apa? Kenapa kau sengaja melakukannya. Jika kau masih ada di kota ini, harusnya kita bisa bertemu"
Bapak Puspa tidak menjawab
"Haaahhh gara-gara tindakanmu itu, Istriku sampai berbuat yang tidak seharusnya pada Puspa. Dia juga menerima penderitaan dari Istriku"
"Aku salah" Bapak Puspa menangis pelan
Bapak Puspa bercerita awal mula semua ini terjadi, pertemuan dengan Rina dan sampai saat ini
__ADS_1
"Kau dijebak? Padahal kau sudah berumur tapi masih saja bertingkah" Papa Arga memijat pelipisnya
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku ada sedikit ketertarikan pada Rina, tanpa sadar aku telah melakukan hal yang tidak seharusnya, hingga dia hamil, hamil anakku"
"Kau bo*doh, Dion. Yakin itu anakmu?"
Bapak Puspa mengangguk
"Kematian Puteraku juga membuatku stress, dan disusul kematian mendiang Istriku" sambil menahan sakit dihatinya
"Setiap aku melihat gunting, aku selalu ingat padanya. Sampai saat ini aku dihantui semua itu, Arya"
"Aku tidak bisa menceraikan Rina, Istriku yang saat ini. Aku tidak mau berpisah lagi dengan Istriku. Aku ingin Rina dan Puspa bisa akrab"
"Kau fikir Puterimu itu akan menerima semua ini dengan lapang dada? Mikir, Dion. Masih menerima dirimu saja itu sudah sangat bagus buatmu"
"Aku ingin membuat anakku yang terakhir ini merasakan keluarga yang utuh, Arya. Apa itu salah? Aku juga ingin merangkul Puspa supaya kami benar-benar jadi keluarga yang lengkap"
"Kau sudah sakit jiwa. Bisa jadi kau kehilangan dirimu untuk menjadi orang tua yang sesungguhnya ini adalah akibat dari apa yang kau lakukan" Papa Arga tidak habis fikir.
"Kemarin kau menolak Puteraku, lalu tadi kau meminta waktu untuk berfikir lalu kau menerimanya. Jangan mempermainkan hal ini. Kau sudah seperti menelantarkan anakmu, kenapa kau tidak membiarkan dia memilih jalannya sendiri?"
"Aku seperti bimbang"
"Dion, apakah kau benar-benar merestui anak kita masing-masing?"
"Iya, setelah tau dia Puteramu, aku merasa Puspa akan baik-baik saja"
"Lalu kenapa kau tadi mengulur waktu seperti itu, hah?" dengan nada dingin
"Aku malu, saat tau dia adalah anakmu dan aku telah melakukan hal buruk"
"Aku tau itu" menunduk
"Jika terus begini, sama saja dengan kau membunuh Puterimu secara perlahan"
Mereka terus melanjutkan percakapan hingga akhirnya keputusannya adalah Bapak Puspa merestui Arga dan Puspa untuk bersama
"Maaf telah menghajarmu" ucap Papa Arga sambil keluar dari mobil
Bapak Puspa tersenyum tipis, Sahabatnya itu masih saja seperti dulu, enggan menatap wajahnya saat ia meminta maaf. Ini bukan pertama kalinya ia dihajar oleh Papa Arga, semasa mudanya pun sudah pernah
Bapak Puspa merasa tubuh dan fikirannya terasa lebih ringan dan lega setelah mengungkapkan semuanya, ternyata ia hanya butuh pendengar
Namun tetap saja rasa bersalah terus menghantui dirinya, baik itu salah kepada Puspa maupun mendiang Istri pertamanya
"Terima kasih" lirih,
Bapak Puspa juga keluar dari mobil dan disambut Arga dan Puspa di teras
Puspa mendekat dan memeluk dirinya
"Pak, terima kasih!" sambil tersenyum lebar hingga terlihat giginya
Bapak Puspa merasakan senang namun sakit saat melihat ekspresi senang dari Puspa. Sudah lama ia tidak melihatnya
"Ternyata benar, aku hampir membunuh Putriku secara perlahan" batin Bapak Puspa
"Bapak tidak akan memaksakan kehendak Bapak lagi" Bapak Puspa menepuk pelan kepala Puspa
__ADS_1
"Nanti Puspa obati lukanya, pasti sakit kan?" Puspa merangkul lengan Bapaknya
Hatinya semakin pedih melihat tindakan Puspa
"Tidak sakit, kok" dengan suara yang bergetar
"Ehem" Arga berdehem
"Sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit saja, hasil pukulan Papaku terlihat buruk" ucap Arga
"Arga" Papa Arga yang merasa disinggung
Puspa terkekeh, saat ini ia sudah merasa lega.
🍀🍀🍀
Disisi lain di rumah Andre
Andre tidak bisa mengalihkan rasa cemasnya terhadap Yuli. Ia merasa sedikit merindukan sosok Yuli
Setelah seharian menahan diri, ia tidak dapat mempertahankannya, ia segera bergegas menuju rumah Yuli dan berharap Yuli sudah kembali
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Andre merasa kecewa saat sampai di rumah Yuli dan masih saja Yuli belum kembali
"Sebenarnya kau dimana? Apa salahku?"
Andre kembali masuk ke dalam mobil
🍀🍀🍀
Sudah hampir larut malam
"Mari masuk dulu, Tuan"
"Terima kasih, tapi kami harus pulang. Pekerjaan Arga banyak yang harus di selesaikan. Ini akibat dari aksi konyolnya itu"
"Pa,"
"Apa? Benar kan? Pulang dan selesaikan pekerjaannya" Papa Arga masuk kembali ke dalam mobil
"Sesegera mungkin aku akan menyiapkannya"
"Bertunangan, ya? Anu, kenapa tidak langsung menikah" sambil menahan malu
Arga jadi malu juga.
(Padahal udah lampu ijo😩)
"Aku akan menggunakan uangku sendiri untuk pernikahan kita nanti. Jadi, kita bertunangan dulu paling tidak 1 atau 2 bulan" jawab Arga dengan datarnya
"Anu, eeehh itu... Selamat malam" Puspa langsung menunduk. Ia gugup
"Ah iya, anu malam. Aku pulang"
Puspa mengangguk
"Hati-hati" lirihnya.
"Aku mendengarnya" ucap Arga yang langsung masuk ke mobil
__ADS_1
"Aaaaaa malunyaaaaa" Puspa membelakangi mobil sampai mobil Papa Arga telah pergi