Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Resepsi I


__ADS_3

20:00


Puspa kembali ke kamarnya.. Ia merebahkan dirinya di ranjangnya.


"Huuffttt Tuan Muda ikut... Pasti akan jadi pertanyaan besar bagi Bapak dan Wanita itu. Haha. Entah bagaimana reaksi mereka nantinya. Dan ya, Tuan Muda kenapa mau ikut? Akhir-akhir ini dia semakin menyebalkan."


"Huufftt mimpi itu... Mengerikan." Puspa menarik selimutnya.


"Lumayan juga jadi asistennya Tuan Muda.. Jam segini sudah boleh tidur. " Puspa menyamankan posisi bantalnya.. Lalu memejamkan mata bersiap untuk jalan-jalan di alam mimpi.


🍀🍀🍀


6 Hari kemudian.


18:10.


Puspa sudah bersiap-siap. Ia berdiri di depan cermin dan melihat pantulan dirinya. Bi Ina tadi pagi memberikan sebuah dres mini untuk Puspa yang di berikan oleh Arga. Puspa merasa ada hal - hal di luar biasanya dari Arga. Daripada di pecat, Puspa memilih menerima pemberian Arga.


"Cantik. Wkwkwk. Tentu saja.. Baju ini sangat bagus dan.. Mahal" Puji Puspa.


'Ddrrtttt drrrtttt'


Puspa meraih Hp nya dan mengangkat telfon


"Lama"


"Eh maaf Tuan Muda.. Saya segera keluar"


"Hm"


'Tut tut tut'


Arga mengakhiri panggilannya.. Ia bosan menunggu di mobil.


"Tuan Muda yakin tidak ingin di antar?" Tanya Supirnya.


"Iya"


"Hah hah hah.. Maaf Tuan saya terlambat" Puspa yang baru datang mengatur nafasnya.


"Kita naik mobil?" Tanya Puspa.


"Kau fikir aku mau jalan kaki? Cih"


"Maaf.." Puspa memegang gagang pintu mobil bagian belakang


"Yang menyuruhmu duduk di belakang siapa?"


"Eh Lalu?"


"Di depan. Jangan banyak bicara." Puspa menggembungkan pipinya, kesal.

__ADS_1


Puspa masuk ke dalam mobil.


"Sabarrr.."


"Dimana lokasinya?"


"Ini bapak kirim share loc"


"Hm" Setelah melihat isi shareloc itu, Arga melajukan mobilnya menuju alamat tersebut.


"Tuan Muda.. Boleh saya bertanya alasan Tuan Muda mau ikut?" Puspa ragu tapi rasa penasarannya lebih besar.


"Entahlah" Arga juga sebenarnya bingung alasan mengapa ia ingin ikut. Mulutnya tiba-tiba saja melontarkan kata ingin ikut.


Puspa menautkan alisnya.


"Bagaimana seseorang bisa melakukan sesuatu yang alasannya bahkan tidak di ketahui? Majikan sinting"


"Ohhh" Puspa hanya berohria.


15 menit kemudian mereka sudah sampai di tujuan.


Puspa dan Arga keluar dari mobil.. Dan memandang rumah di depannya yang sudah di penuhi para tamu.


"Padahal sudah kaya, masih saja pelakor" Gumam Puspa.


"Siapa?" Arga mendengar itu


"Kita masuk atau hanya berdiri di sini."


"Ah tentu masuk.. Ayo" Puspa berjalan mendahului Arga


"Tidak sopan berjalan di depanku"Gumam Arga yang tentu tidak di dengar oleh Puspa karna jarak yang lumayan jauh.


'Ddrrttt ddrttt' Arga meraih Hp nya.


"Halo"


"Sayang kamu dimana?" Terdengar suara Mama nya yang khawatir.


"Apa pelayan di rumah tidak memberitahu pada Mama dan Papa?"


"Ya mereka hanya bilang kamu keluar dengan Pelayanmu itu. Apa kamu kurang waras kencan bersamanya?"


"Hm. "


Arga langsung mematikan panggilannya


***


"Sialan" Umpat Mama Arga . Ia membanting Hp nya ke ranjangnya.

__ADS_1


***


Karena menerima panggilan itu, ia di tinggal masuk oleh Puspa.


"Hmmmm dasar sinting. Aku sebagai tamu tapi di tinggalkan begitu saja" Arga melangkah santai.


🍀🍀🍀


"Assalamualaikum Pak." Puspa yang baru datang langsung menghampiri Bapaknya dan mencium punggung tanngan Bapaknya.


Rina menjulurkan tangannya karena mengira Puspa juga akan mencium punggung tangannya layaknya seorang anak pada Ibunya.


Namun itu salah. Puspa justru menepis tangan Rina.


"Maaf.. Kamu terlalu rendah untuk aku salami" Puspa memutar matanya.


"Kurang ajar kamu ya" Rina hendak mendorong Puspa namun di lerai Bapaknya.


"Sudah sudah. Lihat banyak tamu. Tidak bisakan kaliam akur sebentar saja?"


"Cih.. Masih membelanya ya? Puspa rasa sebentar lagi Puspa memang akan jadi yatim piatu."


"Puspa.. Bukan begitu maksud Bapak."


"Haha Mas, Mas. Anakmu ini terlalu sok. Dan lihat, bukankah kondisi keuangan mantan keluarga kalian itu ya di bawah rata-rata lah. Tapi lihat, Baju yang ia kenakan malam ini. Ini kan bukan baju biasa. Pasti dia punya pria hidung belang" Rina tersenyum remeh.


Puspa mengepalkan tangannya. Matanya menahan Amarah.


"Rina. Jaga ucapanmu. Puteriku tidak begitu!"


"Mas! Aku ini sedaang hamil. Kalau kamu marah-marah sama aku, Janin ini akan ada gangguan." Rina mengeluarkan jurus andalan... Air mata. Hahahha.


Bapak Puspa mengusap kasar wajahnya.


"Tidak kusangka.. Puspa punya Bapak yang bahkan bisa mendengar anaknya di hina. Hiks"


"Puspa bukan begitu, Nak"


"Katakan siapa yang jadi bank saldomu?" Tanya Rina meremehkan


"Dengar Wanita Ja*lang. Jaga bicaramu sebelum ku beberkan kepada para tamu" Puspa menekan perkataannya


'Deg' Rina sedikit gemetar.


"A-Apa maksudmu. Kau ini memang licik"


"Rina.. Puspa. Sudahlah"


"Diam Pak!" Puspa tak kuat menahan air matanya.


"Biarkan aku membela diriku. Bapak saja sudah lemah karena air mata palsunya. Bisakah Bapak membiarkan Puspa membela harga diri Puspa!" Bentak Puspa.

__ADS_1


Para tamu memusatkan perhatian pada ketiga orang ini. Seketika lagu-lagu romantis di ruangan ini mati.


__ADS_2