Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Halusinasi


__ADS_3

***


Arga dan Puspa berjalan menuju pohon-pohon rindang di tengah taman, berbagai bunga bermekaran hari itu, walaupun telinga terganggu bisingnya suara mesin kendaraan yang berlalu lalang.


"Rencanaku, setelah aku memberikan itu aku akan pulang. Kenapa aku malah mengikuti langkahnya" gumam Puspa heran


Baru beberapa langkah, Arga tiba-tiba terdiam. Puspa tidak menegurnya, takut suasana hati Arga sedang kacau.


"Ingat sesuatu di taman ini?" tanya Arga


"Hehehe, maafkan aku Tuan Muda. Aku salah sasaran" Puspa menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Jika aku sampai masuk Rumah Sakit, ku pastikan kau akan menjadi babuku seumur hidup" Arga tersenyum tipis, sementara Puspa menundukkan kepalanya.


Di pegangnya dada kirinya, dapat Puspa rasakan jantungnya seperti usai lari marathon.


"Tenanglah jantung... Haduh..." Puspa berbicara pelan supaya Arga tidak mendengarnya. Ia menarik nafas dalam-dalam berharap ini akan membantu jantungnya untuk lebih santai berdetaknya.


"Tapi Tuan, aku beruntung karena batu itu hanya mengenai sedikit dari bagian tubuhmu. Setidaknya aku tidak akan menjadi babumu yang kekal" Puspa menahan tawanya.


"Mungkin akan ada cara lain supaya kau menjadi babuku"


Mendengar ucapan Arga, Puspa menghentikan langkahnya karena terkejut. Arga menoleh ke arah Puspa yang sedang memasang wajah terkejut


"Selamanya. Hahaha" imbuh Arga.


Puspa hanya bisa terdiam kaku. Bukan cita-citanya untuk menjadi babu apalagi selamanya. Dan poin utamanya adalah ia tidak mau menjadi babu untuk Arga yang mana pastinya akan selalu membuat ulah.


"Aku tidak mau" Puspa menolaknya mentah-mentah


"Mau tidak mau, akan kupastikan kau akan menjadi babuku" Arga menyeringai


"Buang jauh-jauh ekspresimu, Tuan. Sangat jelek" Puspa menjulurkan lidahnya


"Kau meledekku?" Arga mengangkat 1 alisnya


"Kau tidak sebodoh yang kukira. Hahaha" Puspa langsung berlari dan Arga pun mengejarnya. Aksi kejar mengejar pun di mulai, tentu saja langkah Puspa kalah cepat dengan Arga. Arga berhasil menangkap Puspa hingga mereka terjatuh ke rerumputan taman. Arga menggelitiki Puspa hingga Puspa tidak berdaya, tawa mereka pecah tanpa jaim.

__ADS_1




"Tuan, Tuan!" Puspa berteriak memanggil Arga yang sedari tadi diam tak bergeming.



Arga tersadar, ternyata sedari yang Arga mengatakan apakah Puspa mengingat sesuatu di taman ini atau tidak, itu semua hanyalah halusinasinya saja tadi. Jadi, Arga mengatakan akan menjadikan Puspa babu, sampai adegan kejar-kejaran tadi hanyalah halusinasi belaka. Arga melihat sekelilingnya, dan mendapati Puspa menatapnya bingung. Arga memejamkan matanya sebentar dan membuang nafas berat.



"Ada apa?" tanya Arga dingin



"Kau tadi tiba-tiba berhenti, lalu kau senyum-senyum sendiri. Kau sakit, Tuan?" Puspa kebingungan melihat Arga




"Huh dingin lagi. Dasar aneh" Puspa mengejar Arga yang sudah berada di depannya.



Arga masuk ke mobil, dan Puspa hanya berdiri di luar dan memandangi Arga yang sedang memakai sabuk pengaman.



"Sedang apa kau?" Tanya Arga yang bingung kenapa Puspa tidak ikut masuk ke mobil.



"Berdiri, Tuan"


__ADS_1


"Tolong otakmu dipakai, jangan bodoh. Bukannya masuk, malah berdiri disitu" Celoteh Arga



"Kan Tuan tidak menyuruhku tadi, jadi-"



"Masuklah. Jangan membuatku kesal" Arga tidak mau disalahkan



"Tapi aku masih ada urusan, Tuan" tolak Puspa.



"Ya, aku mengerti. Temuilah lelakimu itu" Arga berucap dengan nada kesal. Ia melajukan mobilnya begitu saja tanpa mendengar jawaban Puspa.



"Eh? Lelaki yang mana?" Puspa bingung.



"Kenapa dia begitu kesal? memang aneh" Puspa menarik nafas, menahan sakit di dadanya yang tiba-tiba muncul. Rasa kecewa Puspa rasakan, karena Arga tidak mendengarkan Puspa dulu. Apalagi kotak makanan itu masih ada di tangan Puspa.



"Eh, sebentar. Kenapa aku merasa seperti ini. Tidak, tidak" Puspa menggelengkan kepalanya. Puspa menatap kotak makanan di tangannya,



"Kau akan kumakan. Tenang saja" Puspa berbicara pada kotak makanan tersebut. Puspa bergegas melangkah pergi dari taman itu.



Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka sejak tadi. Orang itu membetulkan topinya dan bergegas meninggalkan taman itu juga.

__ADS_1


__ADS_2