
"Tuaaan kau tidak sopaaaann!!" pekik Puspa dan mendorong tubuh Arga
Arga memejamkan matanya dan mengatur nafas. Ia menyeka keringat di sekitar dahinya.
"Tetangga akan mendengar teriakanmu itu" ucap Arga, ia berdiri dan menenangkan dirinya
"Kau mesum! Sengaja menempel di sini" Puspa menunjuk buah dadanya
"Itu tidak sengaja, lagipula punyamu kecil" Arga langsung berjalan keluar kamar dan meninggalkan Puspa yang melongo
"Kecil?" Puspa bertanya-tanya, ia juga menyentuh buah dadanya
"Mukamu yang terlalu lebar!" balas Puspa
🍀🍀🍀
"Tuan, kau tidak boleh masuk ke kamar sembarangan di rumah orang. Sangat minim akhlak" Puspa berkacak pinggang di hadapan Arga yang sedang meminum teh yang sudah dingin
"Aku tidak berniat masuk kesana. Aku hanya penasaran"
"Ha?? Itu sama saja. Itu kamar yang penuh -- "
"Hm?"
Puspa menggantung ucapannya
"Penuh kenangan. Jangan sembarangan masuk. Kau tidak tau apa yang telah terjadi disana" Puspa menunduk
"Rumah ini harus di renovasi. Angker"
"Otakmu saja yang parnoan" Puspa tidak terima rumahnya disebut angker
"Hm, aku akan mengurus biaya renovasinya. Kau atur saja bentuk rumahmu ini mau seperti apa. Kalau mau kau bisa pakai jasa arsite-"
"Kau terlalu berlebihan" sela Puspa
"Setidaknya ada perubahan"
__ADS_1
Puspa meremas ujung pakaiannya
"Katakan saja 'Terima kasih' padaku" ucap Arga dengan bangganya
"Aku tidak berniat seperti itu, hihi"
"Oh iya, aku belum selesai masalah tadi. Kenapa kau masuk kamar itu tanpa izin dariku? Aku sudah pernah kan memperingatkan hal ini. Itu melukai privasi seseorang. Jangan pernah masuk kesana lagi tanpa izinku"
Sementara Puspa mengomel, Arga memikirkan apa maksud mimpi itu. Antara seram tapi juga membuatnya penasaran. Arga merasa tidak asing dengan sosok perempuan itu.
"Siapa? Ibunya Puspa?" batin Arga
"Apa kami pernah bertemu? Dimana?"
"Tuan? Kau dengar kan?"
"Hm, aku pulang" Arga berdiri dan mengelus kepala Puspa
"Eh? Aku sedang berbicara, loh"
"Kedepannya lepas dalamanmu itu saat tidur" ucap Arga yang langsung menutup pintu rumah Puspa
Puspa terdiam, pipinya memerah
"Dasar mesum!" Puspa malu saat mengingat wajah Arga yang menempel di dadanya
"Mesum mesum mesuummm!!" Puspa memeluk dirinya sendiri dan melihat buah dadanya yang dinilai kecil oleh Arga
"Sudah ku duga, kau pasti mesum" lirih
"Matamu juga bermasalah!"
"Dasar payah, mesum!"
****
Disisi lain, di kamar Yuli
__ADS_1
Yuli menangis sesenggukan usai membaca novel yang berakhir happy ending. Yang membuatnya menangis adalah karakter pria yang menerima serta tetap mencintai karakter perempuan yang telah hamil anak temannya sendiri
Mengingat kondisinya saat ini yang sudah jebol oleh pria yang Yuli sendiri pun tidak tau siapa pria itu. Hal ini menjadi penghalang baginya untuk mengutarakan perasaannya pada Dokter Andre, selain itu sosok Puspa juga merupakan penghalang bagi Yuli.
"Hiksss, seandainya aku bisa menahan diriku saat itu"
Keputusannya sudah bulat untuk membuang perasaannya terhadap Andre, tapi tetap saja rasa itu tidak mau hilang. Hatinya teriris ketika ia harus tersenyum saat Andre membicarakan sosok Puspa, gadis yang menarik perhatian Andre
"Dia adalah Dokter, dia juga tidak pernah berbuat aneh-aneh terhadap perempuan. Lalu aku dengan lancangnya memelihara perasaan sialan ini untuknya? Aku memang egois" Yuli meletakkan novel yang telah ia baca dan menyelimuti tubuhnya
"Hatiku sakit saat kau membicarakan gadis itu dengan mata yang berbinar-binar dan wajah yang tersipu, kenapa kau tidak peka! Kenapa kau tidak peka dan tidak mau peka? padahal aku sering disampingmu, Andre! Kenapa perasaan ini masih tetap hidup, dengan cara apa aku bisa menghilangkannya!" Yuli memeluk guling dengan erat, air mata hangat mengalir dari matanya yang mulai bengkak akibat menanangisi novel yang ia baca
"Aku membeci diriku yang payah ini, kenapa aku sebodoh ini"
Teringat masa-masa bersama Andre semakin membuat Yuli sedih, persahabatan yang berujung perasaan sayang yang melebihi sahabat. Namun tidak seindah kisah di novel maupun kisah di kehidupan orang lain yang mana dalam kasus ini banyak yang berhasil bersatu.
****
Sesampainya di rumah, Arga langsung masuk ke kamarnya. Ia masih memikirkam maksud mimpi tadi.
"Dia fikir tubuhku tempat untuk melukis hah?" Arga melepas pakaiannya dan bergegas ke kamar mandi
"Hmmm mungkin aku terlalu lelah bekerja hari ini" gumam Arga
"Selanjutnya fikirkan bagaimana cara mengungkapkan perasaan konyol ini pada Puspa"
"Tidak ku sangka, berbicara saja susah"
"Sial, aku juga harus memikirkan cara supaya Papa dan Mama tidak menentang hal ini, memikirkan tinggal dimana setelah menikah. Yang pertama aku harus memastikan Puspa tidak memiliki perasaan terhadap laki'-laki lain, karena memang hanya aku yang boleh bersamanya"
"Hhhhh memikirkannya saja membuatku lelah, tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja"
"Inilah rumitnya percintaan, menyebalkan"
"Aku lelah banyak bicara"
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1