
Keesokan paginya Puspa dan Arga mendatangi rumah lama Puspa, mereka terkejut melihat Bapak Puspa yang tertidur dilantai.
"Bapak!" panggil Puspa sambil setengah berlari.
Perlahan Bapak Puspa membuka matanya dan mendapati Puspa berada di hadapannya.
"Bapak kenapa disini? Bapak baik-baik saja?" tanya Puspa khawatir.
Bapak Puspa tersenyum tipis, ia lalu memegang tangan Puspa dan mengecupnya dengan lembut.
"Nak..." dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, Pak. Ini Puspa."
Arga membuka pintu rumah, setelah itu ia membantu Bapak Puspa berdiri dan masuk ke dalam rumah.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Puspa lagi.
"Bapak baik-baik saja. Maaf tidak mengabarimu sebelumnya."
Puspa tersenyum, ia lalu menuju dapur dan memanaskan air. Ia hanya melihat ada beberapa bungkus teh dan kopi sachet. Sembari menunggu airnya mendidih, Puspa juga melihat stok bahan makanan.
"Yaaaahh hanya ada beras." gumamnya.
"Kenapa?" tanya Arga yang baru masuk ke dapur.
"Hanya ada beras, aku tidak bisa memasak sarapan untuk Bapak."
"Kita makan di luar saja." saran dari Arga
Puspa nampak berfikir, ia dan Arga baru saja sarapan dan masih kenyang. Jika mereka pergi ke luar untuk mencari makan, pastinya mereka berdua juga harus ikut makan.
"Tapi... Kita baru saja sarapan."
"Apa yang kalian ributkan ini, heh?" Bapak Puspa tiba-tiba ikut muncul di dapur.
"Eeee." Puspa bingung mau menjawab apa.
"Bapak tidak lapar, jadi tidak perlu repot-repot." Bapak Puspa kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Pada akhirnya Bapak Puspa hanya menikmati segelas kopi panas di pagi hari yang cerah ini, sambil di temani anak dan menantunya.
"Pak, sebenarnya ada apa? Kenapa Bapak ada di luar?" Puspa duduk di samping Bapaknya.
"Tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja. Bapak hanya rindu akan rumah ini."
"Serius?" Puspa tidak yakin
"Iya. Oh iya, kalau boleh Bapak akan tinggal disini untuk sementara waktu."
"Lah? Kenapa harus izin?"
"Bapak rasa rumah ini bukanlah rumah Bapak lagi, ini adalah rumahmu. Rumah ini di renovasi oleh menantu Bapak juga."
Arga hanya diam mendengarkan percakapan Bapak dan Anak di depannya.
"Bapak tinggal disini sendirian atau bersama Rina itu?"
"Sendirian."
"Nah! Berarti Bapak sedang tidak baik-baik saja. Bukankah selama ini Bapak sangat lengket dengan wanita itu? Dia ratu di hati Bapak, bukan?"
"Nanti pasti akan Bapak katakan yang sebenarnya. Jadi, apakah Bapak boleh tinggal disini untuk sementara?"
Puspa tersenyum lalu mengangguk.
"Hmmm, entah baik atau bodoh Istriku ini" batin Arga
Puspa membuka pintu kamar orang tuanya yang sudah lama terkunci, Puspa menarik nafas saat melihat isi ruangan tersebut.
"Bapak tidak apa-apa tinggal sendirian?" tanya Puspa
"Tidak masalah, kok."
Mereka bertiga masuk ke kamar itu lalu Arga meletakkan barang yang dibawa oleh Bapak Puspa. Arga melipat lengan kemejanya lalu berdiri di dekat kasur yang digulung. Ingatannya kembali mengingat mimpi buruk yang ia alami di kamar ini.
Arga membulatkan mata.
"Apakah maksud dari mimpi itu adalah merupakan pertanda agar aku menjaga Puspa? Apakah itu benar-benar sosok Ibunya?" batin Arga
__ADS_1
"Ada apa?"
Arga dikejutkan oleh Bapak Puspa.
"Tidak ada apa-apa."
Arga membuka tali yang mengikat kasur tersebut, setelah digelar Puspa langsung membuka jendela agar debunya keluar.
"Terimakasih." ucap Puspa tersenyum lebar.
"Hm." ini adalah jawaban khas dari seorang Arga.
Bapak Puspa menitikkan air mata melihat Arga dan Puspa. Ia seperti bermimpi bisa berada dititik ini bersama anak dan menantunya, bahkan Puspa pun masih mau menerima kehadiran dirinya yang telah merusak kehidupan Puspa.
"Bapak?" Puspa menyentuh pundak Bapaknya.
"Eh!"
"Ada apa?" tanya Bapak Puspa terkejut.
"Harusnya Puspa yang bertanya seperti itu. Bapak kenapa melamun?"
"Tidak ada apa-apa. Semoga kalian langgeng sampai mau memisahkan, ya" sambil mengelus kepala Puspa. Puspa terharu, ia langsung memeluk erat Bapaknya.
"Eheeeeeemmm!"
Puspa langsung melepas pelukannya.
"Kenapa? Iri ya?" sambil tersenyum mengejek.
Arga berjalan melewati Puspa dan Bapaknya, ia berhenti disebelah Puspa lalu mengatakan hal yang 'Wow' bagi Puspa.
"Lihat saja nanti malam." ucapnya pelan di telinga Puspa.
Puspa membeku, ia jadi merinding bercampur malu.
"Apa katanya?" tanya Bapak Puspa yang penasaran.
Dengan cepat Puspa menggeleng, ia lau mengambil sapu lidi kecil dan membersihkan kasurnya. Bapak Puspa jadi ikut penasaran juga melihat sikap Puspa.
__ADS_1