
Dengan posisi itu, Arga dapat merasakan detak jantung Puspa. Arga tersenyum tipis, ia semakin menyamankan posisi kepalanya.
Tangan Arga mulai bergerak melingkari perut Puspa, Puspa semakin membatu
"Aku merasa akan segera pingsan" bathin Puspa
"Apa kau masih marah?" tanya Arga dengan suara lirih
"A-Anu..."
"Aku melakukan itu demi kebaikan kita" Arga mempererat pelukannya
Puspa tertegun. Sedikit demi sedikit Puspa memahami apa yang diperintahkan oleh Arga. Puspa mengingat apa yang Elisa katakan di kamar mandi,
"Jadi begitu?" bathin Puspa
Lama di posisi itu, Puspa merasakan pinggulnya agak pegal
"Stop! Lepaskan aku" Puspa menarik dirinya dari Arga, ia berhasil melepaskan diri dalam satu tarikan
"Aku masak dulu. Awas kau begitu lagi" Puspa menuju dapur,
Arga diam-diam memandangi Puspa yang memunggunginya.
"Apa yang kulakukan?!" Arga menggeleng kepalanya.
"Selanjutnya, langkah apa yang harus ku ambil" gumam Arga
🍀🍀🍀
Beberapa bulan kemudian...
Puspa turun dari taxi, ia menyodorkan uang dengan tergesa-gesa. Supir taxi mengambil uang kembalian, dan saat ia berbalik Puspa sudah melangkah menjahui taxi
"Mbaaak! Kembaliannya"
"Ambil saja, Pak"
****
"Astaga! Aku terlambat" Puspa setengah berlari saat memasuki halaman kampus Arga.
Puspa berhenti di depan gedung aula, beberapa Mahasiswa/i keluar dari gedung aula dan melewatinya. Ada juga yang menatap Puspa heran, tentu saja karena Puspa datang disaat acara Wisuda selesai.
"Lah siapa dia?"
"Terlambat, bukan" desas desus Mahasiswi yang melewati Puspa.
Puspa memejamkan matanya, ia menghirup nafas dalam-dalam. Ia melangkah dengan perlahan, jantungnya berdegup kencang.
Puspa menghentikan langkahnya lagi di pintu gedung, ia mendapati Arga dan orang tuanya tengah bersiap untuk keluar ruangan juga
Arga tersadar ada Puspa di pintu, ia tersenyum pada Puspa, lalu senyumnya berubah jadi raut kekesalan karena Puspa terlambat. Puspa kikuk, ia bukan terlambat hanya hitungan menit, tapi ia terlambat hingga acara selesai.
Mama Arga menghela nafas saat melihat Puspa, sedangkan Papa Arga menggenggam tangan Istrinya agar ia tidak macam-macam.
"Pa, Ma, kalian pergilah duluan. Arga masih ada urusan"
"Hmmm, pasti urusanmu si dia kan?" Mama Arga merapikan rambutnya.
"Papa dan Mama pulang dulu" pamit Papa Arga,
Papa dan Mama Arga menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Puspa. Puspa menelan ludahnya, ia langsung menundukkan kepalanya. Terlebih saat melihat Mama Arga, ia lebih takut lagi, mengingat semua perbuatannya padanya.
"Tidak perlu tegang, kau pasti punya urusan yang tidak bisa diundur, kan?" Papa Arga menepuk pelan lengan Puspa.
"Papa!" Mama Arga melotot melihat perlakuan suaminya yang lembut pada Puspa
"Ayo, Ma" Papa Arga menarik istrinya sebelum ia mengomel
__ADS_1
Puspa mengangkat kepalanya, ia melihat punggung orang tua Arga yang menghilang di balik gedung. Puspa tersenyum tipis.
"Kau terlambat" tegur Arga.
"Maaf" ucap Puspa dengan raut wajah sedih
"Hm" Arga berdiri di depan Puspa dengan wajah kesal di sertai senang
Puspa terpesona akan penampilan Arga yang masih menggunakan Jubah dan topi Toga.
"Apa?"
Puspa tersentak, Puspa mengedipkan matanya dengan cepat.
"Itu, aku tadi melihat anu, itu... Itu..." Puspa jadi kebingungan sendiri
"Kau terpesona akan ketampananku?" Arga mendekatkan wajahnya pada Puspa
Puspa langsung mendorong wajah Arga agar sedikit mundur
"Kau terlalu PD, Tuan. Aku hanya kagum pada busana yang kau kenakan saat ini" Puspa berjalan meninggalkan Arga
Arga terkekeh
"Kau tidak pandai berbohong" ucap Arga dengan pelan. Ia menyusul Puspa.
Arga menarik pergelangan Puspa untuk menghentikan langkahnya, ia meminta bantuan pada salah satu teman seangkatannya dan menyerahkan HP miliknya
"Tuan, ini memalukan" Puspa malu saat akan di foto bersama Arga.
"Tidak ada penolakan" Arga menarik Puspa agar lebih dekat dengannya.
"Lebih deket, dong. Masa jaraknya jauh gitu" ucap teman Arga yang siap dengan posisinya
Puspa semakin malu saat tangan Arga merangkul dirinya dari samping
"Arga, itu pacarmu jangan nunduk, angkat kepalanya"
"Oke, siap!"
Puspa tersenyum tipis dan Arga tersenyum lebar.
'Cekrek'
"Lah? Sejak kapan dia bisa senyum lebar begini?" bathin teman Arga
"Lagi, lagi. Kurang bagus yang tadi"
15 menit mereka mengambil foto dan dengan gaya yang sama karena Puspa sangat kaku dan tegang
"Mau pose romantis?" tanya teman Arga
"Boleh"
Puspa menatap tajam Arga yang setuju dengan ide teman Arga yang menurutnya itu ide gila.
"Tuan!" bisik Puspa dengan penuh tekanan
"Tidak ada penolakan"
Puspa menghela nafas kasar
Puspa tetap diam dengan posisinya yang tadi, teman Arga memukul jidatnya pelan
"Arga, Lo yang gerak ganti posisi"
Sesuai instruksi sang kameramen dadakan, Arga dan Puspa saling berhadapan dengan tangan mereka yang memegang buket bunga di tengah keduanya
"Ini memalukan" bathin Puspa
__ADS_1
Ini adalah pose tergaring menurut sang kameramen dadakan, tapi hanya dengan pose inilah Puspa mau di atur.
"Apakah Arga tidak ada inisiatif romantis? Ini sungguh garing" bathin teman Arga
"Oke? Siap?"
Arga dan Puspa bertatapan, Puspa menahan malu dan kakinya terus bergetar sedari tadi
"Satu... Dua..." aba-aba sang kameramen yang siap memfoto
"Tiga" Di saat bersamaan, Puspa malah mendunduk. Teman Arga itu mulai greget pada Puspa yang tiba-tiba menunduk.
"Lagi, lagi. Arga, angkat kepalanya dia hadeehh"
Arga menarik dagu Puspa agar menatapnya,
"Tuan, aku malu" bisik Puspa
"Nikmati saja"
"Oke, awas jangan gerak!. Tanganmu tidak usah melepas dagunya"
"Satu, dua"
Arga langsung memajukan wajahnya dan menempelkan hidungnya dengan hidung Puspa. Mata Puspa membulat, jarak bibir mereka sangaaatt sedikitttttt.
"Tiga!"
'Cekrek'
'Cekrek'
Arga beralih mencium kening Puspa
'Cekrek'
"Nahhhhhh!" teman Arga kegirangan
"Kenapa dari tadi tidak begini, sih" protes teman Arga
Puspa merasakan kakinya tidak mampu menopang tubuhnya lagi, kakinya lemas. Jantung Puspa berdegup kencang, bunga yang ditangannya juga diremas karena tegang.
Puspa tidak bisa berdiri lagi, perlahan tubuhnya tumbang, Arga terkejut. Sang kameramen langsung memfotonya saat Arga menangkap tubuh Puspa yang tumbang.
Teman Arga langsung mendekati mereka
"Pingsan?" tanyanya
"Iya"
"Hadeh, kok bisa pingsan, ya?"
Arga tidak menjawab, teman Arga menyerahkan kembali Hp Arga
"Terima kasih" ucap Arga,
Arga langsung menggendong tubuh Puspa yang sudah lemas
"Ha? Terima kasih? Dia berubah dalam beberapa bulan saja"
***
17:30 Wib
Arga memandangi foto-foto tadi siang bersama Puspa, ia mengirim foto-foto tersebut pada Puspa via WhatsApp.
Puspa yang tengah sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk langsung meraih Hp miliknya saat ada notif
Puspa membuka chat dari Arga dan melihat foto-foto tadi
__ADS_1
Wajah Puspa memerah.
"Ini memalukan. Tanpa status yang jelas" gumam Puspa