
"Dion.."
"Arya."
Kedua sahabat lama ini saling menatap, memastikan siapakah yang ada didepannya saat ini
"Pa?" Arga menepuk pundak Papanya
"Ah!, itu." Papa Arga tersadar, begitupun Bapak Puspa
Suasana semakin canggung,
"Ini suami saya. Mas, ini majikannya Puspa" ucap Rina
"Ehem" Papa Arga berdehem dan membuat Bapak Puspa melihat ke arahnya
"Lama tidak bertemu" Papa Arga mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
"I-Iya, lama sekali" Bapak Puspa menerimanya
Mereka kembali terdiam
"Kenapa?" bisik Puspa pada Arga, Arga menghendikkan bahu tanda ia tidak tahu
"Bagaimana kabarmu?" tanya Bapak Puspa
"Aku baik-baik saja. Yah, ada sedikit masalah akhir-akhir ini"
"Oooh, kau masih berkilau dari dulu"
"Ahaha, bisa saja kau, Dion" ketawa garing
__ADS_1
Rina menyenggol lengan suaminya karena ia juga kebingungan
"Aku tidak tau, apakah pertemuan ini adalah keberuntungan atau tidak"
"Kenapa?" tanya Bapak Puspa
"Ehem! Jadi sebelumnya aku turut berduka atas meninggalnya istri pertamamu, dan ku ucapkan selamat atas pernikahanmu yang kedua kalinya"
Bapak Puspa sedikit terkejut karena Papa Arga mengetahuinya
"Anu, bagaimana kabar Istrimu?" tanya Bapak Puspa
"Dia semakin pemarah sih, dia terlalu memaksakan perjodohan konyol yang disepakati oleh istri kita berdua"
"Dia menganggapnya serius?" Bapak Puspa mengira hal itu hanyalah candaan di masa lalu
Papa Arga mengangguk
Bapak Puspa mengepalkan tangannya, namun ia tetap memasang raut wajah tenang
Puspa dan Arga masih belum mengerti akan situasi saat ini
"Pa?"
"Hmmmm, jadi Bapaknya Puspa ini adalah sahabat dari Papa dan Mama, Arga" Papa Arga meminum teh
"Ha?!!" Puspa syok.
"Sahabatan?" Puspa bertanya dengan rasa tidak percaya
Papa Arga mengangguk
__ADS_1
"Jadi yang Mama maksud itu?"
"Ya, Puspa anaknya Dion yang Mama kamu inginkan. Dan kita tidak pernah bertanya padanya tentang identitas lengkapnya, bukan?" Papa Arga merasa lega, namun ia juga marah pada Bapak Puspa
Mata Arga berbinar, ia memandangi Puspa yang sedang melongo
"Jika dijadikan film, mungkin akan berjudul 'Aku disiksa oleh wanita yang menginginkanku sebagai menantu' " batin Puspa
Arga refleks menggenggam tangan Puspa dan membuyarkan lamunan Puspa
"Kalau dia yang Mama jodohkan, aku tidak akan menolak dari dulu" kegirangan
"Dion, aku ingin bicara denganmu nanti. 4 mata saja" Papa Arga kembali tenang
"Oke, kita sampingkan dulu masa lalu kita. Disini aku sebagai Orang Tua dari Puteraku, aku meminta izin untuk menjadikan Puterimu sebagai bagian dari keluarga kami dengan kata lain untuk menjadi pasangan Arga. Arga sudah mengutarakan apa yang ia inginkan padamu, namun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan mereka berdua"
"Arya, tapi.."
"Aku memohon maaf karena tidak bisa menyusun kata-kata yang lebih baik, pada intinya Puteraku ingin meminang Puterimu" Papa Arga manahan rasa gugupnya
"Adakah alasan kenapa kau menolak Puteraku?" tanya Papa Arga
Bapak Puspa terdiam
"Dion, aku merasa saat ini kau sangat berbeda dengan dirimu yang dulu. Yah, menolak atau menerima memanglah hak mu. Tapi itu kan harus ada alasan yang jelas. Jika alasannya hanya karena mereka baru mengenal saja, kau harusnya mencoba mencari identitas anakku, dan kau harusnya mendengar apa yang mereka inginkan"
"Aku hanya takut Puteriku akan jatuh pada tangan yang salah. Dan benar, mereka kenalnya masih baru-baru saja, jika dia Puterimu, kau pasti akan melakukan hal yang sama"
"Tidak" bantah Papa Arga
"Aku akan lebih melakukan yang namanya Intropeksi Diri. Mengenai penentuan tolak atau terima, aku tidak akan langsung mengatakannya, melainkan aku akan meminta waktu untuk menjawabnya"
__ADS_1
"Kau tidak mengerti apa yang terjadi padaku" lirih Bapak Puspa