
Arga terbelalak, ia terkejut akan perbuatannya itu. Ia langsung agak mundur
"Ehm" Arga berdehem dan menenangkan dirinya
Sementara Puspa masih terdiam,
"Oke, deal kau kuliah dan kau akan tetap dalam pengawasanku"
"Hmm?" Puspa tersadar
"Aku akan kembali. Istirahatlah"
"Tuan? Mau kemana?"
"Bukan urusanmu" Arga keluar dari ruang rawat Puspa
"Haiiihhh dalam pengawasannya? Aku kehilangan kebebasanku" gumam Puspa.
Arga yang baru keluar dari ruang rawat Puspa langsung menghela nafas lega.
"Ceroboh" bathin Arga
🍀🍀🍀
Elisa tengah menikmati minuman di cafe yang berada di sebuah Mall
"Hhhaahhh... Dia semakin tampan. Terakhir aku melihatnya saat di sekolah" Elisa memangku wajahnya
"Puspa beruntung sekali" imbuhnya
Elisa mengingat saat pertama kali ia melihat Arga yang datang ke sekolah mereka dulu, dan sekarang Elisa bertemu kembali.
"Tapi?! Kenapa masih bersama Puspa? Bukannya Puspa sudah tidak bekerja disana?"
"Apa mereka memiliki hubungan spesial?"
Elisa penasaran akan kedekatan Arga dan Puspa
"Hadeh, kalau mereka benar-benar memiliki hubungan yang spesial, berarti tidak ada kesempatan untukku"
Elisa memanyunkan bibirnya
"Aiihhh Elisa! Kenapa kau berfikiran seperti itu" Elisa menggeleng-geleng kepalanya
"Ya!. Aku hanya sebatas kagum pada ketampanannya. Tidak boleh lebih" Elisa meyakinkan dirinya
"Tapiii..." Elisa menggantung kalimatnya
"Tapi sepertinya aku punya rasa pada si tampan itu"
"Aku jadi bingung sendiri"
🍀🍀🍀
3 hari berlalu
Jam menunjukkan pukul 12:30
__ADS_1
"Akhirrrnyyyaaa" Puspa merenggangkan otot-ototnya, ia juga langsung merapikan ranjangnya
"Oh, kau sangat bersemangat sekali, ya?" Dokter Andre tiba-tiba masuk
Puspa tersenyum
"Iya, Dokter. Hari ini akhirnya aku sudah bisa keluar dari sini"
Dokter Andre tersenyum tipis
"Yaahh baiklah. Aku sudah membuat resep obat untukmu"
"Bukannya aku sudah boleh pulang? Berarti aku sudah sembuh total" Puspa terheran-heran
"Hahaha, itu menurutmu. Sudah, jangan banyak komplain. Aku sudah membawa obatnya untukmu" Dokter Andre mengeluarkan kantong plastik hitam kecil dari kantong jas nya
"Berapa, Dokter? Nanti uangnya aku ganti" Puspa menerima obatnya, ia melihat-lihat kantong plastik itu
"Tidak perlu kau fikirkan harganya. Aku memberikan secara gratis untukmu. Buka saja nanti ketika sampai di rumahmu"
"Aku jadi sungkan" ucap Puspa pelan
"Hahah jangan sungkan begitu. Anggap saja tanda pertemanan kita" Dokter Andre berjalan mendekati Puspa, Puspa ikut mundur saat Dokter Andre mendekatinya
"Teman?" tanya Puspa untuk meyakinkan apa yang ia dengar
"Iya, 'Teman' "
"Tapi, Dokter"
"Tidak usah memandang kasta di antara kita. Atau mungkin kau bangsawan, yahhh hal itu bisa jadi untuk bahan pertimbangan untukmu. Aku hanyalah Dokter"
Dokter Andre berdiri pas di hadapan Puspa
"Aku hanya ingin menjadi temanmu. Keputusan ada di tanganmu" ucap Dokter Andre
Puspa bingung, ia merasa tidak pantas berteman dengan orang baru yang jelas-jelas ia Dokter Muda yang hebat
Mereka terdiam.
"Brak" suara pintu yang menghantam tembok.
Dokter Andre dan Puspa menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Yuli tidak sengaja mendorong pintu ruang rawat Puspa. Dokter Andre mundur beberapa langkah
"Ah anu, itu tadi aku tidak sengaja" Yuli gugup
"Tidak apa-apa, Yuli. Kurasa aku tadi tidak menutupnya dengan benar"
"Astaga Yuliiiiii" bathin Dokter Andre
"Sekali lagi maaf menganggu. Permisi" Yuli sedikit membungkuk, lalu ia menutup pintunya kembali
Yuli menggigit bibir bawahnya, ia menoleh ke ruang rawat Puspa sekejap sebelum ia melangkah keluar dari gedung Rumah Sakit
"Puspa, aku ada urusan sebentar. Sampai jumpa, hati-hati ya" Dokter Andre langsung keluar dari ruang rawat Puspa
Puspa hanya mengangguk
__ADS_1
"Siapa perempuan tadi? Jangan-jangan kekasihnya Dokter itu? Haduuuuhhh. Dia pasti salah faham melihat jarak antara aku dan Dokter itu cukup dekat"
Puspa meletakkan kantong plastik pemberian Dokter Andre. Ia berniat untuk mengejar Yuli dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Bugh"
"Aawhh" rintih Puspa saat dirinya akan membuka pintu dan ternyata pintunya juga dibuka dari arah luar yang menyebabkan Puspa harus merasakan datarnya pintu itu
"Siapa sih yang buka pintu dari luar" Puspa membuka matanya
"Matamu bermasalah" Arga masuk dan menutup pintu
"Tuan, kau! Harusnya ketuk dulu pintunya" Puspa tidak terima
"Aku yang membayar biaya perawatanmu" Arga duduk di ranjang
"Aku tidak memintamu untuk menanggungnya"
"Hm" Arga memandangi ruangan ini dan melihat Puspa sudah mengenakan pakaian yang telah diberikan Arga semalam
"Kau tidak mengabariku kalau kau sudah siap pulang" Arga menaikkan satu alisnya
"Apa kau berencana kabur dariku?"
Puspa yang mendapat tuduhan itu hanya bisa diam
"Kuharap bodohnya tidak kambuh" bathin Puspa
"Kau diam, berarti kau memang ingin kabur. Ingat, kesepakatan kita"
"Itu kesepakatan sepihak, Tuan. Kau seenak jidat memutuskan sesuatu. Lagipula kau menuduhku ingin kabur hanya karena aku tidak mengabarimu? Padahal kau tahu kalau aku sama sekali tidak memegang Hp ku"
'*Deg' Arga baru ingat akan hal it*u
"Hm, Hp mu di rumahku. Ambil sendiri"
"Kau benar-benar membuatku ingin menendangmu" bathin Puspa
"Sudah siang, ku antar kau pulang. Aku harus kembali ke kantor Papa" Arga berdiri dan berjalan mendahului Puspa
"Kantor Tuan Besar? Kau sudah mulai bekerja disana? Wahhh.. Bagian apa? Ada lowongan tidak untukku? Eh tapi aku masih terikat dengan pekerjaanku di warung makan. Tuan, bisakah kau ambilkan Hp ku? Aku tidak siap bertemu Nyonya Besar"
Arga hanya diam saja, ia tidak menjawab Puspa. Mereka keluar dari gedung Rumah sakit dan masuk ke dalam mobil Arga
"Tuan? Kuharap kau tidak bisa sampai-sampai tidak menjawabku. Aku butuh Hp"
"Kuharap mulutmu tidak lepas karena banyak bicara" Arga memasang sabuk pengaman
Puspa nengerucutkan bibirnya
"Dia benar-benar menyebalkan. Ini seperti mimpi buruk ketika aku kuliah tapi masih terikat dengannya" bathin Puspa
Arga melirik Puspa sekilas, ia langsung memasangkan sabuk pengaman Puspa.
Puspa terkejut, ia hanya diam saat tubuh Arga sangat dekat dengannya. Jantung Puspa berdetak 2 kali lipat. Wajahnya mulai memanas saat wajah Arga sangat dekat dengan dadanya
"Bodoh" umpat Arga pada Puspa. Puspa tersadar.
__ADS_1
"Sabar Puspa, sabar" gumam Puspa