
"Argaaa" Puspa tidak membalas pelukan Arga
Arga terus memeluk Puspa seakan tidak mau melepasnya lagi
"Kau agak kurusan" ucap Puspa lalu membalas pelukan Arga
"Harusnya aku yang berkata seperti itu" Arga juga merasakan badan Puspa semakin kurus
Papa Arga menggandeng Istrinya setelah tidak terdengar keributan lagi dari kamar Arga, mereka menonton drama pelukan dari lantai 1
"Pa-"
"Sssstttt!" Papa Arga membungkam Istrinya
"Tuh anakmu sudah keluar dari kamar" ledek Papa Arga, Istrinya hanya memalingkan wajah
Arga melepas pelukannya dan menangkup wajah Puspa, dengan perlakuan seperti itu membuat Puspa tersipu
Mereka tidak tau harus memulai obrolan bagaimana.
"Eheeemm" Papa Arga berdehem dan membuat Arga serta Puspa gelagapan
"A-Anu, itu. Itu aku mau bicara" Puspa berbalik memunggungi Arga
Arga meneggakkan badannya dan memasang wajah dingin
"Hm"
"Aku minta maaf atas apa yang ku ucapkan saat itu. Aku tidak benar-benar serius menyuruhmu pergi" Puspa memainkan jarinya
"Ya, aku memaafkanmu"
Krik krik krik
"Kalian berdua turunlah ke bawah" ucap Papa Arga sambil menarik Istrinya juga, jika dibiarkan bisa saja ia menyerang Puspa lagi
"Pa!"
"Menurutlah pada Suami"
"Cih"
Mama Arga sudah kesal akan kedatangan Puspa, ditambah pelukan mereka, membuatnya semakin ingin menyerang Puspa
Arga dan Puspa turun menaiki anak tangga, rasa lemas Arga hilang seketika. Arga meraih tangan Puspa agar berjalan di sampingnya
"Aku malu" Puspa berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arga
Arga memicingkan matanya, ia semakin mempererat genggamannya.
(Menurut kalian apakah ini yang namanya Bucin?)
Wajah Puspa memerah.
"Kau membuatku malu" gumam Puspa, ia menggeleng kepalanya untuk mengusir rasa gugupnya
***
Di ruang keluarga sudah berkumpul Puspa, Arga dan orang tua Arga. Arga duduk berjarak dari Puspa, dan Puspa hanya menundukkan kepalanya.
Ia tidak berani menatap ketiga orang tersebut, terutama Mamanya Arga
"Baiklah, kau telah berhasil mengeluarkan Arga dari kamarnya. Sesuai apa yang ku katakan, aku akan bicara pada Bapakmu" Papa Arga buka suara
Mama Arga melotot
"Maksudnya?!"
"Papa jangan seenaknya, ya! Arga itu juga anakku"
__ADS_1
Puspa meremas ujung pakaiannya. Hubungan mereka ini tidak akan berjalan mulus.
'Drrrtt Drttt' Hp Puspa berdering,
Puspa menolak panggilannya
"Angkat saja kalau penting" ucap Papa Arga dengan wajah datar
Puspa menggeleng.
"Yah, Papa rasa jika Mama masih bersikeras menolak mereka berdua maka Arga akan jauh lebih parah daripada sekarang"
"Tapi Mama tidak suka dengan perempuan ini, Pa!. Sembarangan memeluk Arga!"
"Arga yang memulainya" sela Arga
Mama Arga terkejut
"Arga, kamu membela perempuan itu. Aku ini Mama kamu! Mama tau yang terbaik buatmu"
Arga merangkul Puspa
"Arga menginginkan Puspa, Mama mengingikan aku dengan gadis yang akan Mama jodohkan. Bahkan Mama pun sampai detik ini tidak mempertemukan aku dengan pilihan Mama itu kan?"
"Argaa" lirih, Puspa mengangkat kepalanya dan menatap Arga
"Secepatnya Mama akan mempertemukan kalian, dan Mama jamin pilihan Mama akan lebih cantik, lebuh baik dan lebih sempurna daripada pilihan kamu itu. Gara-gara perempuan sialan ini kamu jadi anak durhaka"
"Cukup, Ma. Jangan sembarangan mengeluarkan kata-kata 'Durhaka' apalagi terhadap anak sendiri hanya karena ia tidak menuruti keinginanmu" Papa Arga sedikit geram
"Papa ikut-ikutan? Aku ini Istrimu!"
"Ya karena itu aku tidak membiarkanmu bertindak seenaknya. Hanya karena masalah ini kamu pun berkali-kali menentang dan berani kepada Suamimu sendiri"
Mama Arga berdiri dan meninggalkan ruang keluarga, Papa Arga hanya mendengus kesal.
"Maafkan aku" Puspa menahan rasa sakit di hatinya
Ia merasa menjadi sumber dari keributan di keluarga ini
Arga tersenyum tipis karena Papanya telah membelanya.
'Brak!' terdengar pintu yang dibanting Mama Arga
"Hmm... Maafkan ketidaksopanannya itu" ucap Papa Arga
Puspa menggeleng
"Saya yang minta maaf, Tuan Besar. Saya lah peyebab dari masalah ini. Sa-Saya tidak akan memaksakan hubungan i-"
"Tidak! Jangan berfikir konyol untuk kesekian kalinya" Arga meremas tangan Puspa, ia sedikit marah karena ucapan Puspa tadi
"Nanti akan ku bujuk kembali" ucap Papa Arga
"Jadi, kita kembali ke topik awal. Jika kalian serius, aku akan bicara pada Bapakmu" dengan nada yang tegas dan tenang
"Arga juga akan bicara dan minta maaf padanya" sambung Arga
"Woohh kemana Arga yang bergengsi tinggi?" batin Papa Arga
"Baiklah. Bagaimana denganmu Puspa?"
Puspa mengangguk
"Saya anu... Mau melanjutkan hubungan ini, Tuan Besar"
"Okee! Ayo kita berangkat" ucap Papa Arga dengan semangat dan tersenyum lebar
Hal itu membuat Arga dan Puspa diam keheranan akan perubahan sikapnya. Menyadari hal itu, Papa Arga kembali tenang
__ADS_1
"Ehem!. Kalian makan saja dulu, aku akan membujuk Mamanya Arga" Papa Arga berdiri dan meninggalkan ruang keluarga
Di dalam hatinya ia kegirangan karena sebentar lagi ia akan punya menantu. Ia tidak bermaksud menghianati sahabatnya atas perjodohan anak mereka, hanya saja yang menginginkan perjodohan itu adalah Istri mereka berdua. Lagipula Papa Arga pun belum menemukan sahabatnya yang hilang seakan-akan ditelan bumi, mau menunggu sampai kapan? Sedangkan usianya pun sudah semakin tua dan Arga pun telah menemukan belahan jiwanya
"Anu, Tuan Besar seperti kegirangan" gumam Puspa
Arga hanya tersenyum
"Eh? Kau bisa senyum seperti ini?" Puspa terkejut. Arga langsung memasang wajah datar lagi
"Aku lapar" Arga menarik Puspa menuju ruang makan
"Aku makan dirumah saja" tolak Puspa
Arga mengabaikannya, ia tetap menarik Puspa agar makan bersamanya
"Seperti mimpi" batin Puspa
Puspa tersenyum, ia lega. Melihat Arga yang terus menggenggam tangannya membuat Puspa tidak sadar memeluk Arga dari belakang
Arga diam mematung saat kedua tangan Puspa melingkar di perutnya, wajah Puspa terasa jelas menempel di punggungnya
Arga tersadar, ia mengelus tangan Puspa. Puspa ikut tersadar dan langsung melepas pelukannya
"Aaaa maaf! Aku tidak sengaja" Puspa malu
Arga terkekeh pelan, ia menarik dagu Puspa. Wajah Arga mendekat dan itu membuat fikiran Puspa kemana-mana
'Cup'
Kecupan lembut mendarat di keningnya
"*Mungkin aku saja yang besar rasa seakan-akan Arga mau mencium bibir-ku"
"Kyaaaaaaa! Kenapa aku jadi mesum!" batin Puspa*
"Kau mulai nakal" ucap Arga yang membuyarkan lamunan Puspa
"Aaarrghh tidaaaakkk, aku tidak sengaja" Puspa memukul pelan lengan Arga
"Mes*um"
"Tidaaakk"
"Mes*um"
"Ku bilang tidaaaaaaakk"
"Mes*um"
"Tidak, tidak dan tidak"
"Mes*um"
"Aaaaarrgh kau menyebalkan" Puspa melipat tangannya di depan dada
Sampai di meja makan pun Arga masih menggoda Puspa dengan mengatai dirinya Mes*um
"Jangan lupa itu kaca jendela dirumahku, tolong diganti" ucap Puspa sambil tersenyum sombong karena membungkam Arga
"Aku menolak"
Puspa melotot
"Ganti, tidak?!"
"Aku menolak"
"Kau memang menyebalkan"
__ADS_1
Bi Ina yang melihat itu turut senang karena mereka sudah akur dan tersenyum kembali