Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Perubahan


__ADS_3

🍀🍀🍀


Pagi Hari


Hari ini cuacanya bagus, langitnya biru tanpa ada sedikitpun awan, udaranya terasa jernih.


Puspa baru saja pulang dari kantor Desa untuk mengambil KTP nya yang sudah jadi. Ia memandangi KTP tersebut


"Aku bisa cari pekerjaan yang mengharuskan menggunakan KTP" gumam Puspa, ia masuk ke dalam rumah dan mendapati Bapaknya murung


Puspa belum berbicara dengan Bapaknya sejak kemarin. Mereka sama-sama diam


Puspa menuju ke dapur untuk memasak sarapan yang mana jam sarapan pun sudah lewat


Puspa tidak lagi menangis, ia cenderung diam baik pada Bapaknya maupun warga sekitar. Senyum ramahnya pun sudah padam sejak kejadian itu.


"Permisi!!" pekikan suara perempuan yang tak lain adalah Rina membuyarkan lamunan suaminya itu.


Puspa yang mendengar dari dapur hanya bisa menghela nafas, ia malas berurusan dengan Ibu Tirinya ini


"Rina" lirih sambil berdiri


"Bagus ya tidak pulang 2 hari!" Rina mendekat ke arah Bapak Puspa dengan wajah sangarnya


"Aku tidak bisa membiarkan Putriku sendirian untuk saat ini, Rina" Bapak Puspa mengambil alih bayi mungil yang ada di gendongan Rina


"Jangan lupa ya, Mas. Kau ini juga punya anak yang masih bayi. Anakmu yang satu itu sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, lah ini bayimu dikiranya bisa ngurus dirinya sendiri, hah?"


"Rina pelankan suaramu"


"Biar saja lah! Biar anak lamamu itu keluar dari persembunyiannya"


Puspa yang tengah memotong terong itu menghentikan aktivitasnya


"Astaga pipimu, Mas! Ini pasti ulah anakmu kan!" Rina menyetuh dan mengelus luka yang di perban


"Kau sangat sial jika terus berada disini"


"Rina!" Bapak Puspa melotot


"Lah nyatanya memang begitu kan? Haha" Rina tertawa mengejek


"Aku sudah dengar dari warga sekitar, anak kebanggaanmu itu telah berani memasukkan laki-laki yang bukan suaminya bahkan mereka tinggal seatap. Hadeehhhh, mungkin itu warisan Ibunya, ya"


Bapak Puspa menahan tangannya yang rasanya sangat ingin menampar Rina.


Puspa yang mendengar itu langsung keluar dari dapur, pisaunya pun masih ada di genggamannya


"Hoho, Tuan Puterinya sudah keluar"

__ADS_1


Puspa menatap tajam Rina


"Beraninya jala*ng sepertimu menghina Ibuku untuk yang kesekian kalinya" Puspa menodongkan pisau pada Rina


"Nak, turunkan pisaumu. Berbahaya"


Puspa yang mendengar itu seperti mendapat tamparan secara tidak langsung, Puspa menurunkan pisaunya dan menatap Bapaknya


"Bapak sama saja dengan Rina" dengan nada yang ditekan


Mereka semua terdiam.. Puspa akhirnya buka suara


"Bapak telah mengecewakanku untuk yang kesekian kalinya juga, ya?" Puspa menyipitkan matanya


Ia mendekat pada Bapaknya yang mana lebih tepatnya mendekati adiknya. Puspa menyentuhkan ujung pisau di pipi adik mingil itu.


Rina dan Bapak Puspa sontak panik saat Puspa melakukan hal tersebut


"Bergerak sedikit saja, akan kubunuh dia" ucap Puspa dengan nada yang terdengar aneh


"Puspa!!!" Rina tidak berani bergerak saat ujung pisau itu masih menempel di pipi bayinya


"N-Nak, itu berbahaya"


"Ya ya ya" Puspa menarik pisaunya lalu tersenyum pada Bapaknya


"Aku hanya mengujimu. Eemm yaaahh ternyata anak ini lebih kau sayangi, ya. Oh iya, silahkan keluar dari sini, dong" sambil tersenyum


"Kau?! Iblis!. Apa Ibumu tidak mengajarkan tatak krama padamu, hah!"


"Ssshhh, akan lebih baik jika mulutmu ku jahit, Rina. Sangat lucu saat ja*lang sepertimu menjalangkan wanita yang jelas-jelas korbanmu dan kau berbicara masalah tata krama" Puspa melempar pisau ke lantai


Puspa menarik Rina dengan sekuat tenaga serta kasar dan mendorongnya hingga terjatuh di halaman rumah, Bapak Puspa sangat terkejut melihat tingkah Puspa yang berubah total dalam waktu 2 hari saja


"Aawwhhh, sakit" Rina merasakan perih di sikunya


"Pak, pilih ku seret atau mau keluar sendiri" Puspa tersenyum yang mana senyuman itu terlihat menyeramkan


"Bayinya juga mau diajak keluar atau mau ku lempar seperti Ibunya ini?"


Bapak Puspa mematung, ia tidak percaya yang ada di hadapannya ini adalah Puspa


🍀🍀🍀


Disisi lain,


Hari ini Andre mengambil cuti, ia tengah berada di kediaman Yuli, menanti kedatangan Yuli


"Yuli, kamu kemana?" Andre sangat cemas

__ADS_1


"Aku tidak mungkin meminta bantuan pihak berwenang untuk mencarimu"


"Kenapa tidak mengabariku"


Andre bahkan belum sarapan, ia memikirkan Yuli. Takut terjadi apa-apa pada sahabat satu-satunya itu. Ia kehilangan orang yang mau mendengar isi hatinya


"Ya, aku kehilangan orang yang mau mendengarkanku di setiap saat" tanpa ia sadari, dirinya hampir menangis


"Kembalilah, kumohon" Andre duduk bersandar di pintu gerbang


Tetangga Yuli hanya bisa melihat Andre, walau sebenarnya ia kasihan tapi Yuli sendirilah yang meminta agar ia tidak memberi tahu kemana perginya Yuli


🍀🍀🍀


Bapak Puspa melangkah pelan keluar dari rumah, ia melirik Puspa seakan tidak percaya bahwa gadis didepannya ini adalah Putrinya


Puspa tersenyum lebar dan sesekali menyeringai


"Ah iya. Kau, kau Rina tolong ya mulutnya diberi obat. Mulutmu tidak bisa bicara yang benar, sih. Emmm jika tidak ada hukum, aku sih akan lebih memilih untuk menghabisimu saat ini. Aku jijik pada perempuan sepertimu, sih" Nyali Rina menciut melihat tatapan Puspa yang mengerikan, ia tidak seperti Puspa yang dulu


"Terimakasih lukanya, ini sangat berarti. Eemm yaa Bapak juga ikut berperan, sih"


Bapak Puspa tidak berkata apa-apa, mulutnya seakan-akan terkunci.


"Anu, Kau yang mengaku sebagai Bapakku, jangan datang lagi kesini kalau tidak bisa membela keluarga lamamu. Ya bagaimana, ya? Kau sudah serumah sih dengan wanita ja~lang yang tidak tau diri itu, mungkin saja kau sudah mulai ketularan dan tidak punya hati lagi"


Puspa memasang wajah yang seakan-akan sedang berfikir lalu berkata


"Yaaa mungkin kau sudah bukan Bapakku lagi semenjak kau main serong, sih. Hahaha"


"Lucu-lucu, kalian keluarga bedebah" Puspa melempar sisa perban yang habis ia pergunakan untuk membalut luka Bapaknya


"Daaaaahhhh" Puspa melambaikan tangan kemudian menutup pintu rumah.


Puspa mengambil pisaunya di lantai dan berjalan lagi ke dapur.


"Hahahahha lucu-lucu"


"Huauahahahah"


Puspa terus tertawa hingga ia berada di dapur,


"Hahaahhaa... Haaahhh... Haa" tawanya memudar, berubah jadi isak tangis yang memilukan


"Sial!"


Puspa memukul-mukul dadanya yang terus merasa sakit.


Puspa melanjutkan memotong terong sambil menangis, air matanya jatuh di potongan terong itu

__ADS_1


"Sudah di marinasi pakai air mata, ya" Puspa merapatkan bibirnya, ia berusaha tersenyum namun yang ada malah semakin sakit


Ia berhalusinasi ada Arga disampingnya, Puspa bisa tersenyum lebar dan melihat Arga seakan-akan mengelus rambutnya


__ADS_2