Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Padam


__ADS_3

🍀🍀🍀


23:00


'Tik tik tik'


Suara tetesan hujan terdengar dari atap rumah Puspa. Ia berdiri dari ranjang dan melangkah ke arah jendela.


Satu persatu tetesan air hujan berubah jadi ribuan tetesan.


"Seperti hidupku. Awalnya hanya satu masalah, lalu kemudian beranak pinak. Kalau itu uang sih aku akan menerimanya dengan senang hati" Puspa terkekeh.


Puspa memandangi air hujan itu, rasanya ingin ia pergi keluar dan bermain hujan-hujanan. Terlintas ingatan saat ia bertemu dengan Arga dan membawa pria itu ke rumahnya ini.


Senyuman tipis terukir sempurna di bibirnya. Namun tidak lama senyuman itu pudar.


"Tuan.." Lirih Puspa.


Ia menghembuskan nafasnya di kaca jendelanya hingga kacanya berembun.


Ia menggambar sebuah lingkaran, kemudian mata, alis, hidung dan terakhir sebuah senyuman.


Puspa tersenyum memandangi hasil gambarnya itu, namun ia teringat kembali bagaimana Papa Arga menatap dirinya saat di atap sekolah. Ia menghapus gambarnya itu.


Puspa memegang dadanya yang sedikit sakit, Tatapan itu menyiratkan seperti rasa benci atau apa lah Puspa tidak tau, yang ia tau hanya bahwa tatapan itu menyakitkan.


"Mulai besok, aku tidak perlu sekolah lagi, tidak ada hari minggu yang spesial, Haha. Membayangkan saja telah membosankan"


Ia merosot dan duduk di lantai. Memeluk lututnya erat karena saat ini tidak ada yang bisa ia peluk lagi. Sesuatu yang tidak pernah ia inginkan, Sebatang kara.


"Hikss Ibu... Aku sendirian..." Puspa terisak. Ia berusaha tegar, tapi hal ini terjadi terlalu cepat baginya.


"Hikss Bapak saja tidak bisa menemaniku, aku.. Aku tidak tau harus apa"

__ADS_1


Puspa menangis tersedu-sedu.


🍀🍀🍀


Sebuah kilat tanpa petir melintas, Itu mampu menarik perhatian Puspa.


Puspa menelan ludahnya, Ia berdiri dan menatap dari jendela. Hujan yang deras di sertai angin lumayan kencang dan kilat tanpa petir beberapa kali melintas.


Puspa mengusap air mata di wajahnya.


'Krieeett' Puspa sedikit membuka jendelanya. Entah kenapa ia tertarik melakukan itu. Angin dan sedikit cipratan air hujan menerpa dirinya. Puspa tersenyum. Dingin


Kilat yang muncul itu membuat Puspa agak ngeri, ia menutup jendelanya kembali. Puspa meraih gagang jendela untuk menariknya.


'CTTAAAARRRR'


"Aaaaaaaaaaarrrrhhhhhhhhh Tuaaaannnn" Puspa terkejut bukan main,


Bersamaan dengan Puspa yang memanggilnya, Di sisi lain di kamar Arga, Arga terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan dan melihat jam.


***


Jantung Puspa berdetak 2 kali lipat karena shock


***


Masih pukul 23: 10 dan Arga merasa gerah. Ia merenggangkan ototnya dan mengumpulkan nyawa sepenuhnya.


"Sekali kali mandi malam" Arga melangkah menuju kamar mandi.


"Aku merasa.. Ada yang memanggilku. Tapi... Siapa?" Arga menghendikkan bahunya.


***

__ADS_1


Petir itu menyambar satu pohon di pinggir jalan dan Puspa ngeri melihat itu.


Puspa mau berdiri untuk menutup jendela, tapi..


'Dip'


Lampunya mati. Puspa menganga dengan raut wajah yang panik, akhirnya ia tetap duduk di lantai, ia merangkak untuk bersender di tembok dekat jendela. Sedikit penerangan dari jendela itu yang hanya bisa Puspa andalkan agar tidak terlalu takut


***


Arga yang baru meletakkan handuknya di gantungan berdecak kesal karena mati lampu.


"Sialan!. Jangan bilang penyebab padam kali ini itu petir. Pasti lama untuk menyala kembali." Arga keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan-pelan.


Ia mengambil Hp nya di meja samping ranjangngnya dan menyalakan senternya. Lalu ia kembali ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


***


Puspa mengatur nafasnya,


'CTAAAARRRR'


Puspa menutup telinga dan matanya. Ia benar-benar ketakutan. Suara angin yang beradu dengan suara hujan di tambah suasana gelap membuat Puspa takut apalagi ia teringat pada mimpinya pada saat Puspa masih bekerja di rumah Arga. Mimpi tentang hantu Ibu nya.


Puspa menelan ludahnya dan rasa takut berhasil menguasai dirinya. Bagaimana kalau hantu itu benar-benar muncul di hadapannya.


5 menit berlalu...


Puspa memantapkan dirinya untuk berdiri dan lekas menutup jendelanya agar air tidak masuk ke kamarnya. Secepat kilat ia kembali duduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menggigit bibir bawahnya.


"Ibu.. Aku takut...."


"Tuaan.. Aku takut..." Lirih Puspa.

__ADS_1


Ia kembali bersender di tembok. Menenangkan perasaan takutnya.


"Tenang Puspa.. Tidak akan terjadi apa-apa.. Tenang.. Huufftt positif thingking" Puspa berusaha menenangkan dirinya.


__ADS_2