Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Anak Siapa tuh?


__ADS_3

🍀🍀🍀


Andre menghapus beberapa foto Yuli yang ada di geleri Hp miliknya. Ia memantapkan keputusannya untuk bisa melepas Yuli perlahan dan berhenti berharap Yuli akan kembali


"Jika itu membuatmu bahagia, akan ku kabulkan" gumamnya sambil menghapus foto Yuli dengan dirinya tahun lalu


Meski mulutnya berkata demikian, tetapi hatinya terus merasa cemas pada Yuli yang seorang diri di luar sana tanpa kabar. Tapi jika ia terus seperti ini maka karirnya akan hancur


***


"Oeeeekkk Oeeekk"


Puspa di kejutkan suara Adiknya yang menangis, Puspa membuka mata dan menguceknya, sambil menahan kantuk ia menepuk pelan Adiknya tetapi Adiknya terus menangis


Puspa bangun dan merenggangkan otot-ototnya, ia duduk dan mengumpulkan kesadarannya dan menarik nafas perlahan. Setelah itu Puspa mengikat rambutnya dan terasadar posisi tidurnya yang berubah


"Eh? Apa tadi ada orang?"


Puspa mengabaikan hal tersebut lalu menggendong Adiknya


"Cup cup.. Kenapa nih pagi-pagi nangis?.. Sudah bangun ya?"


Saat akan mengambil botol susu ternyata kosong, Puspa menghela nafas dan segera membuat yang baru. Ia mengulangi kegiatannya seperti semalam, menyusui Adiknya dengan sufor sambil menggendongnya.


Sekilas Puspa ingat dulu Joni di pagi seperti ini dibawa berjemur di luar ruangan. Puspa pun keluar rumah, saat di pintu rumah ia terkejut pintunya tidak terkunci


"Ha? Tidak di kunci? Huufft aku lupa menguncinya" Puspa pun berjalan ke halaman rumah dan berjemur di cahaya matahari pagi ini


"Eemmm ini jam berapa ya? Aku lupa harus jam berapa berjemurnya"


Adik Puspa menyedot dengan kencang dan cepat


"Pelan-pelan, nanti tersedak, loh" sambil tersenyum


"Eh Puspa!" sapa tetangganya


"Pagi, Bu. Mari mampir"


"Ya ampun baru bangun ya kamu? Itu muka kamu masih lusuh begitu"


Puspa tersenyum kaku


"Ehehe iya nih, Bu. Baru bangun"


"Hmmm tidak baik gadis seusiamu tidur berlebihan" sambil menenteng kantong plastik berisi belanjaan di kang sayur

__ADS_1


"Terima kasih sarannya" sambil tersenyum


"Eh iya, itu anak siapa tuh? Anak dari laki-laki yang sering ke rumahmu itu, ya? Hadeeehh anak jaman sekarang!"


"Eee anu, ini Adik saya, Bu"


"Eh?! Adik? Oooooo iya iya, Adik kamu dari Ibu tirimu itu ya. Tumben sekali kau mengurus Adikmu, apa Bapakmu sudah bertingkah lagi dan meninggalkan Anaknya padamu?"


Puspa merasa hatinya tertusuk pisau mendengar perkataan tetangganya itu


"Tidak usah pasang wajah sedih begitu. Musibah yang menimpa keluarga kalian itu pasti akibat kesalahan keluargamu sendiri di masa lalu. Kamu sebagai anaknya jangan tambah merusak nama baik keluargamu, ngajak laki-laki serumah terus. Bersyukur banget Bapakmu itu tidak menetap disini"


"Eee maaf, Bu. Apa itu belanjaannya tidak buru-buru di masak?"


"Heh anak jaman sekarang ya, di kasih nasehat malah sok begitu. Denger ya, jangan tertipu sama laki-laki yang bermobil kalau ujung-ujungnya sebelas dua belas sama Bapakmu itu, hmm!"


"Maaf, Bu. Anda ada masalah apa sama keluarga saya?" mata Puspa sudah berkaca-kaca namun ia tetap berusa terlihat biasa saja


"Ya ada lah, kalau kamu sering berduaan terus sama itu laki-lakimu, yang ada dosa Zina mulu. Nanti yang kena azab ya pasti kita semua, bukan cuma kamu saja"


"Lah kenapa ini?" datang Ibu-ibu lainnya


"Itu loh si Puspa, di nasehatin malah gak ada sopan-sopannya, tadi pagi saya pas lagi jemur pakaian saya lihat itu laki-laki yang sering kesini malam-malam itu, dia keluar dari rumah Puspa tadi pagi"


"Nah kan?! Gimana kalau sampai ada kasus hamdul coba? yang kena azab mah kita semua"


Ibu-ibu yang baru datang itu mengangguk


"Aduh Puspa, mending kamu dengerin apa kata Bu Nina, deh. Bahaya tau"


Puspa mengangguk perlahan


"Eh yaudah yuk pulang, kita jadi kan masak bareng"


"Eh iya sampek lupa"


"Puspa, kami duluan ya"


Puspa mengangguk perlahan dan menahan air matanya


Adik Puspa berhenti menyedot dan memandangi Puspa


"Kenapa? Silau, ya?" dengan suara gemetar ia tetap tersenyum pada Adiknya


"Minum lagi, ya" Puspa menyodorkan dotnya ke mulut Adiknya tapi Adiknya menggeliat menolak

__ADS_1


"Jangan rewel yaa.." Puspa tetap tersenyum walau air matanya sudah ada di ekor matanya


Puspa menyodorkan dotnya lagi tapi Adiknya masih menolak. Puspa menyeka air matanya dan mencium pipi Adiknya


"Sudah kenyang, ya?"


Tidak lama kemudian Adik Puspa tiba-tiba menangis, Puspa yang tadinya sedih jadi bingung kenapa Adiknya tiba-tiba menangis


"Cup cup cup, kenapa Dek? Lapar ya?" Puspa menyodorkan dot nya lagi dan hasilnya pun tetap sama


Adiknya terus menggeliat dan Puspa takut leher Adiknya patah, ia pun bergegas masuk ke dalam rumah. Puspa menidurkan Adiknya di ranjang


Perlahan Puspa tidak sedih lagi, ia berusaha menenangkan Adiknya. Ketika Puspa tidak lagi sedih, Adiknya pun perlahan berhenti menangis dan mulai tertawa dengan posisi merentangkan tangannya ke atas yang seakan ingin mencapai wajah Puspa


Puspa lega Adiknya tidak menangis lagi, Puspa menggenggam tangan mungil itu dan mengusapnya perlahan sambil terus menghiburnya dengan menciumi wajahnya


"Aaww nakal yaa" Puspa meringis saat rambutnya di tarik Adiknya


"Nanti Kakak kembalikan ke Bapak loh kalau kamu nakal" sambil tersenyum dan berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Adiknya


Setelah rambutnya berhasil lepas dari Adiknya, Puspa mencoba menyodorkan lagi dotnya dan Adiknya tidak menolak, Puspa tertawa pelan saat Adiknya menyedot dotnya seperti sebelumnya


Puspa menepuk pelan tubuh Adiknya sambil memegangi botol susunya, tidak lama kemudian Adiknya mulai terlelap lagi. Setelah di pastikan Adiknya benar-benar terlelap, Puspa meletakkan bantal di samping Adiknya dan pergi ke kamar mandi


Puspa teringat kembali akan perkataan tetangganya tadi, apa yang ia katakan tidak sepenuhnya salah. Puspa mulai khawatir.


Puspa masuk kembali ke kamar dan baru menyadari ada uang di atas meja samping ranjang


"Eh? Uang? Apa Arga benar-benar kemari tadi?" gumamnya sambil mengambil uang tersebut


Puspa mengambil Hp nya dan ternyata baterainya drop


"Hmm.. Ya sudah ku tanyakan nanti saja"


Puspa berkacak pinggang sambil memperhatikan Adiknya


"Baiklah, sekarang bagaimana caranya aku memasak dan bisa sambil terus mengawasi Adikku"


"Kalau ku bawa ke dapur nanti dia diletakkan dimana?"


"Kalau ku tinggal bagaimana?"


"Mengurus Adikku sehari saja aku sudah kerepotan, bagaimana nantinya aku mengurus anakku?" batin Puspa


"Aaaarhh" Puspa duduk di ranjang sambil memikirkan bagaimana caranya ia bisa masak untuk sarapan sekaligus mengawasi Adiknya

__ADS_1


__ADS_2