Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
di usir


__ADS_3

Arga berdiri di samping Puspa dan mengikuti arah pandangan Puspa.


"Selanjutnya kita harus apa?" tanya Puspa


"Ehmmm. Aku tidak tau."


Puspa langsung terkekeh.


"Aku lelah, jadi malam ini kita tidur saja" ajak Arga, ia menarik Puspa masuk ke dalam kamar.


"Buka kadonya?"


"Besok."


"Okeee."


Meski mereka gerogi, mereka tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Arga menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, ia langsung berbaring terlebih dahulu. Puspa dengan wajah memerahnya ikut berbaring perlahan. Baru 2 detik, Puspa langsung bangun dan mengambil guling lalu di letakkan di antara mereka berdua. Arga tidak bereaksi dan tetap memejamkan mata.


Mereka tidur dengan dibatasi oleh bantal guling. Karena lelah, mereka berdua tidak butuh waktu lama untuk terlelap. Malam semakin larut, kini bantal guling itu telah berpindah tempat ke bawah.


Puspa yang tidur dengan nyenyaknya memeluk Arga, seketika Arga terkejut. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati Puspa sedang memeluknya.


Arga tidak memindahkan tangan Puspa di dada bidangnya, ia justru menarik tangan Puspa agar lebih erat memeluknya. Arga memiringkan tubuhnya dan memandangi wajah Puspa yang sedang tidur dengan nyenyak. Dengan mulut sedikit terbuka dan dengkuran pelan dari Puspa membuat Arga gemas, ia mengelus wajah Puspa dan mendekatkan wajahnya.


Perlahan-lahan bib*ir Arga mendekat, kurang sedikiiiiiiiitttt lagi bib*ir mereka menyatu, Arga langsung mengurungkannya.


'Cup'


Arga mencium kening Puspa dan memeluk Puspa dan menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua.


Disisi lain di rumah Elisa~~


Elisa sedang berendam untuk menenangkan perasaannya yang sedang kacau.


"Mereka pasti sedang bersenang-senang." gumamnya


5 menit kemudian Elisa selesai berendam, ia berganti pakaian dan duduk di ranjangnya. Elisa mengambil beberapa foto dirinya dengan Puspa lalu mengambil korek. Elisa membakar foto dirinya dengan Puspa, ia mulai merasa benci pada Puspa. Setelah selesai, Elisa langsung meremas rambutnya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?!" Elisa meneteskan air mata.


🍀🍀🍀


"Dengar ya, Mas. Aku tidak akan pernah memaafkan anakmu atas kejadian hari ini." Rina berkacak pinggang.


"Mas, jangan diam saja begini. Kamu punya mulut kan?"

__ADS_1


Bapak Puspa mengernyitkan dahinya.


"Rina, semakin kesini cara bicaramu semakin kurang ajar padaku."


"Kenapa? Tidak suka?" nyolot


"Rina!"


"Apa mas?! Aku begini karena kamu dan anakmu itu! Dia tidak pernah menghormatiku, dan kamu makin kesini makin lembek!"


"Anakmu itu si Puspa, dia sudah mempermalukanku untuk kedua kalinya! Apa yang dia inginkan? Kenapa dia tidak bisa menerimaku sebagai Ibunya?"


"Karena kau tidak pernah bersikap baik padanya, Rin."


"Ooohhhh seperti itu, sekarang kau membelanya ya. Kalau kau terus membelanya, pergi sana! Pergi ke anak si*alanmu itu."


'Plak!'


Rina tercengang sambil memegang pipi kirinya.


"Aku sudah mencoba sabar menghadapimu, tapi kau tidak pernah menghormatiku sebagai suamimu."


Mata Rina memerah.


"Oke! Aku keluar dari rumah ini" Bapak Puspa berjalan ke kamarnya, lalu mengemasi barang-barangnya.


"Ingat, ya. Jangan kembali kesini sebelum kamu menyadari kesalahanmu, Mas."


"Kau sangat tidak berguna."


"Bawa semua pakaianmu itu, aku muak!"


Selesai mengemasi barangnya, Bapak Puspa mau menggendong Anaknya.


"Aku akan membawa anakku."


"Tidak!" Rina mengambil ananya dari gendongan Bapak Puspa.


"Jangan bawa anakku!"


"Itu juga anakku, aku berhak membawanya."


"Tidak! Kau tidak berhak membawanya, aku Ibunya jadi aku lebih berhak. Pergi dari sini!"


"Apa yang kau katakan?"

__ADS_1


"Aku menyesal menikah denganmu, Mas. Kau lemah, bahkan kau tidak bisa membelaku di depan para tamu."


"Kau fikir aku bahagia menikah denganmu? Aku tidak mau anakku di rawat wanita hampir gila sepertimu!"


"MAS!"


Bapak Puspa mencoba mengambil alih anaknya dari gendongan Rina, namun Rina menolak. Beberapa saat mereka saling berebut hingga perkataan Rina membuat Bapak Puspa memilih pergi tidak membawa anaknya.


"Jika anakku ikut denganmu, hantu istrimu akan menghabisi anakku. Istri gilamu itu, Sudah mati pun masih menyusahkan."


Bapak Puspa langsung pergi dari rumah itu dan menuju rumah lamanya.


***


Bapak Puspa berdiri di depan rumahnya, terasa sunyi sepi. Bapak Puspa mencoba membuka pintunya namun ternyata di kunci, dan kuncinya dibawa oleh Puspa.


Bapak Puspa menghela nafas, ia lalu duduk di lantai dan bersandar di tembok sambil memadangi langit malam yang di penuhi bintang malam ini.


Tiba-tiba muncul ingatan kenangan keluarga kecilnya.


"Bapak... Lihat ini, bunga yang Puspa tanam sudah berbunga!" ucap Puspa kecil sambil menunjuk bunga mawar di pot.


"Wowwww hebat sekali. Muaah." sambil mencium kening Puspa.


"Ibu, lihat bunga yang Puspa tanam."


"Waaahhh sudah berbunga ya, Anak Ibu memang keren."


~


"Puspa mau punya adik? Yeeeeeaaay!" sambil memeluk perut Ibunya yang mulai membulat.


~


"Bapak, Ibu, Puspa di terima di SMA DARFA!"


"Selamat ya, nak."


"Hebat, semangat ya sekolahnya."


Air matanya menetes mengingat semua itu, ia menyeka air matanya dan mengambil sarung untuk di gunakan sebagai selimut. Masih dengan air mata yang mengalir, Bapak Puspa memejamkan matanya dan berharap hari lekas pagi. Ia merasakan ada yang bersandar di bahunya, ia langsung membuka mata dan ternyata tidak ada apa-apa.


"Hmmm mungkin hanya perasaanku saja. Besok pagi aku harus menemui Puspa dulu." Bapak Puspa melanjutkan tidurnya.


Tubuhnya yang semula merasakan dinginnya malam perlahan merasakan hangat.

__ADS_1


__ADS_2