
Puspa menarik lengan Elisa dan pergi dari tempat baju itu. Elisa menghentikan langkahnya dan spontan Puspa ikut berhenti.
"Stop Puspa.. Kau mau jalan kemana lagi? Itu tembok loh." Puspa menyisir tempat itu menggunakan matanya. Ia menghela nafas.
"Maaf " Ucap Puspa lirih dengan pandangan menunduk.
"Pulang nanti aku minta jawaban. Sekarang kita lanjutkan shoping. Yuk ke tempat tas saja" Puspa mengangguk.
Hatinya masih bersedih
"Tunggu.. Apa yang membuatku sedih? Harusnya kau senang Puspa bisa terbebas dari majikan sepertinya. Aargghh entahlah ribet" Puspa berdecak sebal.
2 jam berlalu... Puspa dan Elisa sudah selesai berbelanja. Tapi Puspa sama sekali tidak membeli apapun
"Yakin tidak mau beli sesuatu?" Tanya Elisa saat masuk ke mobil
"Iya. Mood ku sedang tidak baik" Jawab Puspa sambil memasang sabuk pengaman
"Jawablah aku. Apa maksudnya si tampan berkata seperti itu?" Elisa memasang wajah serius.
Puspa menunduk..
"Aku.. Aku berhenti bekerja." Puspa menatap arah luar jendela mobil.
__ADS_1
Elisa melajukan mobilnya dengan kecepatan lamban😂 Alasannya menikmati suasana jalan raya yang agak sepi.
"Berhenti? Ceritakan"
"Huffftt ada sesuatu El. Aku memutuskan berhenti bekerja disana.. Karena Bla bla bla....." Puspa menceritakan itu di sertai tangan yang gemetar
"Emm berarti Si tampan menganggap serius apa yang kau katakan?" Puspa mengangguk.
"Lagipula untuk apa kamu mengatakan seperti itu sih Puspa." Elisa ikut kesal
"Huuffttt dia selalu mengancam ini itu jika aku tidak menurut, El. Tapi untuk hal ini aku tidak bisa lagi karena itu menyangkut harga diriku. Dan Tuan Muda... Dia tidak pernah membelaku selama ini, Hanya satu kali dia membelaku saat Nyonya mau menamparku dan itulah hari terakhir aku disana" Puspa mengingat Arga yang menangkis tamparan yang mau layangkan pada wajah Puspa oleh Mama Arga.
Tanpa Puspa sadari selama ini Arga sendiri sering membelanya tanpa sepengetahuan Puspa. Bagi Puspa, Arga hanya membelanya satu kali saja.
"Hmmm Bagaimana kabar Bapakmu dan Istrinya?" Elisa mencairkan suasana yang hening itu.
"Bapak ya? Entahlah. Mungkin dia sudah bahagia bersama Rina. Bapak juga tidak menjengukku walau sekali. Apalagi setelah kejadian resepsi itu, aku los kontak"
"Tapi Puspa.. Tindakan yang di lakukan si tampan itu menurutku dia membelamu loh. Seperti suatu bentuk kepedulian."
Mata Puspa membulat sempurna.
"Apalagi sampai ayah Rina itu kehilangan pekerjaannya. Uwu tau" Imbuh Elisa
__ADS_1
Puspa mengerjapkan matanya.. Iya, dia baru sadar jika Arga menolongnya ketika malam itu bisa di sebut suatu kepedulian.
"Elisa.. Menurutmu aku harus bagaimana? Aku bingung"
"Apa yang kau bingungkan? Harusnya sebelum memutuskan sesuatu kau harus tau konsekuensinya" Ucap Elisa bijak
"Aku.. Kelepasan." Puspa menunduk.
"Sekarang aku tidak punya pekerjaan lagi.. Ya walau biaya sekolah sudah lunas, kehidupan ku bagaimana ya."
"Sudah ku katakan, Tinggallah di rumahku Puspa." Elisa memutar mata bosan
"Dan sudah ku katakan aku tidak mau jadi benalu." Elisa menghela nafas kasar.
Hening kembali menguasai suasana dalam mobil. Hingga Mobil berhenti di depan rumah Puspa.
"Malam ini aku menginap dirumahmu" Ucap Elisa tersenyum
"Eh kau kan belum izin pada orang tuamu?"
"Masalah kecil. Yuk ah bantu aku mengangkat belanjaan" Elisa keluar dari mobil dan di ikuti Puspa.
"Kau ini, El. Belanja sangat banyak. Wkwkwk " Puspa tidak habis fikir, masih SMA tapi belanjaan Elisa sudah seperti wanita-wanita dewasa yang suka memborong.
__ADS_1
"Wkwkwk ... " Elisa hanya tertawa kecil.