Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Pernikahan Batal??


__ADS_3

Bi Ina membantu Puspa berpakaian, ia juga menenangkan Puspa yang terus menangis.


"Bi, pernikahan ini harus batal." celetuk Puspa.


"Apa yang kamu bicarakan?!" terkejut.


"Aku sangat tidak pantas menjadi pendampingnya," Puspa menyeka air matanya.


"Ini bukan kesalahanmu."


Puspa mengambil Hp dan menghubungi Bapaknya.


"Assalamu'alaikum, Pak." dengan bergetar Puspa menelfon Bapaknya.


"Wa'alaikum salam. Ada apa, Nak?"


"Pak, Puspa ingin bicara dengan Bapak."


"Ada apa? Apa ada yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"


"Tidak, Puspa tidak menangis. Anu, Bapak tidak sibuk hari ini?"


"Jangan berbohong,"


"Benar... Bapak ada waktu hari ini?"


"Ada. Bapak ambil cuti, Ibumu sedang sakit dan Bapak tidak mau merepotkanmu untuk merawat Adikmu."


"Oke, Puspa akan segera kesana."


"Biar Bapak saja yang kesana,"


"Tidak. Assalamu'alaikum."


"Wa-"


Puspa langsung mengakhiri panggilannya.


"Bi, Puspa pergi dulu."


"Mau kemana? Jangan mengambil keputusan dengan cara seperti ini." Bi Ina menahan tangan Puspa yang mau mengambil tasnya.


"Bi, situasinya akan memburuk jika di biarkan."


"Apa yang kamu fikirkan jika pernikahan ini gagal? Apakah hidupmu akan kembali damai? Tidak."


Puspa merosot ke lantai sambil menarik rambutnya. Air matanya pun tak mu berhenti untuk terus mengalir membasahi wajah Puspa.


"Aku harus bagaimana lagi? Harus bagaimana?"


🍀🍀🍀


16:00


Dan pada akhirnya Puspa nekat ke rumah Bapaknya disaat Bi Ina sibuk memasak di dapur. Puspa duduk berhadapan dengan Bapaknya.


"Nak?" panggil Bapaknya.


"Hah?!" Puspa sedikit terkejut saat di panggil.


"Kamu tidak baik-baik saja. Matamu bengkak." Bapak Puspa beralih duduk di samping Puspa dan menangkup wajah Puterinya.


Puspa menggigit bibir bawahnya, ia menatap dalam manik mata Bapaknya. Air mata kembali menghiasi wajahnya, Bapak Puspa bingung.


"Ada apa?" tanyanya khawatir.


"Maafkan aku..."

__ADS_1


Bapak Puspa mengerutkan dahi.


"Apa yang kamu bicarakan?"


"Maafkan Puspa, Pak. Maaf.." Puspa menarik wajahnya lalu memeluk Bapaknya. Bapak Puspa mengusap punggung dan kepala Puspa.


"Tenanglah... Ada apa, Nak?"


Tangisan Puspa semakin kencang, ia tak sanggup mengatakan kebenarannya.


"Maaf... Maaf... Puspa gagal!"


"Puspa, tenang... Kamu tidak gagal, kamu Anak Bapak yang kuat."


"Tidak... Aku telah gagal..."


"Nak, yang gagal itu Bapak. Bapak gagal menjaga keluarga kita."


"Kamu tidaklah gagal sama sek-"


"Batalkan pernikahan ini, Pak!!"


Bapak Puspa terdiam. Puspa menarik dirinya dan menatap wajah Bapaknya yang terkejut.


"Ha? Bapak salah dengar?" tanya Bapak Puspa.


Puspa menggeleng.


"Pak, tolong batalkan pernikahan ini," Puspa mencium tangan Bapaknya.


"Puspa?" Bapak Puspa memegang bahu Puspa.


"Ini bukan mainan, Nak. Pernikahan adalah hubungan yang sakral."


"Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan, Pak. Hikss. Maafkan Puspa, maaf...."


"Kali ini saja, tolong bantu Puspa," Puspa menundukkan kepalanya.


"Kamu tidak mencintainya lagi? Apa dia menyakitimu? Katakan, Nak. Apa yang membuatmu sampai seperti ini. Bapak akan beri dia pelajaran kalau sampai dia berani menyakitimu!"


"Puspa ditiduri orang lain, Pak." ucap Puspa pelan.


Lagi-lagi Bapak Puspa terkejut, ia mematung. Perlahannya tangannya melepas bahu Puspa.


"Aku sudah ternodai." lanjutnya.


Bapak Puspa terkejut bukan main, ia mengusap kasar wajahnya. Hatinya hancur mengetahui Puterinya melakukan hal tidak senonoh.


"Bisa-bisanya," ucapnya dengan penuh penekanan disetiap kata yang ia ucapkan.


"Pak..."


"Diam! Bisa-bisanya, kau!"


Puspa ketakutan. Wajah Bapak Puspa memerah, ia mengepalkan tangannya.


"Dengan siapa kau melakukan itu?!" Bapak Puspa tidak lagi sanggup menahan amarahnya.


"Aaawwww!" rintih Puspa saat Bapaknya mencengkram lengannya.


"Sakit, Pak..."


"Memalukan!!!" sambil menghempas lengan Puspa.


"Maafkan Puspa, Pak. Puspa lengah.. Maaf..."


"Apa yang harus Bapak katakan pada keluarganya?!"

__ADS_1


Puspa menundukkan kepala, ia tidak berani menatap Bapaknya.


"Pernikahan harus di batalkan karena Puteriku telah tidak suci?!"


"Aaaarrgghhhhhh!!!" Bapak Puspa mau menampar Puspa namun tidak jadi.


Puspa langsung bersujud di kaki Bapaknya sambil menangis.


"Maafkan Puspa, Pak. Maaf."


"Aaaaaghhhhhhh siaaaaaall!!!"


'BRAAAAKK!!' Bapak Puspa memukul meja dengan sangat keras.


Ia mengusap wajahnya beberapa kali dan Puspa terus menangis di kaki Bapaknya sambil memohon maaf.


"Aku sangat malu, sangat." air mata jatuh dari sudut matanya, ia duduk sambil menutup wajahnya dan menangis.


"Maaf, maaf. Maafkan Puspa, Pak." masih di kaki Bapaknya.


"Aaaarghhh!" Bapak Puspa menjambak rambutnya sendiri.


Seisi rumah dihiasi tangian Bapak dan Anaknya, sedangkan Rina yang mendengarnya hal itu malah tersenyum kemenangan.


"Akhirnya, kau hancur juga." gumamnya


***


Satu jam berlalu, dan Puspa masih belum berkutik sedikitpun dari posisinya tadi. Ia terus memohon maaf dan Bapak Puspa masih menangis putus asa. Sampai sebuah ketukan pintu mengejutkan mereka berdua.


'Tok tok tok'


Bapak Puspa menyeka air matanya, ia menarik Puspa dan menyuruhnya duduk.


"Sebentar," Bapak Puspa membuka sedikit pintunya dan tanpa di duga pintu itu langsung terdorong dari luar.


"Arga." lirih Bapak Puspa


Arga menatap Bapak Puspa dengan mata yang merah dan basah. Puspa terkejut saat Bapaknya menyebut nama Arga dan cepat-cepat pergi dari ruang tamu. Arga langsung menerobos masuk dan menarik lengan Puspa yang akan pergi dari sana.


Suasana jadi tegang...


"Beraninya kau," Arga menarik tubuh Puspa agar menghadap padanya.


Puspa langsung berontak dan meminta untuk di lepas.


"Lepaskan aku! Lepas."


"Arga..." Bapak Puspa angkat bicara.


"Nak, Om tau Puspa bersalah. Mengenai ini-"


"Aku tidak megizinkan orang lain untuk menyalahkan kekasihku!" Arga menatap tajam Bapak Puspa.


Bapak Puspa terdiam, ia terkejut akan reaksi Arga.


"Aku salah, aku minta maaf." ucap Puspa sambil menangis.


"Ki-Kita.. Kita akhiri saja hubungan ini. Aku tidak pantas untukmu. Lepaskan aku." Puspa berusaha menarik tubuhnya.


"Kau harus mati jika kau memilih meninggalkanku,"


Mata Puspa membulat, begitupun Bapaknya. Puspa perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Arga. Mata Arga memerah, mereka saling memandang satu sama lain. Bapak Puspa hampir tidak percaya menyaksikan hal ini.


"Kau milikku," ucap Arga lalu menarik Puspa dalam pelukannya. Bi Ina yang muncul hanya berdiri di pintu dan ikut tenang melihat Arga dan Puspa.


"Maaf," Puspa mempererat pelukannya dan menangis dalam pelukan Arga.

__ADS_1


"Aku akan memberi hukuman yang pantas pada laki-laki itu. Breng*sek"


__ADS_2