
🍀🍀🍀
Arga memarkir mobilnya
"Cafe? Kenapa tidak langsung pulang?" Tanya Puspa. Namun Arga tidak menghiraukannya dan turun dari mobil terlabih dahulu
"Apa dia sudah bisu?" Gumam Puspa.
"Cepat turun. Atau ku kunci kau" Puspa buru-buru keluar dari mobil.
"Tuan belum menjawab pertanyaanku" Ucap Puspa.
"Kau kira kita ke cafe mau mengemis?" Tanya balik Arga. Arga melangkahkan kakinya ke dalam cafe di ikuti Puspa
"Sabarr.." Lirih Puspa.
Puspa menatap takjub ruangan cafe. Mewah, dan juga menenangkan.
"Jangan norak" Puspa tersadar dari lamunannya.
"Ih bisanya sewot" Gerutu Puspa.
Arga memilih tempat duduk yang pas dan datanglah pelayan.
"Aku mau es dong" Ucap Puspa dengan nada manja
"Jangan salahkan aku jika nanti es itu ku siram ke wajahmu" Arga menunjuk 1 coffe, 1 susu dan beberapa makanan berat
Puspa tidak suka Arga melarang ini itu,
"Kenapa sih?"
"Kenapa apanya?"Arga menautkan alisnya
"Kenapa melarangku banyak hal?!" Puspa mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Itu untuk kebaikanmu. Tidak usah banyak bicara." Arga memainkan Hp-nya
"Kebaikan apa? Kau melarang hal-hal yang aku suka"
"Bodoh. Hal-hal yang kau suka itu malah akan membawa penyakit. Gunakan logikamu" Arga memutar matanya.
"Tapi aku tidak suka di kekang seperti ini.." Puspa menundukkan kepalanya.
"Hal ini bukan kekangan. Ini bentuk perhatian. Jangan bodoh tidak bisa membedakan mana perhatian dan mana kekangan"
"Perhatian? Tuan? Tuan baik-baik saja kan?" Puspa menatap Arga tanpa mengedipkan matanya
"Lupakan. Jika mau pesan makanan lainnya, silahkan. Aku yang bayar"
"Tentu saja.. Kan Tuan yang membuatku kehausan dan kelaparan" Ucap Puspa enteng
"Kau bukan seperti Puspa yang ku kenal dulu. Manja" Arga memicingkan matanya
Puspa malah menjulurkan lidahnya.
🍀🍀🍀
"Kuharap ini bukan kesalahan" Gumam Puspa.
Puspa membuka pintu,
Tanpa di persilahkan, Arga langsung duduk di kursi dan menyalakan TV
Puspa melotot.
"Etikamu buruk" Umpat Puspa.
Arga hanya menghendikkan bahunya, tidak peduli.
"Minum kopi, teh, atau apa?" Tanya Puspa.
__ADS_1
"Air putih saja. Sekalian siapkan makanan. Aku lapar" Ucap Arga sambil mengubah chanel Tv
"Aku menawarimu minuman bukan makanan" Ucap Puspa lirih.
"Aku bisa mendengarmu." Ucap Arga ketus
"Eh itu.. Anu... Aku ke dapur dulu"
"Hmmm"
Puspa memasak sambil terus mengumpat Arga.
"Perut apa yang dia punya? Sudah makan di cafe, eh masih minta makan"
"Seenaknya menyuruhku ini itu"
"Padahal aku bukan pelayannya lagi"
"Lalu kenapa naluri babuku masih terlestarikan"
"Aku tidak sanggup jika terus menjadi babunya. Hikss.. Menyebalkan" Puspa meletakkan wajan ke atas kompor agak keras
"Jangan meledakkan rumahmu" Teriak Arga dari kejauhan
"Iyaaaaa" Puspa ingin sekali memukul Arga menggunakan wajan sekalian dengan minyak panas
"Terus saja menyuruh ini, menyuruh itu, Ambilkan ini, ambilkan itu, tidak boleh ini, itu. Aku benar-benar akan menjadi babu sejati" Puspa memasukkan telur yang sudah ia kocok tadi
"Aku seperti masih benar-benar menjadi babunya. Kenapa dia tidak melepaskanku. Apa yang dia mau. Hiisshh" Puspa membalik telur dengan kasar
"Kau tau Tuan, kau itu tampan, kaya, tapi sayangnya kau suka menyiksaku. Kenapa manusia sepertimu di ciptakan? apa kau di ciptakan untuk membuatku darah tinggi setiap hari atau membuatku mati muda?"
"Rasanya aku ingin menggorengmu. "
Puspa terus saja mengomel. Apalagi saat ini ia sedang halangan, itu membuat mood nya semakin kacau.
__ADS_1