
"Ck"
Puspa berdecak kesal. Ia mulai jengkel.
"Aku tidak bicara seperti itu. Aku masih ada uang pegangan. Hufftt oke aku minta maaf.. Ilham.. Mengertilah." Puspa memelas.
"Kau tau, Ku fikir selama bertahun-tahun kita tidak bertemu, sifatmu akan masih sama seperti saat kamu kecil. Ternyata tidak. Banyak perubahan pada dirimu yang tidak ku sadari."
Puspa terkesiap
"Ilham..." Lirih Puspa
"Ya. Aku salah. Aku terlalu terburu-buru mendekatimu tanpa mengetahui sifat-sifatmu."
"Emm?"
"Puspa tidak mengertikah kamu bahwa aku serius padamu. Perasaanku ketika aku masih kecil juga tidak main-main." Ilham mencengkram bahu Puspa.
"Ilham aku juga begitu... Tapi.."
Ilham melepas cengkramannya.
"Maaf maaf... Maafkan aku. Sakit ya?" Ilham mengelus bahu Puspa.
Puspa mundur 1 langkah
"Tapi apa?" Ilham penasaran
"Tapi... Aku.."
"Puspa.. Katakan... Katakan kalau kau juga mencintaiku. Kita saling memanggil ~Cinta~ bukan." Ilham berharap
Puspa menggigit bibir nya. Ragu mengatakan apa yang ia rasakan. Rasa rindu pada Ilham tapi juga ada rasa ragu.
"Jangan menggigiti bibirmu seperti itu. Itu akan merusak bibir indahmu" Puspa menautkan alisnya.
"Jika butuh gigitan aku akan memberikannya dengan senang hati" Puspa tersentak.
"Il-ilham.. Jangan menakutiku" Puspa gemetar. Tangan Ilham menyentuh pipi Puspa lagi. Puspa memejamkan matanya. Takut.
Entah bodoh atau bagaimana. Sama sekali tidak ada inisiatif untuk lari.
Ilham memejamkan matanya saat melihat Puspa memejamkan mata. Mengabaikan para pengunjung yang mungkin akan melihat adegan dewasa ini. Ilham tidak tahan melihat bibir indah Puspa.
Tubuh Puspa semakin bergetar. Ia tidak berani membuka mata.
Ilham memajukan wajahnya lebih tepat fokus pada bibir Puspa dengan mata terpejam.
1
2
__ADS_1
3
'Cup'
Ilham merasa ada yang aneh. Sejak kapan bibir bentuknya datar bahkan ada sedikit bulu-bulu halus.
Puspa memberanikan diri untuk membuka matanya. Ia terkejut saat melihat ada apa di depannya wajahnya.
Ilham membuka matanya karena ia merasa ada yang janggal. Ilham terkejut. Ternyata dia mencium lengan Arga yang matanya sudah memerah. Pantas saja rasanya tidak seperti bibir.
"Tuan Muda.." Puspa menurunkan lengan Arga yang berada tepat di depan bibir Puspa.
Arga menoleh pada Puspa dengan tatapan amarah.
"Beraninya kau. Bosan hidup?!"
"Apa maksudmu?" Sahut Ilham dengan bentakan.
"Sudah ku katakan dia milikku, Bodoh!!"
'Bugh'
Satu pukulan hangat mampir di muka Ilham hingga ia tersungkur.
"Aarrrggghh Hentikaaannn" Puspa mencoba melerai. Ia memegangi lengan Arga. Namun na'as, Arga yang sudah di kuasai amarah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia tidak sengaja menghempaskan tangan Puspa yang terus menahannya untuk memukul Ilham hingga tangan Arga menghantam perut Puspa. Puspa meringis menahan sakit di perutnya.
Puspa langsung melepas pegangannya, Dan Arga langsung melayangkan pukulan lagi pada Ilham.
Puspa di bantu berdiri oleh 2 pengunjung wanita yang lain
"Kau tidak apa-apa?" Puspa tidak menjawab karena sakit di perutnya.
"Apakah aku akan mati. Sakit..." Puspa memegangi perutnya.
"Ya tuhan.. Berdarah..."
"Aku datang bulan.. Sshhhh"
"Ayo kita ke rumah sakit."
"Tidak. Aku tidak mau."
Masih sempat Puspa memikirkan biaya ke Rumah sakit.
"Antarkan aku ke toilet." 2 Wanita itu mengangguk sambil mengambil pembalut yang jatuh di bawah. Mereka membantu Puspa berdiri.
🍀🍀🍀
10 menit kemudian
'Krieeett ' Pintu toilet terbuka
__ADS_1
Arga langsung menghampiri Puspa yang berjalan tertatih.
"Sudah selesai bertengkarnya?" Puspa tersenyum mengejek
"Puspa.. Kau.. Maafkan aku.. Ayo ke Rumah sakit. Kita periksa kondisimu dulu" Arga panik. Hatinya di penuhi rasa bersalah.
Puspa menatap Tubuh Arga dari bawah sampai ke atas.
Acak-acakan. Ada beberapa lebam dan sudut bibir yang berdarah.
"Bibirmu terluka" Puspa mendekat pada Arga.
"Seperti brandalan" Arga terdiam.
Puspa melangkah pelan meninggalkan Arga yang mematung.
Puspa memegangi perutnya yang masih kram dan juga nyeri.
"Ku kira aku langsung akan mati tadi. Jadi aku bisa berkumpul dengan Ibu dan Joni" Gumam Puspa.
Puspa terbelalak saat tubuhnya di angkat. Ia melihat siapa yang menggendongnya.
"Tuan.." Lirih Puspa.
"Mau di maafkan atau tidak. Aku akan tetap bertanggung jawab"
"Tapi.."
"Diam atau ku bunuh" Seketika nyali Puspa menciut.
Tentu ia lebih sayang nyawanya dan memilih diam. Saat melewati parkiran, para pengunjung berbisik-bisik dan juga ada yang berdehem melihat Arga yang mnggendong Puspa.
"Ini.. Tempat umum" Puspa malu. Ia menundukkan wajahnya.
"Anggap hanya ada kita berdua" Ucap Arga dengan enteng
"Dasar gila" Bathin Puspa.
"Dimana Ilham" Tanya Puspa yang masih di dalam gendongan Arga
"Sedang di bawa ke rumah sakit"
"Kau menghajaranya habis-habisan?" Puspa tidak habis fikir
"Sedikit. Tidak membunuhnya adalah sesuatu yang langka" Arga mendudukkan Puspa di kursi mobil.
"Kau benar - benar gila..." Umpat Puspa
"Ini di sebabkan olehmu" Arga masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
Puspa membulatkan matanya.
__ADS_1
"Gara-gara aku ya.." Puspa diam seribu bahasa. Ia memainkan ujung jarinya. Menahan buliran bening yang mau keluar dari matanya.