Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Lepas!!


__ADS_3

Puspa membuka matanya karena tak kunjung ada rasa perih semacam tamparan.


"Mama ini kenapa sih"


"Arga, Papa. Kalian itu sama saja. Lebih membela perempuan ini dari pada Mama"


Mama Arga menarik tangannya yang di cengkram Arga. Ia berlari ke kamarnya.


"Maaf." Puspa berjalan menuja kamarnya


🍀🍀🍀


"Aku harus pergi. Hikss.. Sekarang" Puspa mengambil kopernya.. Ia mengeluarkan semua baju di lemarinya.


"Arga.. Papa tenangin Mama dulu ya" Arga mengangguk. Ia memilih menuju kamar Puspa.


Arga terkejut saat Puspa mengeluarkan isi lemarinya.


"Puspa apa yang kau lakukan?"


Puspa kesana kemari mengambil barang-barangnya hingga tidak menggubris Arga.


Air matanya terus berlinang.


Sakit memang ketika kita tidak melakukan apapun tapi malah mendapat tuduhan.


Arga yang merasa terkacangi, menarik tangan Puspa hingga menabrak dada bidang Arga


"Jawab aku" Terpancar amarah dan juga kesedihan di mata Arga


"Aku harus pergi Tuan Muda." Puspa berusaha melepaskan tangannya


"Apa aku memberimu izin?"


"Tuan Muda.. Lepaskan aku. Aku harus pergi"

__ADS_1


"Jadi kau memilih di pecat?" Arga mencoba mengancam Puspa. Karena dulunya Puspa akan menurut jika sudah terlontar kalimat ancaman ini


"Silahkan.. Silahkan Tuan Muda memecat ku. Toh aku memang mau pergi" Arga terhenyak. Ia melepaskan tangan Puspa.


Puspa kembali mengemasi barang-barangnya. Arga hanya menatap miris.


Sakit. Itu yang di rasakan Arga. Tapi ia juga belum mengerti kenapa hatinya sakit.


"Puspa aku tidak mengizinkanmu!"


"Tanpa Izin darimu aku akan pergi!" Puspa malah ikut membentak


Arga terkejut.


"Berani kau menjawabku?"


"Kalian orang kaya memang suka seenaknya pada orang kecil sepertiku. Hiks.. Tuan Muda.. Ku mohon. Jangan membuatku juga membencimu"


"Apa maksudmu?"


'Buuggh'


"Hikss.. Kenapa .. Kenapa Tuan melakukan ini.. Hisk"


"Puspa aku tidak mengizinkanmu pergi!"


"Tapi aku mau pergi!! Aku tidak sanggup harus mendapat hinaan setiap hari! Aku bukan perempuan seperti Rina! " Puspa kembali memunguti pakaiannya dan memasukkannya kembali ke dalam koper.


"Apa maksudmu. Kau selalu bicara pelakor terus.!"


Puspa tidak kunjung menjawab. Hingga akhirnya Arga lagi-lagi menarik tangan Puspa.


Puspa berontak.


"LEPAS!" Puspa berteriak.

__ADS_1


Tanpa di sadari para pembantu mengintip.


"Puspa kau jangan lancang"


"Hikss.. Maafkan aku.. Maaf. Tolong biarkan aku pergi" Puspa merosot hingga Arga melepas cengkaramannya.


Refleks Arga memeluk Puspa.. Tubuhnya bergetar..


"Puspa.. Aku tetap tidak akan mengizinkamu pergi" Puspa mendorong Arga hingga Arga tersungkur.


"Aku sudah memutuskan akan pergi dari sini. Cepat atau lambat hal ini akan terjadi!"


Akhirnya Puspa selesai mengemasi barangnya.


"Aku pamit.. Maaf Tuan.."


Puspa melangkah malas.


"Jika kau pergi maka aku akan menganggap kita tidak saling kenal" Puspa menghentikan langkahnya dan menatap Arga


"Kurasa itu lebih baik Tuan Muda. Jadi Nyonya tidak akan mencemooh aku lagi dan aku tidak akan pernah merasa nyaman dekat denganmu hingga menimbulkan suatu rasa."


Arga terkesiap. Apa yang sebenarnya Puspa katakan.


"Kau yakin?"


"Lebih baik mulai saat ini kita anggap tidak pernah bertemu. Terima kasih untuk segalanya. Aku pamit." Puspa memberikan senyum termanisnya yang rasanya sakit bagi Arga.


"Puspa kamu mau kemana.. Hiks" Bi Ina memeluk Puspa erat.


"Puspa mau pulang. Bi Ina bisa kok lain kali main ke rumah Puspa. Puspa harus pergi. Terima kasih karena Bi Ina telah menganggapku sebagai seorang anak"


"Kenapa kamu tidak cerita apa-apa padaku.."


"Puspa tidak bisa. Puspa pamit ya." Puspa mencium pipi Bi Ina dan tersenyum.

__ADS_1


"Tapi.."


"Assalamualaikum. Sampai jumpa lagi." Puspa tersenyum walau air matanya terus mengalir.


__ADS_2