
Sesampainya di rumah Elisa langsung menuju kamar mandi dan menyirami dirinya dengan air shower dengan kondisi masih berpakaian.
"Kenapa kami harus menyukai orang yang sama." Elisa menggigit bibir bawahnya.
***
Hari mulai sore, beberapa tamu sudah pulang. Arga menuntun Puspa untuk berganti gaun. Baru selangkah kakinya turun dari pelaminan, semua orang di kejutkan dengan kedatangan tamu tidak di undang.
"Oh!"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Ibu Ilham datang dengan rambut acak-acakan. Papa Arga kebingungan, Mama Arga bertanya-tanya.
"Pa? Kenalanmu?" tanya Mama Arga, Papa Arga menggeleng.
Puspa terlihat sedikit panik. Ibu Ilham berjalan dengan cepat menuju arah Arga dan Puspa. Dengan cepat Satpam datang lalu menahan Ibu Ilham.
"Lepas! Lepaskan aku!" Ibu Ilham berontak.
"Kalian ini bagaimana? Kok di biarkan masuk?" Papa Arga agak sedikit kesal.
"Maaf Tuan Besar,"
"Kau..." Bapak Puspa ingat pada Ibu Ilham.
"Oh, kau masih ingat padaku rupanya."
"Dion?" Papa Arga meminta kejelasan.
"Ini tetangga kami dulu,"
"Heh! Dengar, ya. Anakmu itu sangatlah buruk. Dia membuat Puteraku pergi untuk selama-lamanya! Huwaaaaaaa!" Ibu Ilham menangis lalu duduk di lantai.
"Apa yang kau katakan?" Bapak Puspa tidak mengerti.
"Gara-gara Puspa, Ilham meninggal. Dia menyusul Bapaknya! Dia mengingkari ucapannya sendiri! Gara-gara Puspa kini aku harus hidup sendiri!"
"Dion, apa yang dia katakan?" Papa Arga semakin bingung.
Rahang Arga mengeras, Puspa menahan lengan Arga supaya ia tidak pergi ke hadapan Ibu Ilham.
"Anakku sekarang sedang bersedih disana, tapi Puspa sedang bahagia disini. Apa salah Anakku hingga harus mengalami hal ini?"
Semua tamu mulai berbisik-bisik mengenai hal ini.
"Bawa dia keluar!" perintah Papa Arga.
"Baik, Tuan Besar," Satpam mengangkat tubuh Ibu Ilham dan menariknya keluar.
"Dengar kalian berdua! Kalian akan menyesal! Kalian akan menderita juga! Salah satu di antara kalian akan mati dengan cepat!"
Mendengar ucapan Ibu Ilham membuat Mama Arga marah, ia berjalan dengan cepat.
"Berhenti!"
__ADS_1
Satpam langsung menghentikan langkahnya.
'Plak'
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Ibu Ilham.
"Dengar, ya. Keluarga kami tidak ada hubungannya dengan kisah malangmu itu. Jaga ucapanmu itu, tidak tau malu."
"Hhhh" Ibu Ilham tersenyum mengejek.
"Kenapa kau sangat marah, hah?" dengan nada bicara yang mulai oleng.
"Aku hanya sedikit mengutuk mereka berdua. Oh! Apa kau Ibunya? Cih, orang kaya memang suka seenaknya sendiri."
"Anakmu mati karena dia bodoh, dia tidak bisa menghargai nyawanya sendiri. Itu bukan salah anak-anakku. Tidak semua kutukan akan menjadi kenyataan," Mama Arga menatap sinis Ibu Ilham.
"Bawa dia pergi."
"Baik, Nyonya Besar."
Mama Arga langsung masuk kembali dan berjalan ke arah Arga dan Puspa.
"Kalian tidak usah panik, kalian akan baik-baik saja," ucap Mama Arga sambil menyentuh wajah keduanya.
"Iya, Ma." Puspa tersenyum
"Bagaimana Ibunya Ilham tau rumah Arga?" batin Puspa.
"Eee baik, hadirin sekalian, Pengantin akan berganti pakaian yang selanjutnya, nanti akan ada sesi foto-foto lagi, ya. Bagi yang baru datang, silahkan di nikmati makanan yang telah Tuan Rumah sediakan," Mc Memecah suasana yang mulai full bisik-bisik.
🍀🍀🍀
"Kamu akan baik-baik saja," ucap Bi Ina sambil menggandeng Puspa untuk kembali ke pelaminan.
Puspa mengangguk dan tersenyum.
"Waaaaaahh gaunnya cantik sekali. Aku mau foto lagi," ucap Yuli pada Andre.
"Siap!" Andre berdiri dan mengulurkan tangan pada Yuli, Yuli tersenyum lalu menerima uluran tangan Andre.
Yuli dan Andre kembali berfoto dengan Pengantin, Arga masih saja belum bisa menghilangkan rasa cemburunya.
"Pak," panggil Puspa.
Bapak Puspa dan Rina berjalan menuju Puspa.
"Ayo berfoto bersama," ajak Puspa.
Bapak Puspa mengangguk. Saat Rinaa menginjakkan kaki di pelaminan, Puspa menghentikannya.
"Maaf, kami mau foto keluarga."
"Puspa.." tegur Bapaknya.
__ADS_1
"Hanya kali ini saja. Puspa mohon," pinta Puspa dengan wajah memelas
"Baiklah... Nanti Ibumu di ikutkan ya."
Puspa mengangguk. Rina langsung kesal.
Bapak Puspa berdiri di tengah antara Puspa dan Arga. Setelah Itu Papa dan Mama Arga bergabung.
"Bi, sini." Puspa menunjuk di sampingnya.
Bi Ina menggeleng. Mama Arga menghela nafas lalu menarik Bi Ina agar ikut berfoto bersama.
Papa dan Mama Arga berdiri di sisi samping Arga, Bi Ina dan Bapak Puspa berdiri di samping Puspa. Rina menganga melihat pemandangan di hadapannya. Ia ingin mengamuk namun terlalu banyak tamu penting yang hadir saat ini, jadi dia hanya diam saja. Setelah itu seluruh Art di rumah Arga ikut berfoto bersama, kecuali Rina ya. Rina masih setia jadi penonton.
"Dengar-dengar itu Mama tirinya pengantin wanita."
"Kata siapa?"
"Kata Jeng Ani yang baru bergabung di komunitas kita, katanya dia dulu di hajar habis-habisan oleh pengantin wanita."
"Oh jadi itu orangnya."
"Iya, wkwkwk lihatlah dia bahkan di acuhkan."
"Dia sih pantas menerimanya."
"Hihihii."
Rina yang mendengar tamu yang sedang bergosip itu semakin emosi.
"Aku kapan?!!"
Semua orang terkejut mendengar suara keras Rina.
"Kenapa aku tidak ikut di foto? Apa karena aku hanya Ibu Tirinya?" Rina meneteskan air mata.
"Nanti, ya. Ini tempatnya tidak muat untukmu, I-B-U T-I-R-I." Puspa memicingkan matanya.
Arga menggenggam tangan Puspa untuk menenangkannya.
"Haa? Tega sekali dirimu. Aku sudah berusaha menjadi Ibu sambung yang baik, namun yang kudapatkan adalah hal ini," Rina menyeka air matanya.
Puspa mengambil tisu di kursinya dan mengelap air mata Rina yang membuat Make-Up nya berantakan.
"Kau tidak pandai berakting," ucap Puspa pelan lalu menyerahkan tisu itu pada Rina.
Rina tercengang melihat Make-Up nya yang ada di tisunya, Rina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan pergi ke kamar tamu untuk mengambil Anaknya. Bapak Puspa mau mengejarnya namun di tahan Papa Arga untuk mengambil foto sekali lagi, akhirnya Bapak Puspa menuruti Papa Arga.
Para tamu ada yang tertawa pelan melihat Rina yang tidak bisa berbuat apa-apa selain kabur. Yuli bahkan ikut terkekeh namun langsung di sentil Andre
"Eh maaf," Yuli langsung terdiam namun masih ingin tertawa.
🍀🍀🍀
__ADS_1
"Akhirnyaaaa," Puspa merenggangkan otot-ototnya, lalu berjalan ke balkon kamar.
Arga yang baru keluar dari kamar mandi mencari-cari Puspa dan mendapati Istrinya itu sedang menikmati angin malam.